Setia Dalam Luka (Pengkhianatan)

Setia Dalam Luka (Pengkhianatan)
Membawa Ayah ke kota


__ADS_3

Diam dalam luka (pengkhianatan) #part5


Sesampainya didesa, Adiba dan semua sangat terkejut karna melihat sebuah mobil Ambulance terparkir dihalaman panti lebih tepatnya didepan bangunan yang dihuni Ayah,Bunda dan Meisya adik Adiba.


Adiba langsung membuka pintu mobil dengan buru-buru,ntah fikirannya sudah tak menentu, campur aduk.


'ada apa gerangan, siapa yang sakit'batin Adiba.


Ketika Jhon memarkirkan asal mobilnya.


"Pelan-pelan Adib"pekik Jhon terkejut.


Adiba tidak menghiraukan seruan Jhon, Ia pun langsung berlari menuju rumah bunda,ternyata pintu tidak dikunci,tanpa mengucapkan salam Adiba langsung masuk dan menuju kamar Bunda yang tampak terbuka lebar, dan ada beberapa pengurus Ambulance masih disitu dan menuju keluar dari kamar.


"Terimakasih ya Mas sudah mau mengantar suami saya"ucap Bunda sopan pada pengurus ambulance.


"Sama-sama Buk, itu sudah menjadi tugas kami, kalo begitu kami permisi buk"ucap mereka sambil berkemas.


"Minum-minum teh dulu Mas! "tawar Bunda.


"Oh terimakasih,kami buru-buru ada pasien yang harus kami antar kerumah sakit kota buk hari ini! "tolak mereka sopan.


"Oo baiklah, terimakasih.Hati-hati dijalan"ucap Bunda


Mereka pun menuju keluar, Adiba langsung menghambur ke arah Bunda Aisyah, sambil memekik.


"Bundaaaaa...... "ucapku langsung memeluk bunda yang masih terkejut dengan kehadiranku dan membalas pelukanku dan membelai pucuk kepalaku.


"Ya ALLAH sayang Bunda masuk gak pake salam ya, kok bunda gak denger ya? "Bunda terlonjak kaget sambil membingkai wajahku dengan kedua tangannya.


"Assalamualaikum Bunda...?"ucapku sambil tersenyum.


"Nah gitu donk, Wa'alaikumsalam...!"jawab bunda sambil mengecup pucuk kepala Adiba. Adiba langsung berpaling kearah Ayah.


"Ayah bun....? "

__ADS_1


"2hari yang lalu Ayah berniat ingin pergi kekota, untuk membeli sesuatu.sekaligus ingin mengunjungi putri sulungnya ini, tapi naas Ayah mengalami kecelakaan tunggal,warga sekitar menolong ayah dan mengantarkan ayah sampai rumah memakai Ambulance pukesmas terdekat hari ini, setelah ayah dirawat 2hari disana! "ucap bunda memahami kekhawatiranku.


"Assalamualaikum....? "ucap Jhon dan Wina serempak, Adiba dan Bunda melihat arah pintu, dan mereka mencium punggung tangan bunda dengan takzim. Bunda melihatku, tatapannya netranya seolah bertanya siapa gerangan seorang pria yang ikut dengan Adiba. Aku yang memahami tatapan bunda dan berkata.


"Bun, kenali ini....! "ucapanku terputus


"Uhuk... uhuk.... uhuk.... !"tiba-tiba ayah terbangun dan terbatuk, aku dan bunda membantu ayah duduk dan Meisya segera kebelakang ngambil air putih dan sebuah ember kecil, aku sedikit heran dengan embernya dan.... "Hueeeek.. hueeekkk, sooorrrrr! "ayah muntah-muntah


Seketika mata kami semua terbelalak melihat ayah muntah darah segar.


"Ayah, astaghfirullahalazdim.... !"ucapku kaget sambil menutup mulut dengan kedua tanganku. Kulihat Bang Jhon dengan sigap membantu ayah untuk tetap bertahan duduk.


"Bunda,Ayah kenapa begini? "tanyaku dengan rasa terkejut.


