Sign Of Zodiac: Cancer

Sign Of Zodiac: Cancer
Permohonan


__ADS_3

Damian kembali ke kamarnya. Bayangan kematian seperti terus mengantuinya. Ia menghabiskan hari dengan menenggak anggur hingga nyaris tak sadarkan diri. Kondisi seperti itu berlangsung selama beberapa hari kemudian. Entah kenapa Damian merasa tidak ingin melihat hari esok. Mimpi-mimpi buruk juga terus menghantuinya, membuat kondisi pemuda itu semakin terpuruk.


Suatu ketika, setelah hampir satu minggu Damian bertingkah tidak seperti dirinya, kakak iparnya, Aurela, mendatanginya. Perempuan yang pernah ada di masa lalu Damian itu tampak prihatin melihat kondisinya. Damian sedang terkapar teler di atas sofa kamarnya. Puluhan botol anggur terserak di mana-mana, membuat aroma ruangan tersebut dipenuhi dengan bau alkohol.


“SAmpai kapan kau akan bersikap seperti ini? Apa kematian wanita itu sebegitu pentingnya untukmu? Kau tidak pernah peduli pada orang lain sebelum ini,” ujar Aurela lantas duduk di hadapan Damian sementara pemuda itu berbaring di sofa dengan lengan menutupi wajah. Ia diam saja, tidak menanggapi kata-kata Aurela sama sekali.


Aurela pun terdiam sejenak. Namun, karena tidak ada respon, ia melanjutkan kata-katanya. “Aku akan mengajukan cerai pada Titus,” ujar perempuan itu kemudian.


Damian membuka sedikit lengannya yang menutupi mata, lantas melirik ke arah kakak iparnya. Ia pun menghela napas lelah kemudan beranjak bangkit dan duduk di sofa dengan malas.


“Jangan menambah beban pikiranku,” ujar Damian pelan, sembari menuangkan kembali sebotol brandy di slokinya yang sudah kosong.


“Aku serius, Damian. Aku benar-benar sudah tidak tahan lagi. Aku lebih baik mati dari pada harus bertahan dengan penderitaan seperti ini,” ujar Aurela kini mulai terisak dan menangis.


Damian menghela napasnya lagi. Dulu, ia mungkin akan langsung tergerak jika melihat air mata Aurela. Namun sekarang, hatinya seperti sudah membeku. Ia tidak peduli lagi pada siapa pun. Bukan hanya mereka yang menderita. Hatinya juga telah banyak menderita hingga membuatnya menjadi sekacau ini. Pemuda itu lantas menenggak minuman kerasnya dalam sekali teguk. Setelah menikmati sensasi alkohol di tenggorokan dan lidahnya, ia pun menyahut Aurel yang sudah mulai mengganggu dengan suara tangisannya.


“Ya sudah. Lakukan saja,” sahut Damian pendek.

__ADS_1


“Kau tahu aku tidak akan bisa melakukannya sendirian. Bagaimana mungkin orang sepertiku bisa keluar dengan selamat dari keluarga ini. Ayahmu, ibumu, mereka pasti bersikeras untuk membuatku tetap bertahan. Bahkan mungkin mereka akan menggunakan anak-anakku untuk mengancam. Aku mendatangimu karena sudah begitu putus asa Damian. Kau harus membantuku. Hanya kau yang bisa melakukannya,” ujar Aurela dengan nada memohon.


Damian mendengkus. “Di saat seperti ini kau baru datang padaku. Padahal dulu kau menginggalkanku begitu saja tanpa menoleh,” sahut pemuda itu sarkastik.


Aurela tersentak. Sejenak ia berhenti terisak lantas mulai menunduk muram. “Begitukah menurutmu? Aku … tidak pernah ingin menikah dengan orang lain selain dirimu, Damian. Tapi apa yang bisa kita lakukan saat itu? Kita sama sekali tidak punya kekuatan, apa lagi kekuasaan. Bahkan sampai sekarang …,” kata-kata perempuan itu terputus. Air mata menggenang lagi di pelupuk matanya, menetes pelan dengan ukuran besar-besar. “… sampai sekarang … aku pun masih mencintaimu,” pungkasnya dengan suara bergetar.


Damian terdiam. Diliriknya perempuan yang duduk di hadapannya itu. Entah sejak kapan ia berhenti mencintai Aurela. Lebih tepatnya, ia berhenti mencintai siapa pun. Damian sudah kehilangan kepercayaan pada wanita. Luka yang pernah dia rasakan dulu, membuatnya memilih untuk menutup hati, dan semata-mata hanya menjalin hubungan yang dangkal dengan orang lain.


