Setia Dalam Luka (Pengkhianatan)

Setia Dalam Luka (Pengkhianatan)
Rudi Hartono membuat ulah


__ADS_3

Diam dalam luka (Pengkhianatan) #part9


"Bosen gue,wajah lu mulu yang gue liat dari jamannya kuliah sampe sekarang, Papi sih pake merekrut lu segala diperusahaannya! "


"Bodo amat....! "ucapnya sewot sambil menimpuk kepalaku menggunakan buku yang dipegangnya


"Gak sopan sama Bos lu ya Den, gue pecat baru tau! "ancamku


"Hahahaaa bodo amat Pras, gue kagak takut...! "ucapnya lalu melengos berpindah tempat.


"Den, Adib kemana sih...? "


"Tu ada didepan lagi nyusun barang yang abis...! "tunjuknya kearah dekat kasir,lalu aku pun melangkahkan kakiku kearah yang ditunjuk Deni. Lagi dan lagi, kenapa karyawan baru itu betah amat dekat Adiba ku, aku langsung menarik tangan Adiba menjauhi Bayu menuju keluar swalayan.


"Jhon belum jam istirahat, kalian mau kemana? "teriak Rachel


"Mau kencan... !"ucapku asal yang membuat bibir Rachel maju 10centi dan wajahnya Omegot, kayak Singa siap menerkam mangsanya.


"Apaan sih Bang, Adib masih kerja! "


"Abang Bosnya Adib, kamu ikut Bang Jhon ngecek Swalayan diblok A dan blok C, rencana Adib akan Abang pindahkan kesana, biar Adib tidak diganggu Rachel lagi(lebih Bayu dan Deni) ucapku dalam hati! "jelasku, Adiba hanya melongo dan mulutnya Masya allah, rasanya aku ingin mengecup bibirnya, gemes sekali liat wajah kagetnya itu.

__ADS_1


"Abang tau darimana kalo Kak Rachel ganggu Adib, bukannya Adib belum ada cerita?"tanyanya lagi, gemes dalam keadaan seperti ini pun dia tetap keliatan cantik, bahkan cantik banget.


"Tetap Cantik "gumamku tanpa sadar


"Abang ngomong apa sih,gak nyambung! " ucap Adiba sambil menyenggol bahuku dan duduk disampingku.


"Ehm, Oo itu ah sudahlah, tu supir Abang sudah datang, ayuk...! " jawabku mengalihkan pembicaraan kami lalu menarik tangan Adiba lagi menuju mobil, Adib hanya menurut aja.


"Kita mau ke Blok A dulu atau C dulu Den Pra..... ?"tanya Pak Darwan


"Jhon mau keBlok A dulu Pak! "potong ku sebelum Pak Darwan menyebut nama Pras.


"Oo baiklah Den..! "ucapnya perlahan melajukan mobil yang kami tumpangi, kulihat sesekali Pak Darwan melirik Adib dari spion kecil didepan nya.


"Bule yang buat Den Muda Adem panas ya? "ucapnya lagi,Adiba langsung melihatku, netranya menandakan banyak seribu pertanyaan.


"Adem panas kenapa Pak kalo Adib boleh tau? "tanyanya, aduh mungkin wajahku sekarang sudah merah seperti kepiting rebus, malu mencintai Adiba dalam diam, dan Adiba tau dari Pak Darwan.


"Biasa Non, Anak muda...! "ucap Pak Darwan lalu terkekeh.


"Pak Darwan hanya bercanda Dib...! "jelasku

__ADS_1


"Abang hutang penjelasan sama Adib, lain waktu harus Abang jelasin ke Adib, Oy Bang kita lama gak perginya, Adib mau kerumah sakit jenguk Ayah, kata Bunda,Ayah tadi subuh sudah siuman! "ucapnya lagi. Alhamdulillah Adib tidak membahas itu lagi.


"Kita hanya sebentar, abis mengecek laporan dan mengambil beberapa laporan kita langsung pulang, Abang akan memeriksanya dirumah, syukurlah jika Ayah sudah siuman, sepulangnya dari Swalayan kita langsung kerumah sakit! "ucapku lagi


"Terimakasih Bang, jika Abang telat menolong Ayah, mungkin saat ini ntah bagaimana kondisi Ayah! "


"Sudah sebaiknya kita sesama manusia saling menolong Adiba, sudah jangan terlalu kamu fikirkan semua itu, yang terpenting sekarang Ayah sudah baik-baik saja, masalah biaya, bukannya sudah pernah kita bahas, untuk saat ini fokuslah bekerja..!"ucapku sok bijaksana, didepan Adiba aku harus terlihat perfect sebagai lelaki. Ahk kamu emang tiada duanya Jhony Prakoso,aku hanya tersenyum miring.


Adiba hanya memandang jauh keluar jendela, entah apa yang ada dalam fikirannya, dan aku pun tidak ingin mengganggu nya, tapi hasrat ingin bertanya ini tak bisa dibendung dan terlontar begitu saja.


"Adiba, apakah kamu sudah punya pacar? " aduh aku menepuk sendiri mulutku, lalu aku melirik kedepan pak Darwan terkekeh melihat tingkah aneh ku yang tiba-tiba seperti ini. Tapi lihat lah Adiba ku tidak mengucapkan satu kata pun, dia hanya mengelengkan kepalanya kekanan dan kekiri, lalu dia mengambil dompetnya, membukanya sekilas lalu menutupnya kembali, astaga jiwa kepo ku ini meronta-ronta, apa sih yang dilihat Adiba lalu dia tampak murung dan meneteskan air mata. Tanganku pun terangkat ingin mengusap pucuk kepalanya. Agar dia lebih tenang.


"Eheeemm! " pak Darwan sengaja mendehem, aku pun mengurungkan niatku beralih pandang ke arah pak Darwan, Pak Darwan hanya menggoyangkan jari telunjuknya kekanan dan ke kiri.


"Belum halal Den! " ujarnya lagi yang membuat Adiba membuka matanya lalu menghapus buliran kristal itu dan menoleh padaku, dengan tatapan mengintimidasi, aku hanya menggeleng pelan sambil memamerkan deretan gigiku yang putih. Adiba menatapku lama, seperti memperhatikan wajahku, tak lama dia pun menggeleng pelan dan membuang pandangannya kembali keluar jendela.


'Ada apa dengan wajahku ya' ucapku dalam hati dan menelisik nya melalui kaca spion didepan.


Pak Darwan hanya terkekeh. Tak lama pun kami sampai pada tujuan, diswalayan papi.Tapi ada yang aneh, terlihat sepi dan bangunan terlihat kusam.Setelah aku masuk, terlihat beberapa stand yang kosong, ada apa ini?


Langkah kaki ini terus membawaku keruangan tangan kanan Papi, yaitu pak Rudi hartono. Sesaat aku akan mengetuk pintu, terdengar suara ******* yang sangat menjijikkan, aku pun urung mengetuknya tapi lebih memilih menutup kedua telinga Adiba yang menatap heran padaku.

__ADS_1


"Pak,ajak Adiba kedepan saja, belikan minuman dan camilan, aku ada urusan dengan bedebah didalam! "titahku pada pak Darwan, pak Darwan mengangguk mengerti, karna pak Darwan juga mendengar ******* itu.


__ADS_2