She Is Mine[Taennie]

She Is Mine[Taennie]
part 14


__ADS_3

Update...


victory membuka kancing atasnya. Membuat dada bidang nya terpampang secara cuma-cuma.melepaskan kacamatanya secara kasar. Ia memijat pelipisnya karena merasakan kegelisahan yang luar biasa.


Sudah seminggu ini ia berada di Indonesia untuk mengurusi cabang perusahaan nya. Memang setelah kepulangan nya dan sang istri dari kota paris. victory langsung berangkat ke Indonesia karena urusan pekerjaan nya itu. Meninggalkan jane di mansion dengan rasa kesal padanya.


"Oh.. Ya tuhan. "


victory menyandarkan kepalanya di kepala kursi. Rasa kesal membeludak di hatinya. Karena sang istri tak mengangkat telponnya dari kemarin. Hal itu membuat victory marah sekaligus gelisah.


Lamunan victory buyar saat ponsel mahalnya berdering nyaring.


Mengecek siapa yang menelepon. Terpampang nama ketua maid mansion nya di sana.


"Ada apa? "


"Tuan noona muntah-muntah. "


victory seketika bangkit dari duduknya. Ia benar-benar terkejut dengan laporan ketua maid itu.


"Kenapa istriku bisa muntah-muntah? "Tanya victory dengan nada dinginnya.


"Maaf tuan,kemarin hujan turun dan noona bermain hujan-hujanan. Kami sudah melarangnya namun noona mengancam akan mengadukan nya kepada tuan. "


victory memijat pelipisnya. Tentu saja para maid nya itu telah dibohongi oleh istri cantik nya itu.


"Aku akan pulang. "


victory mematikan sambungan telepon secara sepihak. Ia bangkit dari kursinya. Mengambil jas miliknya lalu pergi dari sana.


Diluar ruangan victory dapat melihat sekertaris nya berdiri disana menunggunya. Sekertaris han membungkuk saat melihat tuan besarnya keluar.


"Siapkan jet pribadi. Kita kembali ke korea sekarang. "


Sekertaris han langsung mengangguk paham. Melihat nada tegas serta raut wajah dingin tuan besarnya sudah membuatnya paham bahwa sedang terjadi hal yang tidak baik di korea. Terlebih lagi menyangkut noona mudanya.


Hanya beberapa saat sekretaris han segera melapor bahwa jet pribadi milik victory telah siap. Membuat victory tanpa pikir panjang segera menuju aula penerbangan.


"Aku pulang sayang. "

__ADS_1


------


"Noona harus makan. "


Ketua maid menghembus nafas pasrah saat mendapatkan gelengan noona mudanya. Sudah puluhan kali kepala maid membujuk jane agar makan. Namun jane menolak dengan alasan.


"Aku tak ingin makan sebelum oppa pulang. "


jane mengeratkan selimutnya. Bulir bening dari matanya menetes. Entah mengapa ia sangat merindukan suaminya. Padahal tanpa suaminya jane dapat bebas melakukan apapun yang dia inginkan tanpa mendapatkan teguran dari jane.


"Oppa kapan pulang? "


Ketua maid memandang sendu jane. Noona mudanya ini benar-benar rindu setengah mati pada tuan besarnya.


jane menghadap belakang, membelakangi ketua maid. Memandang sendu jendela yang memperlihatkan rintik-rintik hujan diluar sana.


jane berusaha memejamkan matanya. Ia membenci satu hal sekarang. jane benci saat ia tidur sendiri tanpa mendapatkan dekapan hangat suaminya.


"Oppa kapan pulang? "Lagi-lagi kata itu meluncur bebas daru mulut jane. Ia bermonolog pada dirinya sendiri. Berharap mendapatkan jawaban atas ucapan rindunya itu.


Seketika tubuh jane menegang saat mendengar suara berat yang sangat ia kenali, menyahut pertanyannya.


"Aku juga merindukan mu,sayang."


jane segera menyibakkan selimut hingga jatuh kelantai. Mencoba bangkit untuk mendekap tubuh tegap itu.


Grep...


"Oppa... "


jane mendekap taehyung erat. Membuat pria bermilik senyum kotak itu terkekeh. Tanpa diminta victory membalas pelukan sang istri tak kalah erat. Menumpahkan rasa rindunya juga pada wanita pujaannya itu.


"Rindu? "


jane mengangguk singkat. Semakin mengeratkan pelukannya.


"Kenapa tak mengangkat telpon dari oppa jika rindu? "


Didalam dekapan victory, jane mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


"Karena oppa menyebalkan. "


victory melonggarkan pelukan sang istri. Membuat victory lebih leluasa untuk memandang pahatan indah wajah sang istri.


"Masih marah? "


jane mendorong pelan dada victory. Membuat victory terkekeh.


"Kalau tau kenapa bertanya. "Ketus jane.


victory menarik tangan sang istri. Membawa wajah sang istri untuk mempertemukan benda kenyal itu. Sungguh victory sangat merindukan rasa manis dari bibir istri ditambah dengan sang istri yang terus mencibir membuat victory hilang akal.


jane memukul kecil dada victory saat pasokan udara mulai menipis. Seakan paham victory melepaskan bibir itu dengan rasa tak rela.


Mengusap benang saliva dibibir istrinya.


"I miss you. "


jane tersenyum malu. Pipinya merona bagaikan tomat yang terbakar.


"Aku juga merindukan mu oppa. "


Rasanya membuncah. Begitu banyak kupu-kupu yang berterbangan mengelilingi keduanya. Benda kenyal itu bertemu lagi. Kali ini tak ada rasa terburu-buru terkesan lembut namun sedikit menuntut. Membawa sengatan-sengatan kecil diantara keduanya.


Tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Hanya meraka dan tuhan yang tau.


-----------


Di ruang yang didominasi oleh warna hitam pekat seorang pria tengah mengepalkan kedua tangannya. Pandangan nya lurus menatap tembok yang kini terdapat foto seorang pria berwajah datar.


"Kau mati. "


Pria itu melemparkan pisau hidup mengenai wajah pria yang berada difoto itu.


"Kau telah merebut wanitaku. Aku tak akan membiarkan nya begitu saja. jane adalah milikku. "


Urat-urat terlihat begitu kentara diwajah pria itu. Rahang pria itu semakin mengeras.

__ADS_1


"Aku akan melenyapkan mu kim victory sialan. "


Bersambung....


__ADS_2