Setia Dalam Luka (Pengkhianatan)

Setia Dalam Luka (Pengkhianatan)
Perkenalan, makan siang bersama


__ADS_3

Diam dalam luka (pengkhianatan) #part3


Hari terus berganti minggu dan minggu berganti bulan, hari ini tepat 1bulan kami bekerja diswalayan family, dan selama ini aku sering melihat pria yang menubrukku tempo hari saat aku baru tiba dikota ini. Setelah 1bulan bekerja disini dan sering melihat pria itu diswalayan ini dan sering mencuri pandang padaku, aku pun mencoba bertanya pada Leni dan siska teman 1shift. Aku berbeda shift dengan Wina, dia shift malam.


"Sis, kamu kenal gak sama cowok yang duduk dipojokan itu ?" Tanyaku pada siska sambil mengarahkan telunjukku kearah cowok itu berada dibalik kerudung segiempatku,Siska pun mengikuti arah telunjukku, dan...


"Oo, itu Bang Jhon,anak pak Prakoso pemilik swalayan ini, emang kenapa Diba ? Kamu naksir ya sama Bang Jhon! "Siska menjelaskan siapa sebenernya pria itu, yang ternyata pemilik swalayan ini, aku hanya ber "Oooo.... "sambil manggut-manggut.


"Jangan mimpi deh kamu Dib naksir bang Jhon, kasir kita siRachel yang modis dan goodlooking itu aja gak pernah dilirik sama bang jhon, padahal Rachel sering basa basi sama bang Jhon tapi dicueki mulu sama Bang Jhon, apalagi cuma kayak kita-kita gini, gak level kali Diba sama Bos kayak Bang Jhon!"Ucap Siska lagi.


"Bukan gitu siska sayang, aku cuma penasaran aja siapa dia, karna waktu aku baru tiba dikota ini, bang Jhon duluan yang menyapaku dengan cara menabrakku hingga aku berciuman dengan pintu angkot, ini !" Terangku sambil menunjukkan jidat bekas luka abis kejedot angkot.


"Ooooo, " Siska cuma melongo menatap jidatku dan merabanya lalu berkata "Jangan-jangan kalian jodoh Dib, bang Jhon tu cuek sama kayak kamu Dib, tu siDeni dari sejak kamu masuk kesini terus melirik kamu "Siska menunjuk Deni yang sedang menyusun barang-barang yang baru datang. Sebenernya Deni itu orangnya Ganteng, Wina dan kak Jeni suka mencuri-curi pandang pada Deni, tapi ntah mengapa tidak ada getaran sedikitpun jika bertemu Deni, biasa aja. Beda jika bertemu bang Jhon, saat aku kerja sering kulihat dari sudut mataku, kalau bang Jhon sering memperhatikanku. Bukannya memuji ya, seorang Adiba tu berkulit putih, rambut lurus pirang, hidung mancung, dan manik mataku berwarna biru dan hijau, tinggiku sekitar 168cm, cukup tinggi untuk ukuran seorang wanita, kata temen sekolah aku bule kesasar, dan pernah dipanggil guru BP waktu baru masuk SMA, dikira aku memakai soflens. Cita-citaku dulu menjadi pramugari tapi kenyataannya aku menjadi SPG swalayan, lumayan. Aku gak mau membebani Bunda Ais dan Ayah Abi lagi, mereka cukup sudah membebani mereka selama ini mengurusku dan membiayai pendidikkan ku sampai SMA, dan sekarang aku yang akan berbakti pada Bunda, bulan ini gaji pertamaku 1,5juta,tanpa sepengetahuan Bunda aku pernah ngambil no rekening Bank bunda dan bulan ini aku mengirim untuk adik-adik.Awalnya bunda marah, tapi setelah aku jelasi bunda akhirnya terima, bunda gak ingin aku mengirimkan gajiku, bunda ingin aku mengumpulkan gajiku untuk melanjutkan kuliah.


"Hey, melamun aja.... "Senggol Siska membuyarkan lamunanku. Aku hanya meringis, tubuh cekingku disenggol Siska yang seperti truck gandeng 3.


