
“Sama saja seperti dengan wanita lain. Kau bertanya seolah belum pernah mengalaminya sendiri, Derrick,” balas Damian sembari mendengkus pendek.
Derrick tertawa lepas. “Baiklah, baiklah. Aku tidak akan membahasnya lagi. Ini. Kasus-kasus yang membutuhkan penangananmu. Memang bukan kasus yang besar. Tapi bayarannya lumayan,” ucapnya sembari menyodorkan empat lembar perkamen berisi detail permintaan para klien untuk membantu kasus persidangan.
Selama ini, begitulah cara Damian bekerja. Orang-orang yang membutuhkan penyelidikan ‘tidak resmi’ atas kasus mereka bisa meminta bantuan Damian melalui Guild tersebut. Damian membolak balik isi perkamen itu sambil membacanya dengan bosan.
“Apa tidak ada kasus yang menarik? Semua hanya soal sengketa tanah di toko dan butik biasa. Sekalipun para pedagang itu membayar mahal, tapi tidak ada yang istimewa di sini. Kau tahu kalau aku suka menangan skandal besar,” ucap Damian sembari meletakkan kembali perkamen-perkamen itu di atas meja.
Raut wajah Derrick berubah serius. Ia menghela napas dengan berat sembari menatap Damian lekat-lekat. “Aku tahu kau pasti akan berkata seperti ini,” ucapnya pendek.
“Kau sudah tahu tapi tetap memberiku kasus sepele seperti ini,” protes Damian. “Keluarkan kasus terbesarmu. Aku akan menanganinya.”
Derrick tampak sedikit tertekan. Meski begitu, dengan berat hati ia pun mengeluarkan perkamen lain dari dalam laci mejanya. “Aku sengaja tidak memberikan kasus ini padamu. Masalah yang satu ini mungkin akan sedikit berat untuk kau tangani, Damian. Apa kau yakin?” tanya Derrick serius.
Damian mengerutkan dahi. “Kau meragukan cara kerjaku? Tidak usah berpikir macam-macam. Aku sudah berkontribusi besar dalam pendapata Guildmu selama beberapa tahun belakangan,” desaknya tak sabar.
“Bukan itu masalahnya. Yah, terserah kau sajalah. Kubiarkan kau menilai sendiri kasus ini,” sahut Derrick sembari menyerahkan selembar perkamen yang baru dia ambil tadi.
Damian menerimanya dengan penasaran lantas membaca dengan seksama. Sontak ekspresi wajahnya berubah kaget. “Ini … ,” desisnya tak percaya.
__ADS_1
“Sudah kubilang. Ini terlalu rumit. Kakak iparmu, Lady Arabela. Dia datang sendiri ke sini dengan seorang pelayan. Dia meminta bantuanmu untuk menuntut kakak pertamamu, Titus Castor,” jelas Derrick kemudian.
Damian akhirnya mengerti kenapa Derrick menyembunyikan kasus ini darinya. Jika ia terlibat kasus ini, mungkin hubungan keluarganya benar-benar akan hancur. Reputasi keluarga Castor juga dipertaruhkan di sini. Meski begitu ia tetap merasa tertantang. Ini adalah kesempatan yang langka untuk membuat kakak pertamanya jera. Arabela berniat menuntut Titus untuk kasus kekerasan dalam rumah tangga. Semua orang sudah tahu bagaimana temperamen kakak pertama Damian itu.
“Jadi, apakah kau akan menerimanya?” tanya Derrick membuyarkan lamunan Damian.
Damian menghela napas pendek, lantas menggulung perkamen itu dan memasukkannya dalam saku mantelnya. “Akan kupikirkan. Aku akan memberitahumu kalau aku sudah punya jawbannya.”
“Kau benar-benar akan mempertimbangkan kasus itu? Bukankah itu akan merusak reputasi keluarga Duke Castor. Ayah dan ibumu pasti marah besar. Lepaskan saja kasusnya. Kita berdua sama-sama tahu kalau uang bukanlah masalah kita sekarang,” ujar Derrick memperingatkan.
