Sign Of Zodiac: Cancer

Sign Of Zodiac: Cancer
Hal yang Tidak Perlu Dilihat


__ADS_3

Pada akhirnya, Damian memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan tentang mimpinya. Hari pun berlalu dan pesta dansa debutante Luceila sudah di depan mata. Hari itu Damian tengah sibuk bersiap-siap untuk acara besar tersebut. Sebagai tunangan sang tokoh utama dalam acara pesta itu, Damian mafhum kalau dirinya nanti harus berperan sebagai pendamping gadis itu. Karenanya Damian harus melakukan yang terbaik.


Seorang pelayan kediaman Brutus membantunya mengenakan pakaian pesta. Pelayan itu sepertinya sudah senior karena sangat fasih dalam melakukan tugasnya. Sungguh, pada awalnya Damian tidak berniat untuk menggoda pelayan wanita itu. Namun, sepanjang membantunya mengenakan pakaian, entah kenapa Damian merasa sang pelayan menyentuh tubuhnya dengan cara yang berbeda.


Pada saat pelayan wanita itu mengulurkan tangannya untuk mengancingkan kemeja Damian, pemuda itu meraih jemarinya dengan cepat. Pelayan tersebut menatap Damian dengan berani. Senyuman simpul terkembang diwajahnya. Damian mengerti isyarat itu. Tanpa saling bicara lagi, keduanya pun berciuman begitu saja.


Damian baru saja melingkarkan lengannya ke pinggul sang pelayan ketika mendadak pintu kamarnya diketuk dan terbuka begitu saja. Sontak sang pelayan langsung melepaskan diri dari pelukan Damian, tertunduk malu lalu bergegas pergi keluar ruangan. Sementara itu Damian mengerling ke arah pintu, berharap bahwa orang yang datang bukanlah anggota keluarga Brutus.

__ADS_1


Dan saat melihat sosok yang berdiri di depan pintu, Damian pun mendesah lega. Kutzo menatapnya dengan pandangan jijik. Wajahnya mengernyit dan matanya tampak menuduh.


“Ya, ya, baik. Aku tahu aku salah. Tapi pelayan itu yang menggodaku lebih dulu,” kilah Damian sembari mengangkat kedua tangannya. Kemejanya belum terkancing sempurna dan menampakkan otot dadanya yang liat.


Kutzo menolak melangkah masuk ke kamar Damian. Ia tetap berdiri di depan pintu sambil masih merengut penuh penghakiman. “Aku hanya ingin bilang kalau setelah pesta dansa ini berakhir, aku akan kembali ke Ponza,” ujarnya memberi tahu.


“Secepat itu? Kenapa buru-buru sekali? Setidaknya tinggallah di sini barang sehari dua hari lagi. Lalu kita bisa kembali bersama,” pinta Damian membujuk.

__ADS_1


Kutzo mendengkus keras. “Aku tidak punya waktu untuk menemani bangsawan muda bersenang-senang. Kau mungkin butuh waktu lebih lama untuk bisa bermesraan dengan seluruh wanita di kediaman ini,” cela pemuda Giyatsa itu serius.


“Hei, sudah kubilang itu hanyalah kesalahpahaman. Aku benar-benar tidak berniat untuk menciumnya. Aku bahkan tidak berpikir untuk mendekati wanita mana pun di sini. Maaf karena kau jadi harus melihat hal yang tidak perlu. Aku ingin menyelesaikan tugasku dengan baik dan cepat-cepat kembali ke Ponza. Kita punya keinginan yang sama, Kutzo. Hanya saja aku harus menjaga kesopanan dan tinggal beberapa hari lagi di sini sebelum kembali,” terang Damian tak kalah serius.


“Aku tidak butuh penjelasanmu. Lagi pula seharusnya kau minta maaf pada orang lain. Bukan padaku,” sahut Kutzo ketus. Pemuda berambut perak itu pun lantas berbalik pergi meninggalkan kamar Damian.


Buru-buru Damian mengejarnya sambil terus membujuk. Bagaimana bisa dia pulang ke Ponza tanpa Kutzo. Bagaimana kalau ada serangan Deimheim lagi? “Oh, ayolah, Kutzo. Kenapa kau harus semarah itu padaku. Kau lebih sulit dibujuk dari pada wanita,” ujar Damian.

__ADS_1


Sayangnya kata-kata Damian justru berefek sebaliknya. Kutzo melotot menatap Damian dengan marah. “Sifatmu yang selalu meremehkan orang lain itu membuatku muak,” geramnya tajam, lantas berlalu pergi.


__ADS_2