
Diam dalam luka (Pengkhianatan) #part2
Adiba semakin mendekatkan telinganya kepintu kamar bekas mertuanya,ya suara ******* itu semakin terdengar. Suara seorang wanita, tapi siapa?
"Kurang ajar,siapa yang berani berzina dirumahku?"batin Adiba, ingin melihat tapi saat ini Adiba sedang menggendong Kezia yang sedang terlelap,Wina sudah berangkat kerja sejak pagi bersama Deni,jadi Adiba mengurus sikembar sendiri,bik Asih juga sudah kerja kerumah tetangga,Adiba sudah tidak sanggup menggaji mereka.Adiba membaringkan Kezia didekat kakak-kakaknya dikamar yang mereka tempati bersama Mami Indah.
Mami Indah tampak terlelap setelah Adiba memberinya obat tidur,jika tidak, Mami Indah tidak akan bisa tidur dan berteriak-teriak histeris.
"Mami jaga sikembar dulu sebentar ya,Adib ada urusan, sebentar saja."ijin Adiba meskipun tidak ada respon apa-apa dari Indah karena dia sedang terlelap,Adiba mengecup kening sikembar satu persatu lalu mertuanya.Adiba melangkahkan kembali kakinya menuju kamar bekas mertuanya dibawah.
Setelah didepan pintu kamar tersebut Adiba sedikit merasa takut.Adiba mendorong pelan pintu tersebut.
"Gak dikunci"batin Adiba,ia pun melanjutkan membuka pintu tersebut lebar-lebar secara perlahan,saat pintu sudah terbuka lebar betapa terkejutnya Adiba,matanya terbelalak,kakinya membeku,dadanya seperti mau meledak menahan amarah dan emosi yang memuncak.Dua orang sedang bergumul dan mendesah disana,karena begitu asyiknya sehingga mereka tidak menyadari ada orang lain disana.
Pras dan Marisa,ya dua orang tidak tahu diri itu sedang bergumul layaknya suami istri.
Adiba tersenyum,lalu menggeleng kan kepalanya,dari otak memerintahkannya untuk sedih,namun hati melawan.
'Prok prok prok prok'
Adiba bersedekap,lalu menyandarkan tubuhnya dipintu agar tidak oleng,walau bagaimana pun hatinya sangat sakit dikhianati oleh suaminya,6tahun pernikahan mereka.Pras dan Marisa menoleh melihat siapa disana.Betapa terperanjatnya Pras mendapati Adiba yang sedang berdiri disana yang memergokinya tanpa sehelai benangpun bersama wanita lain.Berbeda dengan Marisa,dia menyeringai merasa menang dan puas.
"Sayang,Abang bisa jelasin ini tidak.... "Pras berusaha membela diri,namun Adiba memberikan isyarat agar Pras diam.Pras segera memunguti pakaiannya dan mengenakannya.
"Tidak perlu dijelaskan,Aku hanya mau bilang,jika ingin berzina atau berbuat maksiat jangan dirumah ini,silahkan pergi"usir Adiba,setelah itu dia melangkahkan kakinya pergi dari sana.Beberapa bulir air mata lolos dari netranya.Munafik jika tidak sakit.
'Ceklek,ceklek'
Adiba mengunci pintu kamar.
"Mom,sayang"panggil Pras dari luar.
Flashback 7tahun yang lalu.
Awal pertemuan setelah berpisah 10tahun.
"Bun hari ini Adiba pamit mau kekota ya bun "Pamitku pada bunda.Ya bunda Ais segalanya bagiku, karna sampai detik ini aku belum mengenal atau bahkan bertemu satu kalipun dengan kedua orang tua kandungku,yang tega membuangku dipanti asuhan Kasih Bunda ini. Sesuai dengan namanya, meskipun aku besar dipanti asuhan, aku mendapatkan kasih sayang seorang ibu dan ayah, mereka adalah pengurus panti ini, Bunda Aisyah dan Ayah Abidzar.
