
Diam dalam luka (pengkhianatan) #part4
Sejak kejadian makan siang bareng dengan bang Jhon kala itu, Adiba dan Jhon semakin akrab, bahkan kadang Jhon tidak sungkan lagi mengajak Adiba pergi jalan-jalan saat jam kerja dan mnegecek keswalayan yang lain, sehingga para karyawan lainnya pada ngiri. Teruma Rachel yang memang dari awal tidak menyukai Adiba. Karna menurut Rachel Adiba itu seperti virus cepat menyebar kemana-mana, semua karyawan diswalayan ini selalu membicarakan Adiba dan Adiba terus, sehingga Rachel merasa muak dan membenci Adiba tanpa sebab yang pasti, yang jelasnya Rachel tidak rela melihat Jhon sang pujaan hati terlalu intim bersama Adiba.
*****
"Jhon lu terlalu berlebihan deh sama karyawan baru itu, pake sering ngajak makan bareng gitu"ucap Rachel diruangan Jhon.
"Emang kenapa siChel, kok lu yang sewot banget"jawab Jhon tanpa menatap Rachel dan tetap fokus dengan gawainya.
"Nanti kalo lu terlalu deket sama perempuan itu, yang ada dia ngelunjak"ucap Rachel lagi berapi-api penuh emosi, apalagi melihat lawan bicara nya tidak merespon apapun hanya datar saja jawabannya.
"Adiba,nama nya Chel"ucapnya lagi datar tanpa ekspresi yang membuat Rachet tambah emosi.
"Ahk sudahlah, lu gak bisa dibilangi, awas aja terjadi sesuatu yang gak diingin, jangan nyesel lu Jhon, gue peduli sama lu karna gue sayang sama lu dan perusahaan ini"sewot Rachel lalu melangkah keluar ruangan Jhon hanya menggendikan bahunya tanpa menoleh.
*****
"Bang, apa smua ini tidak berlebihan,aku gak enak sama karyawan lainnya bang? "ucapku disaat bang Jhon memberiku sebuah Handphone android keluaran terbaru bergambar apel yang sudah digigit tikus. Bang Jhon hanya tersenyum.
"Biar abang mudah menghubungi kamu Diba, setiap abang mau tidur, abang bisa mendengar suara kamu dan melihat foto kamu !"goda bang Jhon tanpa menatapku, dia tetap memandang lurus kearah danau.Aku hanya diam menatapnya, tampan sekali dan sungguh berkharisma, selama ini aku belum pernah duduk sedekat ini dengan lelaki, karna aku takut ada setan diantara kami, aku tak ingin mengecewakan Bunda dan Ayah.
"Jangan terlalu lama memandangi Abang, abang tau kalau abang tampan, bisa-bisa kamu nanti jatuh cinta dengan Abang! "ucap Bang Jhon seketika yang membuat aku kelimpungan dan pura-pura mencari sesuatu diwajah bang Jhon.
"Siapa juga yang mandangi Abang, Nah ini ketemu, ada kutu bang !" ucapku, dia hanya tersenyum.
"Tak apa terus memandang Abang Adiba, Abang tak ingin kamu memandang lelaki lain seperti tadi"ucapnya lirih tapi masih terdengar olehku.
"Maksud Abang? "tanyaku yang belum apa maksud Bang Jhon, bang Jhon keliatan hanya tersenyum tipis dan mengalihkan pembicaraan kami,
"Apakah kamu sudah bisa mengoperasikan Gawai ini? jika belum, akan Abang ajarkan sampai kamu bisa "dia meraih gawai yang ada ditanganku, dia mendekati ku, bahkan sangat dekat sehingga dapat kurasakan hembusan nafasnya yang wangi mint, sempurna,tampan,kaya,pintar dan pola hidupnya sangat sehat. Tiba-tiba aku terkejut saat Bang Jhon mengecup keningku, aku pun refleks langsung menamparnya.
