Si Garang Vs Si Centil

Si Garang Vs Si Centil
3. Rasanya menjadi kekasihmu.


__ADS_3

Geeta begitu histeris, Pak Dewa memeluk putrinya tanpa kata. Setitik air mata meleleh melihat sang putri.


"Ada apa ndhuk? Bilang sama Papa..!!"


"Kenapa Papa harus menikahi dua wanita?? Apa tidak cukup satu wanita dalam hidup Papa?" Ucap Geeta terbawa emosi.


Rasanya Papa Dewa tak sanggup menjawab pertanyaan dari putrinya. Terlalu berat mengingat kisah si masa lalu yang membuat hidup mereka jadi seperti ini.


Sejak meninggalnya Mama Gita, tak sehari pun Papa Dewa lewati tanpa penyesalan.


"Nanti kamu akan mengerti, semua tidak seperti yang di katakan orang dan kamu terlahir dari ibu yang sangat luar biasa." Bunda Bian mengusap rambut putri tirinya dengan sayang. Meskipun ke empat anaknya bukan terlahir dari rahimnya tapi Bunda Bian sangat menyayangi Bang Angger, Bang Anggara, Mbak Abeeya juga Geeta.


"Sudahlah jangan bahas perkara ini lagi. Mulya tidak ingin denganmu ya sudah, apa di dunia ini kekurangan pria sampai kamu menangisi pria macam Mulya. Namanya saja yang Mulya tapi sifatnya tidak mulia." Gerutu Papa Dewa.


"Ijin panglima, mohon maaf saya menyela. Jika di ijinkan.. saya berniat melamar Geeta."


"Apaaaa???" Papa Dewa masih syok mendengarnya, bagaimana tidak.. Geeta baru saja lulus dari program sekolah dan putrinya itu masih sangat kecil. Beda delapan tahun dari para kakaknya.


Seketika Bang Angger dan Bang Anggara melangkah maju dan berdiri di hadapan Bang Renash. Bang Angger menepuk pundak Bang Renash sedangkan Bang Anggara memainkan kerah pakaian Bang Renash.


"Besar juga nyalimu."


"Nyowomu ono piro le??" Tegur Bang Angger.


"Siap salah Bang."


"Push up..!!" Perintah Bang Angger.


"Squat jump..!!!!!" Imbuh Bang Anggara.


Papa Dewa ikut mengusap rambut putri kecilnya sedangkan Mbak Abeeya tersenyum penuh arti.


"Karena aku tentara wanita, jadi hukuman dariku adalah............"


...


"Astagaaaa.. begini amat perjuangan melamar putri bungsu panglima." Bang Renash sudah oleng kesana kemari mengangkat satu kaki meniru gaya pebalet profesional.


"Apa katamu Ren..!!" Tegur Mbak Beeya.


"Siaaap.. tidak Mbak." Jawab Bang Renash.

__ADS_1


Mbak Beeya menyimpan senyumnya tapi pada akhirnya Geeta pun tersenyum geli karena Bang Renash mau berjuang untuknya meskipun mungkin itu adalah hal yang kecil.


"Jadi bagaimana ndhuk? Apakah kamu mau menerima atau menolak lamaran Bang Renash?" Tanya Papa Dewa hati-hati karena membujuk gadis yang sedang patah hati bukanlah hal yang mudah.


"Tunggu Geeta jadi tentara dulu." Jawab Geeta, ia tidak ingin membuat keluarga kembali susah karena sadar dirinya sudah membuat ulah dan kepanikan sebesar ini.


"Nggak masalah, Mas Ren siap nunggu. Tapi maaf, selain jadi tentara." Jawab Bang Renash sambil menurunkan kakinya


"Ya sudah, Geeta mau.. tapi bisa khan Geeta yang tentukan keinginan Geeta?"


Bang Renash mengangguk namun kemudian menggaruk kepalanya, karena dirinya tidak membawa bekal apapun untuk melamar Geeta.. pikirannya sedikit terpecah belah. "Ehhmm ini saja dulu..!!" Bang Renash mengambil lingkar gantungan kunci lalu mengambil lingkar kecilnya dan membentuknya seukuran jemari Geeta. "Pinjam jari manisnya..!!"


Bang Renash menyematkan cincin pada jemari Geeta. "Cantiknya istri Mas Renash." Gumam pelan Bang Renash tapi masih terdengar telinga semua kakak Geeta.