"Maaf buk, mari segera kita bawa Bapak kerumah sakit dikota, dengan mobil saya! "ucap bang Jhon tiba-tiba, Bunda hanya mengangguk tanda setuju.


"Adib, bantu teman kamu bawa Ayah ya, Bunda ingin mempersiapkan segala sesuatunya,Mey bantu Bunda ya"ucap Bunda datar dan dingin dengan mata sudah memerah dan berkaca menahan air matanya. Adiba dan Mey hanya mengangguk.


Setelah dirasa sudah siap dan lengkap semua, mobil itu pun melesat dengan cepat setelah berpamitan pada Wina dan pengurus panti yang lain.


Adiba duduk didepan,dengan fikiran kacaunya dengan sesekali menoleh kebelakang melihat keadaan Ayahnya. Sementara Bunda dan Meisya duduk dibelakang memangku Ayah.Ayah muntah sepanjang perjalanan.Bunda hanya membisikkan sesuatu ketelinga Ayah, Ayah hanya terlihat mengangguk disetiap penjelasan bunda, tak hentinya Bunda membimbing ayah mengucap lafadz ALLAH. Air mata tak bisa lagi terbendung. sepanjang perjalanan air mata terus keluar.


"Bang, gak bisa kecepatan ditambah lagi, aku khawatir ayah kenapa-kenapa.Bang Jhon hanya menggangguk dan mengintruksi kami semua agar memakai seftybell.


Kami pun sampai kerumah sakit Seger Waras dikota A, bang Jhon turun dan berlari-lari kecil menuju UGD, tak berapa lama bang Jhon keluar bersama 2perawat dan brankar, Ayah dikeluar dari mobil baju Ayah dan Bunda sudah penuh dengan muntahan darah segar. Kami segera mengikuti langkah perawat-perawat tersebut, hanya Bunda Aisyah yang diperbolehkan mendampingi Ayah. Adiba harap-harap cemas diluar, Meisya duduk diam seribu bahasa dia hanya memelukku erat dengan deraian air mata yang menganak sungai tak beda dengan ku. Bang Jhon duduk tepat disampingku, tiba-tiba "Sabar Adiba, ALLAH pasti akan melindungi ayah kamu, berdo'alah yang terbaik untuk kesembuhan ayah! "ucapnya sembari menggenggam tanganku erat-erat, ahk rasa itu sepertinya aku sangat mengenalnya, ya dulu aku mempunyai seorang teman yang usianya 6tahun diatasku, tapi suatu hari tiba-tiba mereka pindah kekota dan semenjak itu kami tidak pernah bertemu kembali, dia selalu ku panggil dengan sebutan bang Pras.Entah kemana dia sekarang,tiba-tiba Bunda membuyarkan ingatan masa laluku.


"Adiba,Meisya sayang sini, ayah mau bicara! "panggil bunda dari depan pintu ruangan UGD. Kami pun beranjak, bang Jhon melepaskan genggamannya. Bang Jhon berkata lirih pada dirinya sendiri


"Adib, ini bang Pras, apa kamu tidak bisa merasakan rasa dihati abang sejak dulu? "lalu beranjak menuju kantin rumah sakit.


*****


"Adiba, sekarang usia kamu sudah mau genap 20tahun,sebelum ayah pergi, ayah ingin kamu sudah menikah dengan lelaki yang bertanggung jawab dan bisa menjaga kamu !" ucap ayah parau


"Ayah, jangan ngomong macem-macem, kami semua hanya ingin ayah sembuh! " ucapku lalu menghambur kepelukan ayah.

__ADS_1


"Putri-putri Ayah sudah dewasa sekarang, Ayah gak apa-apa, Ayah hanya mendengarkan panggilan ALLAH SWT sayang.....! "ucap Ayah sambil membelai kepala kami berdua. Dikala kami sedang bersedih karna ucapan demi ucapan Ayah yang sudah merasa ingin meninggalkan kami, tiba-tiba Bang Jhon masuk keruangan.


"Ehm, maaf saya mengganggu, perawat bilang Bapak ingin dipindah keruangan inap !"ucap bang Jhon sambil membungkukkan badan lalu mendekati ku.