"Plaaaaakkkk"
"Aaawwww,sorry"
__ADS_1
"Antar aku balik keswalayan"ucapku langsung bangkit dan setengah berlari kearah mobil bang Jhon diparkirkan. Jantungku rasanya mau copot, kenapa aku seberani ini menampar bos ku tempat bekerja, tapi aku kan gak salah. Bang Jhon duluan yang kurang ajar "Apa mungkin bang Jhon menyukaiku? " batinku sambil tersenyum, tanpa sadar bang Jhon sudah ada disampingku.
"Kenapa senyum-senyum sendiri Dib,apa sedang memikirkan Abang? "ucap bang Jhon mengagetkan ku tanpa rasa bersalah dan menghampiriku.
" Ge-er,buruan buka pintunya ! " ucapku pura-pura cuek dan bersungut.
"Siap Nyonya Jhon, silahkan masuk !" ucap bang Jhon sambil menyilahkan aku masuk seperti pelayan-pelayan hotel, dalam hati aku mengaamiinkan ucapannya "Aamiin" batinku lalu masuk.
Keesokkan harinya aku bermaksud cuti kerja beberapa hari, aku ingin mengunjungi Bunda dan Ayah, aku sangat merindukan mereka gak terasa sudah 6bulan lamanya kami tidak ketemu bunda. Saat aku sedang bersiap-siap, tiba-tiba gawai pemberian bang Jhon berdering, aku hanya bisa menepok jidatku sendiri serba salah, ku lihat Wina langsung menghampiriku. Dengan pandangan curiga dan mengintimidasi,aku hanya nyengir dan menunjukkan wajah imutku.
"Gak usah sok imut deh Diba"sungutnya sambil tangannya mengisyaratkan meminta sesuatu.
"Apaan? "jawabku pura-pura tak mengerti.
"Jangan kura-kura dalam perahu ya Zahabiya Adiba Arsyura? "ucap Wina sambil berkacak pinggang dan melotot.
"Handphone siapa, sini lihat? "pinta Wina, aku kalah jika Wina sudah seperti ini, aku menyodorkan hape itu tanpa menatap Wina.
"Masya Allah Diba, kamu sudah beli handphone ya, bagus banget kok gak bilang-bilang sih sama aku! " pekik Wina meraih gawai yang ada ditanganku, aku hanya nyengir kuda gak tau mau jawab apa dan sedikit terlonjak kaget karna suara cempreng Wina persis petasan.Seketika mata Wina melotot memandangi gawai yang sedang berdering tertulis My Lovely dan terdapat gambar bang Jhon yang tampan memenuhi layar.Aku hanya menepok jidatku.
Wina menatapku mencari jawaban, tapi aku hanya menggeleng.
"Tidak mungkin Diba, kamu ada affair dengan Pak Jhon y ?" tanyanya,aku terus menggeleng.
"Ingat Diba, kita disini merantau,jangan sampai kamu jatuh kelembah hitam Diba, kamu gak kasian dengan Ayah dan Bunda?kalo kamu kenapa-kenapa aku harus bilang apa sama keluarga kamu Adiba? atau jangan-jangan Handphone ini juga pemberian Pak Jhon ya? " berondong Wina, ahk dia emang sahabat yang paling ngertiin aku ya seperti cenayang atau punya indra keenam gitu, sehingga dia bisa seperti paranormal mengetahui segalanya, aku hanya menggangguk sambil nyengir.
"Gak usah sok imut, astaga Diba, sejauh mana hubungan kamu dengan Pak Jhon? "ucap Wina lagi sambil mengguncang-guncangkan bahuku.
"Wina, aku gak semurah itu, kemaren saat meminjam gawai kamu untuk nelfon Bunda, Bang Jhon memergoki ku, dia minta no handphone, tapi aku bilang gak ada karna aku gak punya, sabtu kemaren saat Bang Jhon mengajakku keluar Ternyata dia membelikan ini! "ucapku menjelaskan, Wina hanya manggut-manggut.