" Adiba yakin mau kerja kekota ? Bunda khawatir karna kamu belum pernah Bunda lepaskan seorang diri, kamu aja gak bisa jauh-jauh dari bunda kalo tidur " Jawab bunda sambil mengelus pucuk kepalaku, aku merasakan kasih sayang bunda sangat tulus.
" Yakin Bun, Insya Allah Adiba bisa kok Bun,Adiba kan gak sendirian, kan ada Wina juga bun "! ucapku meyakinkan bunda sambil memeluk bunda.
Akhirnya hari ini aku dan Wina berangkat kekota dengan menumpangi angkot,perjalanan kekota memakan waktu kurang lebih 3jam, jam sudah menunjukkan pukul 11siang,perut sudah terasa keroncongan "kruuuuuuukkk" suara dari perutku, seketika Aku dan Wina saling berpandangan dan " Haaaahaaaahaaa.......! " Kami tertawa bersama,tak terasa kami pun sampai pada tujuan kami, diswalayan yang membutuhkan tenaga kerja.
" Neng dah sampe nih, tu Swalayan Family yang Eneng maksud,dikota ini cuma ini swalayan Family ", Ucap pak Sopir lalu menepikan angkotnya tepat depan swalayan. Wina sudah turun duluan dan ketika aku turun " Braaaaaaaakkk, Jedug "
" Aaawwwwww" Teriakku seketika karna jidatku berciuman dengan pintu angkot, sekilas ku lihat seorang pria berlari mengejar seseorang, saat abis menabrakku dia hanya melihatku sekilas sambil menangkupkan tangannya lalu berlari kembali dan menghilang dibalik bangunan swalayan.
" Kamu gak apa-apakan Diba ?" Tanya Wina sambil memapahku ketempat duduk depan swalayan, Aku masih saja memegangi jidatku yang kepentok, lumayan sakit, mungkin juga memerah. Belum pernah dicium pacar eh malah angkot duluan yang nyium aku.
" Nih,minum dan wat ganjel perut laper !" Ucap Wina sambil menyodorkan sebotol minuman dan roti.
" Makasih ya Win, aku gak salah bersahabat sama kamu tau aja apa yang ku mau" Ucapku sambil menerima pemberiannya.Kami pun memgisi perut terlebih dahulu sebelum interview. Setelah itu kami pun masuk kesawalayan dan kami menemui kepala personalia yang akan memberikan kami tanya jawab dan yang memutuskan kami diterima kerja atau tidak. Dan Alhamdulillah kami diterima dan besok kami sudah boleh bekerja.
Lalu kami juga diantar salah satu karyawati yang bernama Jeni ketempat tinggal yang sudah disediakan pihak perusahaan, rumah kost-kostan,kami bebas pilih kamar yang mana aja, semua sudah ada fasilitasnya,sendiri-sendiri juga boleh. Tapi Aku dan Wina lebih memilih tetap sekamar,kami tidak bisa harus terpisah, hehe..
***
Malam ini adalah malam yang sulit bagi Adiba karna jauh dari Bunda.
Adiba sangat gelisah, guling sana guling sini, perdana tidur ditempat asing tanpa Bunda disampingnya,dan tiba-tiba..
__ADS_1
'buuugh' tangan Adiba mendarat dipunggung Wina tanpa sengaja.
"Aaawww Diba,apaan sih?sakit tau"ucap Wina sambil mengelus-ngelus punggungnya, Adiba hanya nyengir sambil ikutan ngusap-ngusap punggung Wina.
"Ada apa Diba, gelisah mulu? "
"Hmm, anu Win! "
"Anu apaan sih, ngomong yang jelas dong Diba! "
"Aku kangen sama Bunda Win, hehehe"Adiba nyengir
"Yaelah ngomong kek dari tadi, kan tinggal telfon aja pake hape aku Dib, nih"jawab Wina sambil menyodorkan hapenya dan memanyunkan bibirnya, gemes deh, tanpa sadar tangan Adiba langsung mencubit bibir manyun Wina.
"Ihk gemes deh kamu Win, sahabat aku yang paling manis dan pengertian, makasih ya sayang, emmuaach"ucap Adiba sambil mengecup pipi Wina.
