
Mengikuti instruksi Altan, Damian akhirnya memasuki kondisi meditatif yang sempurna. Rasa berserahnya meningkat karena ia tidak lagi memiliki harapan. Damian sudah kehilangan segalanya, dan justru karena itu, kondisi mentalnya menjadi lebih mudah memasuki tataran bawah sadar.
Pada satu titik ketika ia merasa napasnya mengalir sangat tenang, Damian merasakan gejolak energi dari batu yang dia genggam. Hawa hangat seperti mengalir dari telapak tangannya, bergerak pelan menuju lengan, hingga dada, lalu perut dan seluruh tubuhnya. Damian merasakan kenyamanan yang belum pernah dia rasakan sebelum ini. Keadaan damai yang candu. Seperti puncak ekstase yang nikmat di mana tubuhnya tidak lagi merasakan beban berat.
Lambat laun kesadarannya dibawa ke sebuah tempat kosong yang dilingkupi pendar cahaya hijau terang. Damian menyadari dirinya tengah melayang di tengah dimensi yang asing tapi terasa familiar. Ia mencoba bergerak. Namun tubuhnya justru terurai, memudar bersama aliran waktu. Gambar-gambar aneh terputar di hadapannya, seperti rol film yang menunjukkan berbagai kehidupan orang yang berbeda-beda.
Awalnya Damian tidak mengenali rangkaian peristiwa yang ditunjukkan gambar-gambar itu. Namun kemudian, suatu pemahaman mendesaknya dari dalam hati, membawanya pada keyakinan bahwa rangkaian gambar itu adalah ingatan jiwanya yang telah terpendam lama di dalam dirinya. Damian mengingat semuanya. Siapa dirinya sebenarnya, dan apa tujuannya berada di sini.
Entah sudah berapa lama Damian berada di sana, tetapi rasanya ia tidak ingin meninggalkan tempat itu. Sensasi nyaman seperti menemukan rumahnya sendiri. Damian tidak ingin pergi. Namun suara Altan terus mengganggunya. Sayup-sayup ia mendengar namanya seperti dipanggil dari kejauhan oleh Altan. Semakin lama semakin keras, dan panik.
“Tunggu. Panik?” Damian berbicara pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Setelah mendengarkan dengan seksama, rupanya bukan hanya suara Altan yang terdengar, melainkan bunyi pertarungan dan teriakan orang-orang yang ketakutan. Apa yang terjadi?
Damian memaksa kesadarannya kembali ke raganya. Kedua matanya telah terbuka selama ia bermeditasi dengan duduk bersila. Bukan hanya terbuka, tapi juga menyorotkan cahaya hijau terang. Seluruh tubuh pemuda itu dilingkupi cahaya hijau yang sama, dan batu Zodiak sudah lenyap dari genggamannya. Secara instingtif Damian tahu bahwa batu itu telah menyatu dengan tubuhnya. Di kening Damian, simbol cakra Ajna tertoreh dengan warna ungu terang.
Pemuda itu mengerjap, mencoba menyingkirkan sorot cahaya hijau dari kedua matanya agar bisa melihat keadaan di sekitar. Sinar tersebut akhirnya mereda dengan perintah di benaknya, hingga membuat Damian bisa melihat dengan jelas kejadian di depannya.
Hari sudah gelap, tetapi hiruk pikuk melingkupinya. Rombongan Deimheim, bukan hanya satu melainkan belasan, berkelebat riuh di sekitarnya. Altan mencoba melawan mereka dengan belati dan busur panahnya. Namun, jumlah roh jahat yang muncul lebih banyak dari yang bisa ditangani pemuda Giyatsa itu.
Damian segera beranjak berdiri, menyusul Altan yang bertarung di dekatnya. “Apa yang terjadi?” tanyanya.
“Bagus! Kau sudah sadar! Chögörü ini mengincarmu! Mereka merasakan energi kebangkitan Pejuang Zodiak dan berusaha membunuhmu sebelum kau sadar sepenuhnya. Apa sekarang kau bisa menggunakan kekuatanmu?” jawab Altan balas bertanya.
__ADS_1
Damian mengangguk. Baru beberapa waktu yang lalu dia dibangkitkan. Namun, seluruh kekuatan Zodiaknya sudah kembali bersama ingatan akan jati dirinya. Damian pun akhirnya turun ke medan pertempuran.
“Kalian semua menyingkirlah, aku akan melawannya!” seru Damian sembari meraih pedang salah seorang Ksatria yang jatuh ke tanah.
Tepat pada saat Damian menghunuskan pedang tersebut, langit malam kembali tersibak. Kegelapan yang dibawa oleh Deimheim seketika lenyap diterangi cahaya bulan yang benderang. Damian mulai menyabetkan pedangnya pada Deimheim yang terbang lurus ke arahnya. Kilatan cahaya biru muncul dari tebasan pedangnya, membelah tubuh roh jahat itu dalam satu serangan. Damian terus bermanuver, berkelit dan menebas dengan penuh energi, seolah pedang tersebut adalah bagian tubuhnya sendiri.
Para ksatria yang tersisa berlari menyelamatkan diri sementara Damian dan Altan membunuh roh-roh jahat yang beringas itu. Tiga puluh menit kemudian, seluruh roh jahat di lapangan tarung akhirnya lenyap tak bersisa. Damian berdiri menatap bulan yang cemerlang sambil masih menggenggam pedangnya.
“Kau berhasil,” kata Altan menghampirinya.
“Altan,” jawab Damian pendek.
__ADS_1
“Senang bertemu denganmu, Pejuang Cancer,” ujar Altan tersenyum.