
"Maaass.. aawwh kraam..!!" Rintih Geeta.
Bang Renash segera menghampiri Geeta dan mengusap perutnya. lumayan cemas juga hatinya memikirkan Geeta yang terus memercing kesakitan.
ddrrtt.. ddrrtttt.. ddrrtttt..
Bang Renash melihat nama di layar ponselnya. Keningnya berkerut.
"Apa?" jawab Bang Renash.
"Tolong kirim uang dulu Bang. Aku nggak punya uang." kata Bang Arma, adik Bang Renash.
"Kapan kamu berubah Ar?? Mau masuk liang lahat dulu??" tegur Bang Renash.
"Siapa Mas?" bisik Geeta.
"Adik iparmu."
"Baaang.. aku bisa mati di keroyok bodyguard." Kata Bang Arma.
"Posisimu dimana? butuh uang berapa? Abang nggak bisa kirim banyak uang, nggak pegang uang lagi. Semua milik mbak mu."
"Abang sudah nikah?" Tanya Bang Arma.
"Jangan banyak tanya..!!!" Butuh berapa?"
"Dua puluh juta." jawab Bang Arma.
"Gilaaa.. kamu buat masalah apa Aarr?????? Kalau lebih dari satu juta.. kamu bilang sendiri sama mbak mu, Abang nggak mau ribut." Bang Renash memberikan ponselnya pada Geeta yang tidak tau apa-apa.
Bang Renash tetap menempelkan ponselnya di telinga Geeta.
"Ha_llo.." Sapa Geeta.
"Hallo.. Assalamu'alaikum mbak. Ini Arma." kata suara si seberang sana sedikit melunak.
"Iyaa.."
"Mbak Geeta ku yang baik dan cantik, boleh nggak saya pinjam uang?"
"Berapa?"
__ADS_1
"Dua puluh juta." jawab Bang Arma.
"Share loc, nanti saya kesana sama Mas Ren. Kalau uang itu di pergunakan sebagaimana mestinya baru saya serahkan." ucap Geeta.
"Siaap.."
...
Bang Rhenas dan Geeta meninggalkan gedung dan Abang iparnya karena sepertinya Bang Arma sangat membutuhkan bantuan. Di dalam mobil, Bang Renash cukup cemas karena Geeta belum pernah bertemu dengan adiknya secara langsung. Mungkin Geeta pernah melihatnya tapi hanya sekilas lewat layar kaca karena adiknya juga adalah seorang atlet.
"Seperti apa rupa Bang Arma?"
"Panggil saja Arma. Dia adik iparmu." kata Bang Renash.
Geeta mengangguk ragu. Wajahnya masih menerawang bagaimana rupa adik ipar yang belum pernah di ketahuinya itu.
"Apa pekerjaannya? kenapa pinjam uang?" tanya Geeta penasaran.
"Baru di lantik jadi anggota beberapa bulan yang lalu. Sebelum kita berangkat ke USA."
"Tentara???"
...
Satu tamparan keras mendarat di pipi Bang Arma yang masih setengah sadar. Adik Bang Renash terlalu banyak minum sampai membuat keributan di diskotik karena menyambar seorang wanita dan menghajar bodyguard sampai harus membayar denda karena melanggar peraturan.
"Pakai otakmu Ar..!!" bentak Bang Renash.
"Aku maunya tunjang atau ayam pop, bukan otak." kata Rojaz. Sahabat kental adiknya yang bagai pinang di belah kapak.
"Kalian berdua memang pantas jadi rendang..!!!!"
plaaakk.. plaaaakk..
Bang Renash menghajar Bang Arma dan Bang Rojaz.
Jauh disana terlihat Geeta sedang bernegosiasi untuk membebaskan dua pria hilang akal itu. Untung saja Geeta kenal dengan pemilik diskotik tersebut.
Sebenarnya Bang Renash ingin bertanya pada Geeta tapi saat ini bukanlah waktu yang tepat. Membebaskan adiknya adalah tujuan utamanya saat ini.
"Sudah Mas. Hanya bayar sepuluh juta saja." kata Geeta.
__ADS_1
"Ya sudah ayo pergi dari sini..!!!" perintah Bang Renash.
Setelah berpamitan dengan pemilik diskotik, Bang Renash pun pergi.
-_-_-_-_-
Malam hari Bang Arma dan Bang Ojaz sudah sadar. Bang Arma menunduk tak mau menatap mata Abangnya, hanya Bang Ojaz yang sedang menyantap kue nastar berbetuk kura-kura milik Geeta.
Bang Renash menyambar toples di tangan Bang Ojaz kemudian mengganti kue kering nastar dengan bentuk bulat standard.
"Ada apa Bang? Nggak boleh di makan?" tanya Bang Ojaz.
"Yang lain boleh. Kecuali yang bentuk kura-kura itu. Badanmu mendadak kebas kalau yang punya marah." jawab Bang Renash.
Sesaat kemudian Geeta menuju ruang tamu dan mengambil toples kue nastar kura-kuranya lalu kembali masuk ke dalam kamar.
"Itu pemiliknya." Kata Bang Renash.
Dengan cepat wajah Geeta melongok di pintu ruang tengah. "Nastar Geeta kurang dua biji, siapa yang makan?"
Refleks telunjuk Bang Arma dan Bang Ojaz menunjuk Bang Renash. Seketika kening Geeta berkerut.
"Kenapa Mas Ren makan??? Geeta khan sudah bilang, itu nastar kesayangan Geeta."
"Waahh.. Abang keterlaluan sekali." kata Bang Arma.
"Jangan begitu Bang, kasihan.. mana istri lagi hamil. Yang ini saja masih banyak." Bang Ojaz menunjuk toples di tangannya tanpa rasa bersalah.
Bang Renash gelagapan karena Geeta sudah menatapnya.
"Mas Ren keterlaluan..!!!!" Geeta pun masuk ke dalam kamar.
"Ini.. anu.. Duuuuuhh.. kalian berdua ini memang kurang ajar, perkara sepele jadi panjang urusannya." gerutu Bang Renash kemudian menyusul Geeta masuk ke dalam kamar.
.
.
.
.
__ADS_1