
Diam dalam luka (pengkhianatan) #part6
Aku melangkahkan cepat kaki ku saat melihat Meisya berlari-lari memanggil dokter, ada apa dengan Ayah. Sesampainya diruangan Aku melihat Ayah kejang-kejang dan sesak nafas, tak berapa lama dokter datang bersama Meisya dan perawat.
"Ayah Bun......." isakku dan Meisya dipelukkan Bunda, kali ini Bunda tak bisa berusaha tegar, netra Bunda juga mengalirkan deras air mata.
"Kita berdo'a saja untuk kebaikkan Ayah, Kakak dan Adek pergilah ngambil wudhu dan kemushola sana, belum pada sholat Isya' kan? "ucap Bunda menoel daguku n Meisya.
"Tapi Bun, Ayah...... !"Ucap Meisya lagi semakin mengeratkan pelukkannya pada Bunda sambil sesenggukan.
"Pergilah, Ayah akan baik-baik saja. Adiba fikirkan baik-baik permintaan Ayah tadi! " ucap Bunda,Aku bingung. Tak mungkin mencari seorang pria yang bertanggung jawab dan berkepribadian baik dengan waktu sesingkat ini,ahk Ayah coba aja meminta untuk menjaga dan membiayai Bunda dan Meisya, pasti Aku langsung berkata iya dan sanggup. Aku dan Meisya berjalan menuju Mushola,sepanjang perjalanan kami diam seribu bahasa hingga sampai ketempat tujuan, tapi tiba-tiba saat aku sedang bersih-bersih ingin memgambil wudhu. Meisya bertanya yang membuatku terkejut, karna selama ini Bunda bilang merahasiakan statusku yang hanya anak angkat.
"Kakak bukan Kakak kandung Mei kan? "ucapnya tanpa menatapku, Dia terus melanjutkan aktivitasnya. Aku belum menjawab pertanyaannya yang membuatku bingung dan terkejut, aku pura-pura tidak mendengar ucapan Meisya, lalu melanjutkan berwudhu.
"Terimakasih ya Kak? "ucap Meisya lagi sembari meremas jemariku.
"Maaak-sud Mei apa ?" ucapku bingung dan seketika ku menatap lekat kenetra Meisya tepat dimaniknya, ada apa ini fikiran ku berselancar, kulihat sebuah ketulusan,lalu....
"Kakak sudah menjadi yang terbaik untuk Ayah dan Bunda,untuk Mei juga.....!"ucapnya lalu tersenyum, Aku hanya menganggukkan kepala,pura-pura faham dengan maksud Meisya, padahal dalam hati sangat bingung karna Meisya tiba-tiba mengucapkan terimakasih, kami pun melaksanakan sholat dengan khusyuk berdo'a agar ALLAH memberikan kesembuhan untuk Ayah, dan Aku juga berharap Ayah melupakan permintaan nya padaku untuk menikah secepatnya. Ahk seandainya Bang Pras ada disini, sudah pasti Aku akan meminta tolong padanya.
******
"Adib,mungkin minggu depan Abang dan keluarga akan pindah kekota....!"ucap remaja lelaki 12tahun itu tanpa menatapku, tapi jemarinya terus menggenggam jemariku, Bang Pras sudah ku anggap seperti Abangku sendiri begitu juga sebaliknya, wajah Bang Pras dipenuhi bintik-bintik merah dan berflek, sehingga tidak ada satupun orang yang mau berteman dengannya, hingga suatu hari Bunda berhalangan menjemputku sekolah aku berlari kecil menuju panti, saat itu beberapa anak lelaki sedang mengganggu ku,menyebutku dengan sebutan anak ha**m karna aku tinggal diPanti asuhan. Aku menangis sejadinya,tertunduk menutup wajah buleku, kata Bunda aku mengidap penyakit Albino sehingga sekujur tubuhnya putih.Tiba-tiba saja suara yang mengejekku tidak terdengar lagi, aku memberanikan diri untuk mengangkat wajahku, kulihat Dia juga terduduk didepanku memandangiku.
"Apa kamu akan mengataiku seperti mereka? "ucapku sambil sesenggukan.Dia hanya menggeleng lalu mengulurkan tangannya.
"Nama Abang Pras, kita berteman yuk? "ucapnya lagi, awalnya aku ragu dan takut karna melihat wajah Bang Pras, dan Bang Pras menyadari itu.
"Tenang aja, meskipun wajah Abang seperti ini, Abang gak makan orang kok. sekujur tubuh Abang memang jelek tapi Insya Allah hati abang tidak...! "ucapnya panjang lebar sambil tersenyum,manis sekali, tanpa ku sadari aku pun membalas senyumannya dan menjabat tangan Bang Pras, sejak itu kami sering bertemu dan bermain bersama. 1Tahun pertemanan kami, tapi hari ini Bang Pras bilang akan meninggalkanku.
__ADS_1
"Terus yang jagain Adib sapa Bang, kalo Abang pergi? "ucapku lirih
"Adib kan sekarang dah kelas 3,harus berani melawan mereka ya, Abang janji, Abang akan kembali untuk Adib suatu hari nanti....! "ucapnya lalu merengkuh bahuku membawa kedalam pelukkan nya. Nyaman itu yang kurasakan.
******
"Kak..... "tepuk pelan Meisya dibahuku,dan membuyarkan lamuanan masa lalu ku.
"kita kekamar Ayah lagi yuk? "ucap Mei, aku hanya menggangguk.Kulihat Bang Jhon juga keluar dari Mushola, ahk lelaki idaman fikirku sambil tersenyum kecil.
"Bun gimana keadaan Ayah? "ucapku sesampainya dikamar Ayah dirawat.