"Ihk jijik tau Diba, aku masih normal,masih doyan cowok ganteng kali Diba"ucap Wina sambil misuh-misuh dan mengelap-ngelap pipinya.
"Abis kamu gemesi Win, ya udah aku pakai dulu hape kamu ya, tenang aja nanti kalo kita dah gajian aku akan beliin pulsa deh untuk kamu"
"Dah sana buruan ditelfon"
Adiba pun langsung mengetik no yang sudah dihafalnya luar kepala,lalu beberapa detik kemudian panggilan itu pun tersambung.
'tuuuut, tuuuut, tuuuut, tuuuut'
"Halo Assalamualaikum, ada apa Win? "ucap seseorang diseberang sana.
"Waalaikumsalam, ini Adib bun! "
"Oo,Ada apa sayang? "
"Cuma apa sayang, jangan buat Bunda khawatir dong! "terdengar suara khawatir Bunda diseberang sana.
"Heehee gak apa-apa Bun, Adib cuma dah kangen aja sama Bunda, Mey dan Ayah! "Adiba pun nyengir tanpa diketahui Bunda.
"Astaga bunda kira ada apa! "pekik Bunda dari seberang dengan raut kaget gemes pada Adiba.
Tanpa terasa hampir satu jam Adiba ngobrol dengan Bunda, bersenda gurau untuk mengungkapkan rasa rindu. Membahas ntah apa saja, yang di anggap Wina sebagai lagu pengantar tidur, Wina sudah mendengkur, Adiba hanya geleng-geleng kepala. Lalu menlanjutkan berceloteh ria bersama Bunda tercintanya.
Dan akhirnya Adiba merasakan sangat berat pada matanya, suara Bunda diseberang sana pun seperti lagu Nina bobo bagi Adiba, sehingga dia tidur dengan pulasnya tanpa mematikan sambungan telfonnya, Bunda yang menyadari karna Diba tidak berceloteh lagi sudah faham, jika anak sulungnya itu sudah terlelap lalu memutuskan sambungan telfon mereka, dan mendo'akan yang terbaik untuk sisulung.
'kriiiing kriiiiing'
'kriiing kriiiiing'
Alarm dihape Wina berdering, keduanya pun terlonjak kaget bersamaan. Lalu bersih-bersih dan bersiap melaksanakan sholat subuh.
Mereka terlalu bersemangat hari ini. Hari pertama kali kerja dan bertemu teman baru.
Wina dan Adiba pun hanya masak mie instan sebagai pengganjal perut dipagi hari ini.
"Dib kamu deg deg degan gak sih? "tanya Wina sambil menyantap mie instannya, Adiba hanya menganggukkan kepalanya.
"Kali aja ada cowok ganteng,ya minimal mirip Oppa Lee minho lah, atau boleh juga kalo Taehyung! "
"Mimpi, mengkhayal gak usah terlalu tinggi, ntar jatuh sakit tau. Lagian juga kamu tu mau cari jodoh apa mau kerja sih Win? "Adiba misuh-misuh
"Kalo bisa sekali dayung 2-3pulau terlampauin Diba, apa salahnya kalo ketemu jodoh disini Dib, orang kota"jawab Wina lagi
"Umur kita itu sudah 20 tahun kale Dib"sungut Wina
__ADS_1
"Tapi Win, kata orang kalo orang kota itu pergaulannya bebas, aku jadi takut dekat-dekat sama orang kota! "ucap Adiba, tampak raut wajah kekhawatiran nya.
"Ehm tergantung orang nya juga kali Dib, gak semua orang kota begitu"Adiba hanya mengangguk - ngangguk dan menyeruput teh hangatnya.
"Kamu liat gak kemaren sikasir, cantik dan modis banget ya Dib, kayak artis bening banget! "
"Ho-oh"Adiba memgangguk tanda setuju
"Nanti kalo kita sudah gajian, kita perawatan kesalon yuk Dib, biar bening kayak sikasir, hehe"
"Liat ntar deh Win, aku pengen bantu Ayah untuk sekolah Meisya, aku pengen Mey kuliah Win"Ucap Adiba dengan raut wajah sedih.