"Adiba, ini makanan untuk semua.Sudah malam,alangkah baiknya ajak adik dan Ibumu makan dan istirahat,Abang akan cari alas untuk yang menjaga bapak dalam ruangan,kamu dan adik kamu akan Abang carikan penginapan dekat-dekat sini! "ucapnya lagi sambil menyodorkan 1kantong plastik besar berisi berbagai makanan dan camilan.


"Bang, tak perlu repot mencari penginapan, kami semua akan menunggu Ayah dalam ruangan Ayah nanti! "tolakku, aku hanya ingin menghabiskan waktuku bersama Ayah. Bang Jhon yang sudah melangkah jauh kepintu lalu menoleh sekilas lalu "Baiklah,Abang permisi dulu, Assalamualaikum...! "ucapnya sambil mbungkukkan tubuhnya ke arah Ayah dan Bunda.


Kami mengikuti langkah perawat menuju ruangan inap Ayah, yang ku kira ayah akan dimasukkan keruangan inap kelas 3 seperti yang tertera dalam kartu BPJS Ayah, tapi kami dibawa masuk keruangan VIP. Bunda tampak kebingungan lalu menaikkan kedua bahu nya kearahku, aku hanya menggelengkan tanganku lalu,


"Bang Jhon semua yang urus Bun! "Bunda hanya menggangguk tanda mengerti, Aku liat Bunda berusaha tegar didepanku dan Meisya, aku yakin hati Bunda juga serapuh kami. Setelah semua beres kami pun menyantap makanan yang diberikan Bang Jhon tadi. Selesai makan aku keluar ruangan sebentar, aku masih mutar otak bagaimana caranya mencari biaya rumah sakit Ayah, tabunganku sudah pasti tidak cukup.Ahk aku sudah menemukan ide, aku akan kasbon pada Bang Jhon dan nantinya tinggal dipotong saat aku gajian, ya seorang Adiba harus cerdas.


"Aaaahkk, kenapa dalam keadaan seperti Ayah mikir yang aneh-aneh sih, mana mungkin Aku bisa menemukan laki-laki secepat ini"ucap Adiba frustasi sambil menggulung-gulung ujung jilbab segiempatnya, tampak raut wajah kacaunya, tak ubah seperti penampilannya sekarang.


Dan Adiba baru tersadar jika baju-baju gantinya berada ditas yang sama dengan Wina.


Dalam kekalutannya, Adiba hanya bisa menangis dan berdo'a yang terbaik untuk kesembuhan Ayah Abi, sambil menekukkan kedua kakinya dan melipat kedua tangannya menenggelamkan wajahnya, menangis sepuasnya. Adiba hampir saja terpekik ketika sebuah tangan menyentuh bahunya lembut.


"Adiba ada Abang disini...?"suara itu begitu lirih dan mengingatkan pada seseorang.


"Bang Pras"ucap Adiba lirih nyaris tidak terdengar oleh siapapun, Adiba mengangkat kepalanya perlahan dan mendapati sosok yang tak lain adalah Jhon. Adiba mengerjap sekali lagi, memastikan jika tadi benar-benar Pras, tapi sungguh dia kecewa yang berada dihadapannya tetap Bosnya tempat dia bekerja.


"Optimis saja dan selalu berdo'a"ucap Jhon lalu menjatuhkan bobotnya disamping Adiba. Adiba hanya mengangguk dan menutup wajah kacaunya dengan kedua telapak tangannya.


"Tetap cantik kok, gak perlu ditutupi"kata Jhon sambil menarik tangan Adiba, dan menggenggamnya erat.


"Adib lagi sedih bang, Adib bingung, kacau, jangan gombali Adib, gak ngaruh"


"Adib juga tau kalo Adib itu emang cantik dari sananya,"sambungnya lagi sambil terkekeh tapi air mata terus berlinang.


Jhon hanya terkekeh kecil dan merasakan pilu, melihat Adiba sebegitu kacaunya saat ini.


"Istirahatlah"


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2