
Geeta menghabiskan dua scoop es krim sedangkan Bang Renash memijat kepalanya, rasa syok masih membuatnya lemas, pikirannya masih kosong melompong.
"Geeta mau lagi donk Mas."
"Ya sudah sana. Jangan terlalu banyak, udara di sini masih dingin..!!" Kata Bang Renash. Nada suaranya merendah, jangankan untuk ribut.. bersuara saja rasanya membutuhkan banyak tenaga.
"Okeeyy.. dua lagi."
"Satu sajaa.. please dek..!!" Larang Bang Renash.
"Iiihh pelit."
Apapun ucap Geeta tak lagi ia jawab untuk hari ini. Yang jelas calon bayinya baik-baik saja itu sudah lebih dari cukup.
-_-_-_-_-_-
Di dalam pesawat tak hentinya Geeta mengunyah makanan seolah tak ada pantangan apapun yang manjadi penghalang. Berbanding terbalik dengan Bang Renash yang terlihat jauh lebih lemas, letih, kurang bertenaga, mual dan sedikit menghindari sesuatu yang berbau menyengat.
"Mas mau steak nggak?" Tanya Geeta menawari Bang Renash.
"Nggak, habiskan saja semua.. sekalian punya mas kalau perutmu kuat." Jawab Bang Renash.
"Kuat." Geeta langsung menyambar steak milik Bang Renash tanpa basa basi. "Terus mas maunya apa?"
"Potongan tomat itu saja. Mas nggak nafsu makan."
"Oohh oke..!!"
***
Beberapa orang anggota menyambut Bang Renash yang sudah mengharumkan nama satuan dan Batalyon.
"Selamat datang Letda Renash Hariral.. usaha kerasmu sangat membanggakan..!!" Komandan menyambut Bang Renash tapi aroma parfum Danyon membuatnya mual.
"Ijin Dan..!!" Bang Renash berlari menuju toilet bandara dan Komandan hanya bisa ternganga melihatnya.
"Beri dia liburan, sepertinya memang Renash terlalu lelah selama di USA." Kata Danyon.
Jauh disana banyak yang meminta foto bersama dengan Geeta. Sembari mengunyah apel, Geeta melayani fansnya dan tak menyadari apa yang terjadi pada Bang Renash.
"Daann.. minta satu ambulance ya..!! Letda Renash pingsan di toilet..!!" Lapor seorang junior Bang Renash.
__ADS_1
...
Bang Angger dan Bang Anggara jauh datang dari seberang demi menyambut Geeta adik kesayangan mereka dan juga dengan Bang Renash. Tak disangka saat itu Bang Renash malah tumbang dan harus di bawa ke rumah sakit hingga penyambutan untuk mereka menjadi batal dan gagal total.
Pak Dewa yang sedang sibuk pun sampai ikut datang ke rumah sakit.
Geeta menunduk takut saat Papa dan kedua Abangnya datang tapi hal itu tak menyurutkan semangatnya untuk menyantap semangkok bakso.
"Ada apa? Kenapa suasana jadi sepi dan mencekam seperti ini?" Tegur Papa Dewo.
Geeta melirik Bang Renash tapi kekasihnya itu seakan tak paham maksud hatinya.
Bang Angger melihat ada yang tidak beres terjadi pada adik perempuannya. "Kenapa lihat Renash terus?? Kalau ada masalah bilang sama Abang..!!"
"Maas..!!" Geeta memanggil Bang Renash namun untuk kesekian kalinya Bang Renash tidak paham maksud Geeta.
"Cepat katakan..!!!" Suara Bang Angger semakin meninggi.
"Geeta hamil Bang." Ucap Geeta dengan lantang.
"Astaghfirullah.." Bang Anggara mengusap wajahnya.
Bang Angger diam mematung, wajahnya memerah penuh amarah dan akhirnya Papa Dewo berjalan cepat berdiri di samping Bang Renash.
"Bagaimana nggak emosi Pa, seharusnya Renash jaga Geeta.. bukan malah merusak Geeta." Bang Angger mengepalkan tangan dan hampir menghajar juniornya itu.