"Mungkin karna aku anak tunggal kali ya,jadi gak kefikiran kesitu, ya udah nanti kesalonnya pake duit aku aja Dib, duit kamu kirim deh untuk sekolah Meisya"
"Serius Win? "ucap Diba berbinar
"Ya iyalah, emang aku pernah bohong apa? "ucap Wina sambil menaik turunkan alisnya
"Ahk kamu emang sahabat terbaik aku Win, janji ya susah senang kita selalu bersama dan saling support ya? "ucap Adiba sambil memeluk erat sahabatnya semenjak duduk dibangku menengah pertama ini.
"Kalo ada maunya aja ngomong sahabat terbaik, ihk geli tau!"Wina menjitak kepala Adiba dengan sendok lalu melepaskan pelukan Adiba. Adiba bersungut-sungut bibirnya manyun maju hingga 5cm, hehe..
"Ingat, aku masih normal, huuss jauh-jauh sana! "ucap Wina sambil tangannya melambai-lambai seperti mengusir kucing, alih-alih Adiba marah dia justru semakin gencar ingin memeluk Wina. Keduanya pun asyik bercanda ria di waktu subuh, dan berhenti saat ada yang mengetuk pintu kamar mereka.
'tok tok tok'
'cekreek'
Seorang gadis sudah berdiri didepan pintu kamar mereka, masih dengan seragam tidurnya.
"Eh dah rapi aja kalian, ehm nama kalian siapa gue lupa"ucap nya to the point masih dengan raut wajah yang berantakan khas orang bangun tidur.
"Saya Adiba dan ini teman saya Wina kak"sahut Adiba dengan sopan.
"Ehm, ya Wina dan Adiba ya, gue Jeni, panggil aja Kak Jeni,kayaknya umur gue lebih tua dari kalian berdua! "
Adiba dan Wina hanya mengangguk.
"Oya, lu berdua nanti siap-siap mulai bekerja ya, kita masuk jam 7 dan toko buka jam 8,tugas lu berdua nanti akan di arahkan sama siDeni,sikepala gudang, ok?"
"Oo iya Kak, makasih ya kak"jawab Adiba dan Wina serempak.
"Oya, lu berdua belum dapet seragam ya? nanti aja deh, gue mau siap-siap dulu"ucapnya lalu berbalik menuju kekamarnya.
Wina merogoh saku celananya melihat jam berapa dihape nya, baru menunjukkan pukul 05:35 WIB.
"Kak Jeni cantik ya Dib? "gumam Wina sambil menjatuhkan bokongnya dikasur.
"Iya"
Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan jam kerja, Wina dan Adiba berangkat dengan perasaan gak karuan.Sesampainya diSwalayan mereka langsung bertanya pada kasir bertanya seperti arahan Jeni untuk mencari Deni sang kepala gudang.
"Ehm, kak kita mau cari Bang Deni, tadi kata kak Jeni suruh nemuin Bang Deni"tanya Adiba sopan pada sang kasir yang bernama Rachel terlihat pada papan namanya, Rachel melihat sekilas dan sedikit kaget lalu pura-pura fokus kembali kelayar komputernya.
"Ehm, lu karyawatn baru kemaren ya? "tanya Rachet dengan pandangan mengintimidasi keduanya, melihat dari ujung kaki hingga kepala. Wina Dan Adiba hanya mengangguk pelan.
"Lu berdua masuk aja kebelakang dari pintu sebelah kiri, nah dipojokan tu ada gudang, biasanya Deni ada disana"terangnya sambil menunjuk arah pintu.
"Terimakasih ya kak"Ucap Adiba yang hanya dijawab anggukan oleh Rachel. Adiba langsung menarik tangan Wina yang sedari tadi hanya melongo melihat Rachel.
Hari ini Adiba Dan Wina bekerja dengan suka cita, dengan hati-hati dan selalu ceria.
__ADS_1