
Setia dalam luka (Pengkhianatan) #part8
Pov Jhony Prakoso
Entah kenapa isi kepalaku akhir-akhir ini terus dipenuhi dengan Adiba apapun itu, dari jahilnya dia, senyumnya dan tatapannya, ahk Adiba kamu bagaikan Berlian sangat indah untuk dipandang tapi tak boleh dipegang dan seorang Jhony Prakoso tergila-gila padamu. Apalagi sejak mendengar permintaan Ayahnya dirumah sakit, bahwa menginginkan Adiba menikah secepatnya sebelum ajal menjemput Beliau.
Ingin rasanya aku mengajukan diri, dan sudah pasti seorang Adiba tidak akan menolak, karna ku lihat ada Cinta disetiap netranya memandangku. Ahk mata hazel dan manik yang berbeda warna itu semakin membuatku gila.
Hari ini Aku sengaja lebih awal menuju swalayan, ingin mengutarakan isi hati kepada yang terkasih, rindu ini seperti pasir dipantai padahal baru bermalam tidak melihat wajah sang idola hati, ingin cepat-cepat melihat sang pengusik hati, yang selalu membuat sulit memejamkan mata dikala mata pun sudah dilanda lelah.
Ku buka gawaiku, ku lihat walpaper layar utama, cantik. Tanpa ku sadari Aku tersenyum sendiri dan menggumam "Cantik"lalu mengecup gawaiku, akh Akupun berguling-guling ditempat duduk dijok belakang sambil memeluk gawaiku. Sengaja Aku menggunakan jasa supir pribadi Papi, karna Aku tidak ingin terjadi sesuatu padaku hari ini, karna jantung ku saat ini sepertinya mau copot, takut tidak fokus menyetir, setelah sadar Aku melirik Pak Darwan, Beliau tersenyum-senyum melihat tingkah konyolku yang sedang jatuh cinta, lalu Aku duduk kembali, duduk tegak agar terlihat berwibawa dan "Ehem... !"Aku berdehem, tapi Pak Darwan bukan berhenti tersenyum justru malah semakin tertawa lepas.
"Hahahahaa....!"Tawa Beliau lepas.
"Den Pras kenapa? "tanyanya sambil senyum-senyum, Aku yang ditanya hanya mengulum senyum.
"Kepo banget Pak Darwan, urusan anak muda Pak, Bapak fokus nyetir aja! " ucapku lalu memalingkan wajah kejendela, sudah pasti wajahku yang tampan ini akan keliatan konyol untuk ini, aku menggaruk kepala yang tidak gatal ini dan mengacak-ngacak rambut, lalu merapikan kembali.
Sesampainya depan swalayan...
"Pak, bagaimana penampilan Saya? "tanya ku pada Pak Darwan
"Seperti biasa Den, tampan dan berkelas "!jawab Beliau
"Oh sudah pasti, saya pasti sangat tampan dan Adiba pasti semakin terpesona melihat saya! " ucapku sambil memiringkan bibir ku sedikit saja, senyum sombong hiihiii
"Den, yang terpesona Non Adiba atau Den Pras? "Ledek Pak Darwan
"Ahk sudahlah Pak, jangan membahas itu, saya masuk dulu, jangan lupa jam 10 nanti jemput saya disini dan bawakan sebuket bunga mawar putih dari toko langganan saya "!ucapku berlalu keSwalayan.
"Asyiaap Den... !"ucap Pak Darwan, Beliau yang paling ngerti suasana hati ini, beliau yang selalu ada,yang selalu menenangkan kala teman-teman mengejekku dulu saat tubuh ini masih seperti monster.
Langkahku terhenti saat melihat pemandangan yang membuat bara api menjadi sijago merah yang mengerikan. Adiba sedang bercengkerama dengan Bayu karyawan baru, yang direkrut Deni 2minggu yang lalu, mereka terlihat sangat akrab berselfie ria, dan....
__ADS_1
"Apakah kalian tidak ada kerjaan....!"ucapku setelah dekat pada mereka,rahangku rasanya ngilu menahan api cemburu ini, Adiba dan Bayu terkejut lalu menoleh ke arahku, Bayu membungkukkan badannya.
"Selamat pagi Pak, semua barang sudah dibereskan Pak...! "ucapnya menjelaskan dan Adiba, secepat kilat menghilang dari hadapanku, pakai jurus apa dia, apa pakai jurus seribu bayangan Naruto, dan yang bersama Bayu tadi hanya bayangannya saja, sehingga secepat itu menghilang. Aku mengalihkan kembali tatapan ku pada Bayu.