Aku masih salah tingkah, ku dapati dari sudut mataku kalo bang Jhon memperhatikanku. Aku terus sibuk bekerja menyusun semua barang-barang yang baru masuk kerak. Jarum jam menunjukkan pukul 12,saatnya makan siang. Aku pun bersiap-siap keluar untuk membeli makanan, tapi tiba-tiba didepan swalayan.


"Adiba.... !"Panggil seseorang, aku pun langsung menoleh kebelakang,aku hanya melihat Bang Jhon duduk dikursi yang berjejer didepan swalayan.


"Ahk mungkin aku salah dengar" Batinku lalu beranjak melangkah kerumah makan diseberang jalan depan swalayan, tapi "Adiba, tunggu... !"Suara itu lagi, akupun menoleh lagi dan apa aku tidak salah lihat, bang Jhon berlari kecil mengikuti langkahku, aku melongo tidak percaya, bang Jhon melambai-lambaikan tangannya diwajahku "Hai,kamu kenapa? "ucapnya


"Oo gak apa-apa kok bang, aku kira Hantu yang dari tadi manggil-manggil"Ucapku sekenanya


"Hah Hantu ganteng macem saya semua wanita pasti pengen jadi hantu kayak saya...! "ucapnya pede dengan tertawa kecil, ahk tampan sekali kamu Bang, buat hatiku menggelitik, tapi opss sadar Adiba, kalian beda kasta.


"Yuk, kamu mau beli nasikan? " Ucapnya sambil menggenggam tanganku, aku masih memandangi tanganku yang digenggam bang Jhon sambil mengikuti langkahnya,kami pun sampai dirumah makan, ahk mimpi apa aku tadi malam, bisa makan bersama dengan pangeran tampan, aku banyak diam saat kami makan bersama,bang Jhon juga hanya berkata seperlunya.Kami banyak diam sampai selesai makan dan kembali keswalayan.


Para karyawan lainnya menatap heran kepada kami.

__ADS_1


"Cieeee, cinta tak bertepuk sebelah tangan niee...!"Ledek Siska menoel daguku


"Apaan sih, kebetulan doang kok ketemu didepan rumah makan dan jalan bareng kesini kok" ucapku yang tak bisa menyembunyikan raut bahagiaku.


"Ih masa sih kebetulan terus kamu tu!"


"Udah deh Sis, ayok kerja, nanti Bang Deni marah loh kalo kita malah ngerumpi gini"jawab Adiba pelan.


Adiba merasa ingin menyusutkan badan saja dari tadi semenjak makan siang. Karna Rachel terus memandang tak suka padanya, lebih tepatnya Adiba ingin menghilang aja dulu untuk sementara waktu.


"Sis, kamu liat kak Rachel gak masih liati aku? "bisik Adiba pada Siska yang tangannya terus bekerja meskipun mulutnya terus berceloteh gak jelas.


Siska melirik dengam sudut matanya.


"Ehm, iya. Kamu hati-hati ya sama kasir galak itu, Dia tu deket banget sama Banh Jhon. Bang Deni, Kak Rachel dan Bang Jhon tu kayak akrab banget deh"terang Siska tanpa menoleh dan sedikit berbisik.


"Ho-oh, buktinya Kak Rachel panggil Bang Jhon gak pake embel Bang atau pak gitu kok, bahkan mereka bertiga kadang sering ngumpul diruangan Bang Jhon!"


Adiba hanya mengangguk tanda mengerti. Tiba-tiba saja Siska menyenggol lengan Adiba dan sudut matanya mengisyaratkan agar Adiba melihat kedepan. Tampak Rachel dan Jhon saling bercerita.Ntah apa yang mereka bicarakan, tapi Adiba bisa menangkap tatapan kemenangan dan mengejek dari mata Rachel yang ssdikit-sedikit melirik ke arah Adiba.


Adiba memilih segera mengerjakan pekerjaannya dan beralih kebelakang melayani pelanggan yang bingung mencari barang yang dicarinya.