"Merayap.. berputar di ruangan..!!" Perintah Bang Angger.


\=\=\=


Bang Renash mengawasi langkah demi langkah prosedur Geeta menjalani pendidikan sebagai seorang atlet volly dan juga MMA Beberapa hari ini dirinya pun akan melatih para atlet yang terfokus pada kegiatan MMA.


"Heeii kamu.. maju..!!" Bentak seorang pelatih wanita pada Geeta. "Sudah berapa kali saya bilang, jangan langsung menekuk kaki sesudah berlari..!!"


"Maaf Mbak..!!"


"Ada apa ini?" Tanya seorang pelatih dari Matra Darat yang selama ini memang memberi perhatian lebih pada Geeta.


"Nggak ada apa-apa Bang." Jawab Lidya sambil menekuk kedua tangan di depan dada.


Bang Renash masih memberi jarak selama tidak terjadi sesuatu pada Geeta.


Tak lama bel berbunyi tanda latihan volly sudah usai. Kini mereka akan melanjutkan latihan MMA. Melihat situasi aman, Bang Renash pun meninggalkan tempat untuk berganti pakaian yang sesuai.


...


"Sekali lagi..!!" Perintah Bang Renash pada Lidya.


"Capek Bang..!!" Rengek Lidya untuk mencari perhatian Bang Renash.


"Gerak dan kuda-kuda mu masih jauh dari sempurna. Kapan kamu serius?" Tegur Bang Renash.


"Lidya maunya mengatur kuda-kuda sama Abang." Jawab Lidya dengan manja.

__ADS_1


Bang Renash yang tau ada sinyal tidak baik dari Lidya segera menghindar mencari aman.


"Geeta.. giliranmu..!!"


Tau Bang Renash tidak menanggapi inginnya, Lidya pun pergi membawa rasa kesal


:


"Upper cut mu kurang kuat Geeta..!! Bantinganu juga kurang mengunci..!!"


"Sudah Mas, ini sudah." Rengek Geeta yang mulai lelah karena Bang Renash memintanya mengulang gerakan yang sama tanpa ada gerakan lain.


"Sudah apa?? Semua tidak mengarah pada titik sasaran. Latihan jangan pernah kamu jadikan permainan..!!" Tegur Bang Renash secara profesional tanpa memandang status di antara mereka.


"Jangan galak, nanti Geeta adukan sama Bang Angger..!!" Ancam Geeta sambil mengikat rambutnya serupa ekor kuda.


"Geeta.. Mas serius..!! Ayo latihan lagi..!! Minggu depan kamu harus tanding dan kemampuanmu tidak ada lima persen." Lagi-lagi Bang Renash menegur Geeta yang semaunya sendiri.


"Bisa nggak sih Mas setiap kali bicara sama Geeta tuh Mas kurangi nada suara. Geeta dengar.. nggak usah di bentak." Kata Geeta.


"Ini tempat latihan Geeta, fisik dan mentalmu di tempa di sini. Kalau kamu tidak kuat dengan dua hal itu, jangan jadi atlet..!! Jadi pegawai salon saja, nggak ada namanya di bentak dan atur latihan fisiknya..!!" Tak main-main Bang Renash bertanggung jawab dengan pekerjaannya.


"Geeta mau putus, belum jadi istri saja sudah di maki. Bagaimana kalau jadi istri?? Mungkin nggak hanya mulut, Geeta juga bisa jadi samsac." Geeta beranjak dari duduknya lalu melangkah berjalan.


"Terserah, mental kacangan tidak cocok ada disini.." jawab Bang Renash.


Geeta tetap melangkah keluar dari gedung latihan. Matanya melirik menunggu Bang Renash akan memanggilnya kembali, namun sayang.. dua puluh langkah berjalan, Bang Renash tak kunjung memanggilnya.


"Kenapa Geeta nggak di panggil balik????" Protes Geeta memasang wajah cemberut, bibirnya sudah monyong tanda murka.


"Katanya putus??" Tantang Bang Renash.


"Pinjam uang.. Geeta nggak bawa uang buat naik angkot." Jawab Geeta dengan polosnya sambil menodongkan tangan.


Bang Renash menunduk terkikik geli namun ia segera kembali pada wajah coolnya. "Putus ya putus..!! Lagipula atlet kok naik angkot. Larii Neng..!!"


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2