Si Garang Vs Si Centil

Si Garang Vs Si Centil
10. Panik tak berkesudahan.


__ADS_3

Bang Renash sudah lebih bugar. Hari ini dirinya lapor datang sekaligus mengurus surat amelden.


Segala persiapan menyusul saja dan hari ini dirinya akan berangkat menuju tempat dinas yang baru.


//


Bang Angger dan Bang Anggara cemas bukan main saat Bang Renash menitipkan Geeta. Keduanya gigit jari melihat porsi makan Geeta yang tidak terkontrol.


"Dek, apa tidak sebaiknya berhenti dulu? Kamu sudah menghabiskan semangkok bakso, sepiring nasi rames sama sepiring pempek." Kata Bang Anggara.


"Jadi Geeta nggak boleh makan nih??"


"Boleh........"


"Abang nggak bawa dompet?? Kalau nggak bawa nanti Mas Renash yang bayar." Jawab Geeta.


"Bulan begitu dek, nanti perutmu sakit. Kamu memang adiknya Abang, tapi kamu istrinya Renash.. suamimu itu menitipkan kamu sama Abang, kalau ada apa-apa sama kamu, kita juga yang repot." Bang Angger mencoba memberi pengertian pada Geeta.


Tiba-tiba Geeta meletakkan sendok dan garpunya, wajahnya datar dan terlihat kesal.


"Bang, aku angkat tangan. Cepat hubungi Renash dan kembalikan barang antik ini pada yang punya. Nggak sanggup aku kalau di suruh momong bumil, sudah makannya banyak, hobby ngomel.. ngambeknya itu lho aku nggak kuat." Bisik Bang Anggara.


"Oke, ide bagus. Abang juga nggak kuat."


...


Geeta terisak di dalam pelukan Bang Renash mengadukan 'kejahatan' kedua Abangnya yang melarangnya untuk makan.


Baru kali ini Bang Angger dan Bang Anggara menunduk dan tidak menjawab segala kelakuan bumil yang terlalu mendramatisir keadaan.


"Ya sudah sekarang mau makan apa?" Bujuk Bang Renash.


"Nasi goreng."


Bang Angger dan Bang Anggara saling melirik karena barang yang di minta Geeta sudah berbeda lagi.


"Apa Abang yakin semua baik-baik aja kalau Geeta bakalan jadi satu bersama kita di seberang??" Bisik Bang Anggara.


"Kali ini aku mulai nggak yakin." Bang Angger balik berbisik.


"Berdo'a saja ini ponakan biang masalah cepat lahir, kepala om nya sudah berembun." Kata Bang Anggara.


-_-_-_-_-


Ketiga pria baru bisa bersandar saat Geeta sudah tidur di mobil. Tangannya masih menggenggam bungkus nasi bakar yang belum sempat di makan.


"Ya Tuhan rasanya punggungku mau patah." Gumam Bang Angger.

__ADS_1


"Kakiku kram jalan terus." Kata Bang Anggara. "Kau nasihati Geeta jangan makan terlalu banyak, nanti badannya berat..!!"


"Daripada nasihati Geeta lebih baik aku gelut lawan sepuluh preman pasar." Jawab Bang Renash pasrah.


Ketiganya membuang nafas panjang, itu berarti mereka menemui jalan buntu untuk hal sepele.


***


Tengah malam seluruh anggota keluarga sudah tidur karena besok pagi sekali mereka harus berangkat dengan penerbangan sangat pagi menggunakan pesawat militer.


Bang Anggara terbangun dari tidurnya mendengar suara berisik dari arah dapur. Sebenarnya rumah dinas panglima sudah cukup aman dari gangguan binatang yang tidak di inginkan tapi tetap saja rasa waspada tidak bisa hilang dari pikirannya. Cemas ada sesuatu yang tidak beres, Bang Anggara segera turun di lantai bawah.


Keadaan dirinya yang masih menyisakan kantuk sekitar kurang lebih sepuluh watt membuat pandangan matanya sedikit kabur.