"Dia tampan,tapi seorang Jhony Prakoso tak lebih tampan darinya, pasti Adiba lebih memilihku !"batinku
"Maaf Pak, Bayu kebelakang dulu !"ucapnya membuyarkan lamunanku, Aku hanya mengibaskan tanganku menyuruhnya pergi, Aku langsung keruanganku..
'Braaaakkk'
Kubanting keras pintu ruanganku.
"Hai Jhon, ada apa ini? bangunan ini seperti mau roboh,kamu kenapa sih pagi-pagi muka sudah ditekuk-tekuk begitu,ni minum dulu biar rileks! "ucap Rachel yang tiba-tiba nongol sambil menyodorkan kopi susu panas, melihat wajahnya semakin menghilang moodbooster ku, Aku meraih gelas kopi itu dan menenggakknya hingga tandas tanpa sisa.
"Oh My GOD,Jhony kamu menganut ilmu Master Limbad kah? "Rachel melongo, aku tidak menggubrisnya, aku tetap fokus memainkan gawaiku, Papi mentitahkan agar aku mengecek Swalayan diluar kota hari ini juga. Ahk Papi,Aku mengacak-ngacak rambutku.
"Kamu kenapa sih Jhon, kamu seperti orang frustasi marah-marah gak jelas! "ucap Rachel bingung karna melihat sikapku hari ini.
"Plis Ra, aku mau sendiri saat ini! "mohonku pada Rachel
"Jhon....! "teriaknya sambil memegang lenganku.
"Ra, plis jangan paksakan kehendakmu dan hati ini sudah milik yang lain....! "jelasku padanya, kulihat Rachel berlari sambil menangis keluar ruangan dan...
'Braaaaakkkk'
"Ahk kasian sekali pintu ini, kamu kesakitan ya, kamu gak salah apa-apa !"batinku sembari tersenyum sendiri dengan kelakuan konyolku ini.
Saat akan menutup pintu kulihat ada Adiba dari arah belakang.
"Selamat paa.....! "ucap Adiba terpotong karna aku langsung masuk kembali keruangan, ku intai dari balik gorden, Adiba hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lalu...
'derrrttt derrrrtttt tingtung' notif pesan WA masuk.
__ADS_1
[Kenapa menghindar sih Bang, padahal Adib mau ngomong masalah Ayah dirumah sakit,tapi ya sudahlah biar Adib sendiri yang akan menyelesaikannya ]isi pesan Adiba.
[Emang ada apa dengan Ayah kamu ]balasku, masih centang dua abu-abu, lama ku menunggu agar centang biru.
Tiba-tiba..
'Derrrrrt derrrrtttt derrtttt'
'Aset terbesar' tertulis dilayar ponselku
"Ya Assalamualaikum Pi? "jawabku malas.
"Waalaikumsalam,bagaimana,apakah kamu sudah mengecek hasil laporan Dari Swalayan blok A dan blok C,Papi rasa ada sedikit kejanggalan?"ucap Papi.
"Ehm, belum Pi, sebentar lagi Pras akan kesana, sedang menunggu Pak Darwan! "jawabku lagi
"Loh emang mobil kamu kenapa Pras? "tanya beliau
"Ada dirumah Pi, Pras lagi kurang enak badan saja Pi, makanya dengan Pak Darwan.....! "
"Sedang tidak enak badan atau sedang jatuh cinta dengan karyawan bule kamu itu? "ledek Papi
"Ahk Papi bisa aja....! "jawabku tersipu malu, dalam hati membenarkan ucapan Papi, Papi paling tau suasana hatiku, dan Papi Mami tidak pernah melarangku mencintai wanita dari kalangan manapun, mereka orang tua yang cukup mengerti,perfect.
"Ya sudah hati-hati, jika belum merasa kurang enak badan bersama Pak Darwan kesana! "sambung Papi
"Baik Pi, makasih Pi....! "
'tuuuut tuuuutt' sambungan telefon sudah terputus saja. Papi selalu begitu. Aku pun menelfon pak Darwan agar menjemputku kembali dan mencari-cari Adiba, aku ingin mengajaknya ke Swalayan cabang, rencana aku akan memindahkan nya dari sini, agar Adiba tidak terus menerus diganggu Rachel.Terutama agar Adiba tidak dilirik-lirik Deni dan Bayu.
"Den, kamu lihat Adib? "
"Astaga naga Jhony Prakoso, untung ni jantung buatan Tuhan, kalo kagak dah jatoh dipungut semut "!ucap Deni yang hampir jatuh dari tangga, Aku hanya terkekeh melihatnya.
__ADS_1
"Lu ya paling demen kalo temen kesakitan, demen kalo temen lu yang ganteng ni kecelakaan kerja gitu? "omelnya sambil turun dari tangga tangan nya terus mengelus dada.