“Pekerjaan adalah pekerjaan Derrick. Aku tetap harus professional meski menyangkut keluargaku sendiri,” sahut Damian keras kepala.
“Tenanglah, Derrick. Aku akan mengurusnya. Ayah tidak akan bertindak sejauh itu. Ibuku juga tidak akan tinggal diam kalau aku memintanya melindungiku. Dan aku juga belum memutuskan untuk mengambil kasus ini atau tidak. Kalau kau memang sekhawatir itu, seharusnya kau tidak memberitahuku tentang ini,” sahut Damian ringan.
Derrick menghela napas dengan keras lantas merebahkan tubuhnya ke sandaran kursi. “Benar-benar membuatku gila. Pada akhirnya kau juga akan tahu meski aku tidak memberitahumu sekarang,” ucap pemuda itu sembari memijat pelipisnya yang berdenyut-denyut karena tekanan darahnya yang naik.
“Percaya saja padaku, Derrick. Sebagai ketua guild kau benar-benar lemah,” komentar Damian.
“Ini bukan lemah, Damian. Aku hanya berhati-hati dalam melangkah,” sambar Derrick gusar.
__ADS_1
“Oke. Oke. Terserah apa katamu. Ngomong-ngomong aku juga punya pekerjaan untukmu. Aku perlu informasi tentang seseorang,” ujar Damian sembari mengeluarkan sekantong uang perak dari mantelnya. Kantong itu bergemerincing ketika ia letakkan di atas meja kerja Derrick.
“Bajingan mana yang mau kau ganggu kali ini?” sahut Derrick malas.
“Namanya Kutzo. Sepertinya dia orang Giyatsa. Aku ingin tahu kenapa dia ada di Ponza. Tidak pernah ada orang dari suku lain datang ke kota kita selama ini.”
“Ah, orang itu. Kau tidak perlu membayar untuk informasi ini. Semua orang di kota sudah tahu tentangnya. Dia tinggal di kediaman Marquess Erald. Dia datang untuk mencari orang dalam ramalan atau apalah itu. Sesuatu tentang mitos pejuang zodiak. Bukan informasi yang berguna. Tapi kabar luar biasanya adalah bahwa orang Giyatsa itu juga selalu berkeliaran di tengah malam dan berburu Deimheim. Mungkin kota kita bisa segera pulih dari teror roh jahat tersebut selama dia ada di sini. Karena itu para bangsawan menerima kedatangannya ke Ponza.”
“Hanya itu?” tanya Damian tak puas.
Derrick mengangguk. “Ya. Hanya itu. Apa lagi yang kau harapkan? Dia muncul sebulan yang lalu. Berkeliaran di tengah kota dengan penampilannya yang mencolok itu. Serba putih dengan bulu-bulu rubah yang aneh. Petugas keamanan membawanya ke balai kota untuk bertemu ayahmu. Duke Castor lantas mengizinkannya tinggal setelah mengetahui alasannya berkunjung.”
Damian berpikir sejenak. Ia ingat bahwa ayahnya memang pernah membahas hal itu saat makan malam keluarga. Ia tidak menyangka bahwa orang yang dimaksud rupanya adalah sang pemuda Giyatsa yang sudah menyelamatkannya dari serangan roh jahat. Damian memang tidak pernah terarik masalah-masalah politis. Hanya skandal besar yang dia tekuni.
“Baiklah. Terima kasih informasinya. Kau bisa mengambil uangnya. Aku pergi,” ucap Damian kemudian.
“Hmm … oke,” sahut Derrick pendek. “Sekali lagi aku memperingatkanmu untuk memikirkan baik-baik kasus Lady Arabela,” tukas Derrick ketika melihat Damian mengenakan jubahnya lagi.
Damian hanya melambai ringan lantas keluar dari ruangan tersebut tanpa menoleh lagi.
__ADS_1