"Ayah hanya butuh istirahat,jangan berisik ya....? " ucap Bunda sambil merapikan selimut Ayah.
Malam pun tiba, tidak lupa Bang Jhon membawakan kami makanan,selimut dan alas untuk tidur, saat tengah malam tiba, Ayah mengalami hal yang sama lagi seperti siang tadi, kami semua ketakutan,Ayah dipindahkan ruangan kePICU, Ayah sendirian melawan maut, alat-alat medis penunjang untuk kelanjutan hidup Ayah, Ayah kritis. Tak terasa sudah 3hari kami disini, dan Ayah belum siuman semenjak diPICU, hanya Bunda yang bisa masuk menemani Ayah.
Hari ini aku bermaksud masuk kerja, karna kalau tidak kerja sapa yang akan membayar semua biaya rumah sakit Ayah, Aku berniat akan kasbon pada bos..
"Ya basah deh....!"ucapku sendiri sambil menepuk-nepuk bagian yang basah.
"Auuuuwwww....."ucapku refleks karna terciprat air hujan karna seseorang berlari ingin berteduh sehingga air menggenang yang dipijaknya 'Byuuuuurrr ' mengenai tepat dicelana kananku dan basah semua.
"Maaf Mbak, saya tidak sengaja "ucapnya, aku mendongakkan kepala ingin melihat siapa gerangan yang ceroboh. Dan....
"Adib kamu gak kenapa-kenapa kan?" ucapnya setelah melihat wajahku,tapi tunggu tadi dia memanggilku apa ? yang ternyata Bang Jhon.
"Abang tadi manggil apa? "cerca ku, karna yang memanggilku dengan sebutan Adib itu hanya Bang Pras.Bang Jhon keliatan salah tingkah dan bingung dengan pertanyaanku...
"Ehm, itu maksud Abang Adiba yang cantik mau kemana ?"jawabnya asal lalu memperlihatkan deretan giginya yang berkilau dan tersusun sangat rapi, ahk tampan sekali kamu Bang. tapi sepertinya wajah Bang Jhon gak asing deh. Huss sadar Adiba..
__ADS_1
"Gak ngaruh, Abang harus tanggung jawab ni, tu kan basah semua,Adiba kan harus kerja baju ada dikost semua, kunci kamar dibawa Wina dan baju-baju Adiba sebagian ditas Wina bang. !"cerocosku tidak memberi kesempatan Bang Jhon bicara, dia hanya melongo.
"Sudah belum ngomongnya? "
"Belum.....! "aku pura-pura ngambek
"Kamu mau kemana sih pagi-pagi gini? "tanyanya lagi
"Adiba tu mau berangkat kerjalah Bang, nanti gak masuk-masuk Abang pecat lagi...!"ucapku, Bang Jhon hanya mengusap pucuk kepalaku, seperti,dahlah..
"Bang, Adib boleh ngomong sesuatu gak? "tanyaku menoleh dan menatap lekat Bang Jhon.
"Ehm, serius amat ! Apaan sih? "jawabnya tanpa melihatku dan tetap masih fokus pada gawainya.
"Adib boleh gak kasbon untuk biaya rumah sakit Ayah? "ucapku hati-hati dan dag dig dug, karna aku baru kerja selama 6bulan, dan biaya rumah sakit Ayah tidak sedikit, sepertinya gak mungkin perusahaan memberikan kasbon sebesar itu pada karyawan baru sepertiku.Pandangan Bang Jhon berpindah kearahku, tatapan tajamnya seperti mata Elang menatap lekat ke netraku yang membuat aku salah tingkah.
"Jika tidak boleh juga gak apa-apa, Adib nanti akan mencari pekerjaan paruh waktu saat libur kerja diSwalayan! "ucapku lirih dan menundukkan kepalaku,aku terpekur menyesapi perasaanku sendiri.
"Adiba tenang aja, kan ada Abang,Abang akan selalu ada untuk Adiba, kan Abang sudah janji akan terus jaga Adiba sampai kapanpun! "jawab Bang Jhon panjang lebar, dan kata-kata itu.
"Bang Pras, apakah ini Bang Pras Adib? "aku bangkit dan menatap lebih lekat Wajah Bang Jhon, aku teliti setiap inci wajah Bang Jhon, tidak memperlihatkan sedikitpun ciri-ciri dari Bang Pras, karna aku ingat betul seperti apa bentuk wajah Bang Pras, penyakit itu. Teknologi semakin canggih bisa aja Bang Pras operasi plastik, bisa jadi karna aku ingat betul dari susunan gigi gingsul Bang Jhon dan Bang Pras sama persis tanpa celah, senyum itu dan kata-kata itu.
"Ini Bang Jhon Adiba, Bang Pras siapa sih? "tanyanya lagi
"Ahk bukan siapa-siapa kok Bang,tapi kata-kata Abang... ahk sudahlah"pupus sudah harapanku
"Adiba tenang saja, biaya rumah sakit Abang semua yang tanggung, bekerjalah seperti biasa, sebisa mungkin Abang akan membantu Adiba,ayok Abang antar "ucapnya lalu bangkit menarik paksa tanganku menuju mobil,hujan tinggal rintik-rintik,aku mengikuti langkahnya.Aku masih bingung, dan fikiran ku masih gentayangan entah kemana-mana tentang Bang Pras,
"Adib sangat merindukan mu Bang, kamu dimana sih Bang...!"batinku sambil mengimbangi langkah Bang Jhon.
__ADS_1
Didalam mobil Adiba melemparkan pandangannya jauh keluar jendela, bingung dengan permintaan aneh Ayahnya.
"Ayah..."gumam Adiba sambil memejamkan matanya.