"Waahh.. orang atau kuntilanak tuh?? Kakinya saja tidak terlihat." Gumamnya melihat sosok wanita dalam temaram, lumayan tinggi dengan rambut terurai acak-acakan. Ia pun mengambil golok di dinding. Golok pemberian teman Papa Dewa dan sudah lengkap dengan rajah yang di percaya sebagai pelindung.


Perlahan Bang Anggara mendekat dan mengayunkan golok tanpa di buka dari sarungnya.


"Hyaaaa..!!!"


buuugghhh..


"Aaaaaaaaa........"


:


Geeta dengan santainya menyantap mie instan lengkap dengan segala mirip seperti di bungkusnya.


"Kalau sudah begini bagaimana?? Kamu tidak akan bisa ikut kegiatan kurang lebih satu bulan lamanya." Kata Papa Dewa.


"Kenapa juga kau ganggu Geeta???" Bang Angger ikut menegur adiknya yang terlalu 'lancang' mencari perkara dengan bumil.


"Aku sudah bilang, tadi ku kira Geeta kuntilanak yang tinggal di dapur kita." Ucap jujur Bang Anggara.


Geeta menoleh melihat Bang Renash untuk meminta pembelaan tapi pada kenyataannya suaminya itu sedang tidur pulas di sofa.


"Maaass..!!!!"


Bang Renash gelagapan mendengar suara Geeta.


"Iya dek."


"Belain donk..!!"


"Iya.. benar begitu." Jawab Bang Renash berusaha duduk tegak dengan mengumpulkan seluruh kesadarannya.


"Benar Geeta kuntilanak??" Tanya Geeta memasang wajah kesal dengan rasa pedas masih melekat di bibirnya.

__ADS_1


'Duuuuhh.. salah jawab lagi. Pantas saja wajah Geeta sudah seperti wajah siap dalam pertempuran.'


"Bukaan.. maksudnya, iya.. seharusnya benar begitu. Kalau Bang Anggara cari perkara harus di lawan..!!" Kata Bang Renash segera berkilah.


Kini Bang Anggara yang menatap wajah Bang Renash penuh ancaman dan membuat Bang Renash serba salah.


"Berani kau sama seniormu ya..!!"


Bang Renash mengusap wajahnya. "Ya sudahlah Bang, kita tawuran saja..!!" Jawab Bang Renash pasrah.


Geeta melanjutkan acara makannya hingga mie nya habis.


Seluruh anggota keluarga memperhatikan Geeta yang tiba-tiba doyan makan padahal sebelumnya putri kecil Pak Dewa itu begitu teratur mengatur pola makannya.


"Pa, Geeta mau sambal tempe donk..!!" Pinta Geeta.


Papa Dewa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, pandangan matanya langsung menoleh ke arah bunda Bian untuk meminta bantuan darurat.


"Geeta maunya Papa yang buat..!!"


Papa Dewa nyengir kuda mendengar permintaan putrinya. Mau tidak mau akhirnya Papa Dewa turun tangan juga masuk ke dapur untuk membuatkan sambal tempe permintaan putri kecilnya.


...


Dua piring nasi terperangkap habis di dalam perut Geeta. Ia bersandar mengusap perutnya yang nyaris terlihat karena terlalu banyak makan.


Bang Angger sampai bersendawa karena kenyang sendiri melihat tumpukan piring milik Geeta.


"Aduuh Mas, perut Geeta sakit..!!"


Refleks para lelaki berdiri dari posisi duduknya dan panik melihat ekspresi Geeta.


"Jangan tegang sayang, sini Bunda periksa..!!" Bunda Bian merilekskan tubuh putrinya lalu memeriksa masalah yang terjadi pada Geeta.


Harap-harap cemas para pria menunggu Bunda memeriksa kondisi Geeta.


"Alhamdulillah, perutnya syok saja terlalu banyak isi."


Para pria mend*sah gemas tanpa bisa berbuat apapun.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2