Hari ini begitu melelahkan, Adiba memandang tangannya kembali dimana tadi sang Bos mengenggam tangan itu.


Tanpa Adiba sadari, disudut yang berbeda ada sepasang mata yang memandangnya berbinar dan bibirnya tertular tersenyum melihat senyum Adiba. Bahagia itulah yang dirasakan seseorang disudut sana.


"Woi, senyum-senyum sendiri kamu kesambet apa Diba? "Wina yang tiba-tiba nongol dan memegang bahu Adiba, sehingga Adiba terlonjak kaget.


"Astagfirullahal'azdim Winaa! "seru Diba sambil memegang dadanya yang sebelah kiri, sementara tangannya yang bebas langsung menjitak kepala Wina, Wina hanya menunjukan deretan giginya yang putih rapi dan bersih.

__ADS_1


"Kamu sih aneh, senyum-senyum sendiri, disudut belakang gini lagi, kan serem Diba! "pekik Wina sambil melotot ke arah Diba.


"Ih biasa aja kali Win, kamu kok udah disini aja, emang dah jam berapa sekarang sih? "tanya Adiba, Wina menunjuk ke arah dinding, dan astaga ternyata sudah jam setengah 6 sore, pantes aja Wina dah disni, sudah masuk shift sore-malam.


"Andai kita terus satu shift, kan seru ya Dib? "oceh Wina sambil melanjutkan pekerjaan Adiba yang melengketkan bandrol harga dengan sesuai barangnya.


"Ho-oh"Adiba mengangguk tanda setuju.


"Yang ada kalo kalian berdua satu shift, kerjaan lu berdua gak kelar-kelar,ngerumpi mulu! "sahut Rachel tiba-tiba menghampiri mereka. Wina hanya memutarkan bola matanya sambil melengos tanpa menatap Rachel, sebel melihat Rachel.


"Jabatan hanya kasir tapi berlagak seperti bos"batin Wina


"Lu ngapai masih disini, bukannya lu seharusnya dah balik ya, sapa nama lu? "tunjuk Rachel ke arah Adiba.


"Adiba kak"jawab Adiba tanpa berani menatap Rachel.


"Balik sana, yang ada lu nanti ngajak temen lu ni ngerumpi terus, kerjaan gak ada yang beres! "ucap Rachel lagi sambil bersedekap didada, seseorang disudut sama merasa disenang melihat sikap Rachel seperti itu kepada Adiba. Adiba hanya mengangguk lalu menuju ruang ganti karyawan untuk mengambil tas dan baju gantinya.


"Win, aku duluan ya, ntar malem aku jemput ya? "ucap Adiba menghampiri Wina.


"Gak usah Diba, aku nanti bareng Leni dan kak Jeni aja deh"


"Ehm ya udah, bye.. "sahut Adiba melambaikan tangannya.


Sesampainya dikost Adiba membersihkan diri dan sholat magrib, setelah itu Adiba pun telah larut ke alam mimpi dan terkejut saat Wina mengetuk-ngetuk pintu untuk masuk, Adiba pun teringat belum melaksanakan sholat Isya lanjut sholat tahajud, dan mereka pun terbuai lagi dalam alam mimpinya.


Jika Wina memimpikan Taehyung, beda dengan Adiba, dia bermimpi tidur dalam pelukan seorang wanita bermata persis sepertinya. Mengusap pucuk kepalanya demgan penuh kasih sayang, dah disana Adiba bisa melihat Ayah Abi bersama nya, tapi kemana Bunda dan Mey. Tatapan Ayah sangat sedih dan mencoba meraih tangan wanita yang memeluk Adiba, namun semua sia-sia karna tiba-tiba Ayah menangis sesenggukan dan jatuh kelantai,Adiba lari mengahampiri Ayahnya,sambil memekik.


"Ayaaaah... "pekik Adiba lalu tersadar dari tidurnya, lalu Adiba hanya beristigfhar sebanyak mungkin dan melanjutkan tidurnya kembali.

__ADS_1


__ADS_2