Sign Of Zodiac: Cancer

Sign Of Zodiac: Cancer
Penasaran


__ADS_3

Suara derap kuda berkelotak di jalanan batu. Damian melalui perjalanan dengan hening bersama pemuda asing yang baru dikenalnya itu. Kini Damian sudah tidak berselera untuk bertemu dengan sang Viscountess, tetapi ia juga tidak bisa kembali begitu saja ke rumahnya karena pertengkarannya dengan Titus.


Damian berusaha memutar otaknya. Ia juga tidak bisa mendatangi penginapan di tengah malam buta seperti itu. semua penginapan sudah mengunci diri mereka sendiri di dalam bangunan karena ancaman Deimheim. Kembali ke Red Lotus juga sama saja. Kusirnya yang lancang itu sudah mengunci pintu begitu Damian keluar. Tidak ada harapan bahwa ada yang masih bangun pada jam ini.


Kecuali janjinya pada Viscountess Gause, tidak ada yang menunggu Damian datang malam itu. Sayangnya, Ia tidak bisa sembarangan tidur di jalanan. Bisa-bisa roh jahat kembali datang untuk melahapnya.


Pada akhirnya, karena tidak ada pilihan yang sesuai kriteria, akhirnya Damian pun memilih untuk diam-diam kembali ke manor keluarga Castor, rumahnya. Setidaknya Damian bisa memanjat pagar rumahnya tanpa diketahui siapa pun dan masuk melalui pintu rahasia yang hanya diketahui olehnya. Ia mengarahkan Kutzo menuju kediaman keluarganya dan sang pemuda Giyatsa itu pun menurutinya tanpa banyak bertanya.

__ADS_1


“Kalau begitu aku akan meninggalkanmu di sini. Semoga kita tidak bertemu lagi,” ujar Kutzo setelah mereka berada di depan manor keluarga Castor.


“Itu juga mauku,” gerutu Damian lantas mulai memanjat gerbang rumahnya.


“Tunggu. Kau mau mencuri di kediaman bangsawan?” tanya Kutzo terkejut.


Kutzo hanya mengawasi dalam diam. Begitu berhasil melompati gerbang setinggi dua meter itu,Damian pun menyadari bahwa orang yang dia tumpangi masih duduk diam di atas kudanya sembari menatapnya dengan nanar.

__ADS_1


“Kenapa kau masih ada di sini? Pergilah,” usir Damian kesal.


Kutzo terdiam sejenak. Namun kemudian ia lantas menghela kudanya dan berderap pergi meninggalkan Damian. Pemuda itu pun segera melesat ke arah sebuah lubang yang ada di sisi kanan manor. Tempat itu adalah pintu masuk rahasianya yang tertutup semak-semak bunga mawar yang lebat. Tidak ada orang yang mengetahui bahwa di bawah situ ada lubang seukuran tubuh anak-anak yang bisa digunakan untuk menyelinap masuk.


Melalui lubang itulah Damian akhirnya berhasil mencapai koridor belakang manornya yang sudah sepi. Tidak ada obor yang dinyalakan di koridor tersebut karena memang jarang dilewati oleh orang-orang. Damian pun akhirnya berjalan tanpa suara menuju kamarnya sendiri di lantai dua. Ia tidak ingin membangunkan siapa pun di tengah malam itu. Keadaan pasti akan canggung kalau ada yang menyadari dia pulang diam-diam hari itu.


Setelah petualangan panjang melibatkan Deimheim, dan penyusupan ke kediaman sendiri, Damian pun akhirnya bisa kembali beristirahat. Ia melepaskan bajunya dan berganti dengan piyama yang nyaman lantas merbahkan diri di atas tempat tidur.

__ADS_1


Pikirannya melayang kepada sosok pemuda Giyatsa bernama Kutzo itu. Kenapa dia ada di Ponza? Lebih dari itu, bagaimana bisa ia mengalahkan seekor roh jahat hanya dengan satu serangan. Sudah begitu, Kutzo juga punya kuda abu-abu yang cantik. Semua hal tentang pemuda asing itu menggelitik rasa penasaran Damian. Instingnya untuk mencari berita pun terusik. Besok pagi, saat matahari sudah terbit, Damian harus mulai mencari informasi tentang orang tersebut.


__ADS_2