Akan tetapi, sekarang, orang yang telah memicu traumanya di masa lalu, duduk menangis di depannya. Lemah, menyesal dan menderita. Seharusnya Damian merasa puas bisa melihat perempuan yang sudah menyakitinya menjadi begitu terpuruk. Sayangnya tidak. Anehnya hatinya justru terasa kosong, tanpa emosi.


“Aku sedang tidak berminat untuk mengambil kasus baru. Bahkan mungkin aku akan berhenti menjadi delator,” ungkap Damian jujur.


Selama ini ia bekerja sebagai delator semata-mata karena memiliki kebencian besar di hatinya, dan ingin agar orang-orang yang menurutnya bersalah, menerima hukuman yang berat. Namun, melihat pengorbanan Luceila padanya, Damian sadar, bahwa kebenciannya itu tidak ada gunanya. Masih ada orang yang begitu rela berkorban untuknya. Damian seperti mendapat harapan di tengah keputusasaan. Mungkin, di masa depan, ia bisa benar-benar menemukan orang yang setulus itu mencintainya. Karena itulah dia tidak ingin lagi memelihara kebencian dalam hatinya.


“Jangan … jangan bilang begitu, Damian … tolong,” rintih Aurela tiba-tiba. Kedua matanya terbelalak, bergetar dan masih berderai air mata. “Kumohon … kau harus menolongku. Kalau bukan kau, aku tidak tahu siapa lagi yang bisa menyelamatkanku dari neraka ini,” lanjutnya sembari mengatupkan kedua tangan.


Damian mengamati perempuan itu. di kedua lengan, bahkan di lehernya, tampak dipenuhi lebam-lebam kebiruan dan beberapa luka sayatan. Aurela juga sudah berubah banyak sejak terakhir kali menjalin hubungan dengannya dulu. Sekarang perempuan itu tampak tirus, dengan mata menggantung tampak kelelahan. Penampilannya yang bersih semata-mata karena dipoles oleh para pelayan yang harus membuat bangsawan seperti mereka tampak cantik dan baik-baik saja di hadapan orang lain. Meski begitu, Damian tahu, di balik gaunnya yang berumbai indah itu, terdapat lebih banyak luka fisik yang tak terhitung jumlahnya. Belum lagi luka batin yang harus ditahan oleh Aurela. Kakak pertamanya memang segila itu. Damian tahu.

__ADS_1


Pemuda itu kemudian menghela napas berat. “Lalu bagaimana dengan anak-anakmu? Kau tidak memiirkan mereka?” tanyanya.


Aurela tertunduk. “Orang tuamu tidak akan membuang cucu-cucunya. Kandidat pewaris keluarga Castor. Mereka adalah anak-anak keluarga Castor,” gumam perempuan itu pelan.


Damian tertawa miris. “Kau sudah sama gilanya dengan kakakku, rupanya. Dasar wanita egois. Kau bermaksud membuang anak-anakmu juga? Benar-benar keluarga yang kacau,” komentar Damian merebahkan punggungnya di sandaran sofa.


Kepalanya masih berdenyut-denyut akibat alkohol. Tubuhnya pun terasa seperti melayang. Namun, pikirannya tetap tajam seperti biasa. Damian memang dikenal sebagai orang yang memiliki toleransi tinggi terhadap minuman keras.


“Itu karena aku terlibat dengan keluarga ini. Aku tidak akan menjadi gila kalau tidak menikahi makhluk mengerikan itu,” ujar Aurela menggeretakkan gigi.


Damian mendesah panjang. Kebencian di mata Aurela itu terasa familiar. Itulah yang pernah dia rasakan di masa lalu sebelum hatinya benar-benar tertutup. Melihat ekspresi sang kakak ipar, akhirnya perasaan Damian pun tergerak. Mungkin segalanya memang perlu diakhiri.


“Baiklah. Aku akan mengurusnya. Sebelum itu, kau harus kembali ke rumah keluargamu terlebih dahulu. Kau tidak berniat mengajukan perceraian sementara tetap berada di rumah ini kan?” ujar Damian akhirnya mengalah.


Alih-alih setuju, Aurela justru semakin bergetar ketakutan. Perempuan itu menggeleng lemah sambil menggumam. “Aku tidak punya tempat untuk kembali. Keluargaku pasti tidak akan menerimaku jika aku melepaskan status sebagai menantu keluarga Cartos. Tidak … aku tidak bisa pulang ke rumahku,” ujarnya setengah merintih.


“Jadi? Kau tetap akan tinggal di sini? Kau tahu itu mustahil kan?” sergah Damian mulai naik darah.

__ADS_1


“Kau harus membawaku, Damian. Tolong … bawa aku pergi dari sini,” sahut Aurela serius.


Damian terbelalak selama beberapa detik. Perlu waktu beberapa saat hingga akhirnya ia bisa mencerna permintaan tidak masuk akal Aurela itu. “Dasar sinting,” ujar pemuda itu kemudian.


__ADS_2