"Renash dan Geeta sudah menikah." Jawab Papa Dewo.
"Kapan?"
"Kapaan??"
"Kapaaan???
Bang Angger, Bang Anggara dan Geeta menyahut bersamaan.
"Sebelum Renash dan Geeta pergi ke USA. Papa sendiri yang menikahkan..!!" Kata Papa Dewo.
"Alasannya apa Pa, aku Abangnya juga berhak tau. Ini pernikahan adik bungsuku, kenapa tidak ada kabar?? Tidak ada seruan apapun, setidaknya ada syukuran kecil untuk pernikahan Geeta.. bagaimana kalau orang menyangka Geeta hamil duluan????" Sungguh Bang Angger tidak bisa menerima kenyataan bahwa adiknya sudah menikah.
"Bang Angger benar Pa. Gara juga nggak terima Geeta menikah dengan cara seperti ini..!!" Protes Bang Anggara.
__ADS_1
Disana hanya Geeta yang terdiam. Ia merasa di permainkan oleh keadaan, Geeta berjalan cepat keluar dari kamar rawat Bang Renash.
"Geeta.. dek..!!" Bang Renash ingin menyusul tapi kepalanya masih terasa berat.
Bang Angger berjalan menyusul Geeta yang tengah marah.
:
Dengan lembut dan sayang Bang Angger mengusap rambut Geeta yang sedang terurai cantik.
"Usianya sudah berapa?" Bang Angger menunjuk ke arah perut Geeta dengan bibirnya.
"Sembilan minggu Bang."
"Bukan main si Renash." Gumam Bang Angger sembari meraup wajahnya dengan rasa nyeri. Bisa-bisanya juniornya itu meminta Geeta untuk bertanding dalam kondisi adiknya itu sedang hamil muda. Ia mengepalkan jemarinya memendam rasa jengkel.
:
"Sumpah Bang, Geeta saja baru bilang kemarin saat usai pertandingan. Kalau saya tau Geeta hamil juga saya akan larang Geeta bertanding apapun resikonya."
"Kamu selalu bersama Geeta, mana mungkin kamu tidak tau kalau Geeta hamil." Sergah Bang Anggara sembari menarik pakaian Bang Renash.
"Iya saya salah karena kecolongan. Tapi sungguh Bang, saya masih punya pikiran waras. Saya juga 'ngeman-eman' anak, saya merasa sangat bersalah, syoknya masih terasa.. nggak terbayang kalau Geeta terkena tendangan."
"Benar-benar minta di hajar kamu ya. Lagi pula kenapa kamu nyenggol Geeta.. itu tempat tanding, bukan tempat honeymoon Ren..!!" Suara Bang Angger masih menggelegar di seluruh ruangan saat kedua Abang menginterogasi Bang Renash.
"Kalian jangan ribut. Sudah jadi anak mau bagaimana lagi. Beeya hamil, Geeta juga hamil. Terima saja kalau kalian mau punya keponakan." Papa Dewa mendinginkan suasana.
"Benar, ini bukan aib. Ini rejeki. Alhamdulillah keluarga kita bertambah." Kata Bunda Bian.
"Alhamdulillah." Jawab kedua Abang melirik Bang Renash penuh ancaman.
Bunda Bian mengusap perut Geeta.. senyum cantik tak hentinya merekah dari wajah cantiknya. "Beeya sudah hamil tiga bulan, Geeta dua bulan. Bunda mau bersiap, rumah pasti ramai sekali."
Papa Dewa mengurut keningnya. "Lebih baik Renash pindah satuan tugas. Papa ketar ketir mikir ada atlet hamil."
"Saya juga sempat berpikir begitu pa. Kepikiran Geeta sampai nggak enak makan, takut Geeta lompat indah kalau saya meleng sedikit saja. Setidaknya kalau ada Bang Angger dan Bang Anggara, ada beberapa pasang mata yang ikut mengawasi Geeta." Kata Bang Renash akhirnya mengungkapkan kegalauan batinnya.
.
.
__ADS_1
.
.