"Bang"ucap Wina sambil mondar mandir persis mandor gak bergaji.
"Iya, Bang Jhon minta aku manggil dia dengan sebutan Bang, karna umur kita gak beda jauh, kamu percayakan sama aku Win? "jawabku resah, aku takut Wina mengadu pada Bunda.
"Aku percaya kamu Diba, aku sangat mengenal kamu luar dalam! "kata Wina lagi,"Tapi kamu harus tetap hati-hati, ya udah ayo kita beres-beres lagi, angkutan umum yang akan kita tumpangi kedesa sebentar lagi datang!"ucap Wina menyerah gawai itu lagi padaku.
__ADS_1
"Alhamdulillah "ucap syukurku sambil mengurut dada ku.
*****
Wina dan Adiba pun menunggu angkutan umum dihalte depan swalayan, tiba-tiba mobil mewah berwarna silver berhenti tepat didepan halte, Wina sibuk dengan gawainya yang ntah berkirim pesan dengan siapa, akupun melihat kanan dan kiri,tak sabar menunggu bus. Tiba-tiba suara bariton itu mengejutkan Adiba dan Wina.
"Adiba, Wina kalian mau kemana? "tanya suara itu, Adiba dan Wina menoleh massal.
"Eh Pak, kami mau pulang kampung pak, kami ngambil cuti pak "ucap Wina yang langsung berdiri dan membungkukkan badannya.
"Nah ini karyawan yang patut dicontoh, sopan! " ucap bang Jhon menyindirku.
"Bomat deh! " jawabku, Wina langsung menoel bahuku.
"Ehm kebetulan saya kayaknya searah dengan kalian, ya sudah sekalian saya antar kalian sampe ketempat tujuan, kebetulan saya juga lagi bosan dikantor terus,ingin jalan "tawar bang Jhon kepada kami. Aku dan Wina saling pandang lalu berkata " Yes " bersamaan dan lari menuju mobil bang Jhon, bang Jhon hanya tersenyum melihat tingkah konyol kami.
"Nona Wina tidak apakan jika Nyonya Jhon duduk didepan menemani saya? " tanya bang Jhon pada Wina, wajah Adiba seketia memerah malu setengah mati dibuatnya, Wina hanya melongo dan mencubit lengan Adiba.
"Boleh boleh kok pak, gak masalah Wina sendirian dibelakang jadi anti nyamuk"sahit Wina yang membuat mata Adiba hampir saja keluar yang ditanggapi Wina dengan cengiran dan mendorong Adiba keluar. Adiba dengan malas pindah duduk didepan.
Sepanjang perjalanan Adiba dan Wina tidur, setelah memberikan alamat tujuan kepada bang Jhon.
Tanpa sadar Jhon mencuri-curi pandang melihat wajah cantik Adiba, dan memotretnya.
"Cantik, paripurna, perfect"gumam Jhon lalu meletakkan kembali gawainya pada Dashboard mobilnya, dan mengikuti arah GPS yang telah di arahkan Adiba, Jhon sedikit lupa jalan ketanah kelahirannya, karna kala itu Jhon masih kecil saat pindah dari desa itu.
Jam sudah menunjukkan tengah hari,cacing dalam perut Jhon sudah meminta jatah untuk diberikan nutrisi, Jhon mencari-cari tempat dan makanan apa yang akan mereka santap siang ini.
Setelah melihat ada warung ayam geprek dipinggir jalan, Jhon memarkirkan mobilnya perlahan dan membangunkan Adiba dan Wina.
Dua wanita itu pun mengerjap-ngerjapkan mata nya.
"Apa kita sudah sampai Bang? "tanya Adiba pada Jhon dengan suara seraknya, Jhon hanya mengurut dadanya.
"Kita makan dulu"ucapnya dan berlalu meninggalkan Adiba dan Wina.
__ADS_1
Adiba dan Wina segera menyusul Jhon dengan langkah cepat.