Sign Of Zodiac: Cancer

Sign Of Zodiac: Cancer
Pertemuan


__ADS_3

Keesokan paginya, Damian dipanggil ke ruang kerja ayahnya. Ia sudah bisa menduga hal itu akan terjadi. Titus sepertinya dipanggil lebih dulu, dan kini sudah pergi dari rumah untuk berangkat bekerja. Nyonya Castor tidak terlihat di mana-mana, padahal biasanya sang ibu akan menghiburnya sejak pagi jika Damian mengalami masalah.


Pemuda itu mengabaikannya dan hanya fokus mempersiapkan hati untuk menghadapi kemarahan ayahnya.


“Saya menghadap, Ayah,” kata Damian setelah dipersilakan masuk ke ruang kerja Duke Castor.


Ayahnya sibuk mengerjakan berkas-berkas penting di meja kerjanya, mendongak sedikit, lantas menyuruh Damian mendekat. Pemuda itu menurut. Ia berdiri di depan meja kerja ayahnya dengan sikap sopan, tidak ingin membuat masalah menjadi lebih besar.


“Keluarlah dari rumah ini,” ujar Duke Castor singkat, padat dan … tidak jelas.


Damian mengernyitkan dahinya, tidak benar-benar paham maksud perkataan sang ayah. “Apa maksud, Ayah?” tanyanya bingung.


“Dan jangan memanggilku ayah lagi. Mulai sekarang kau bukan bagian dari keluarga Castor,” ujar Duke tegas, tanpa menoleh ke arah Damian, dan terdengar tak terbantahkan.


“Ayah … ,” ucap Damian kehilangan kata-kata.


Duke Castor menghentikan kegiatannya menulis di perkamen. Ia menghela napas pelan, lalu akhirnya mendongak menatap Damian. “Aku tidak bisa lagi mendukungmu. Kau membunuh tunaganmu sendiri, lalu sekarang mencoba menghancurkan keluarga kakakmu?” ujar sang ayah penuh tuduhan.


Damian menggeleng keras. “Saya tidak membunuh Luceila. Dia dimangsa ….” Damian tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Hatinya masih pedih mengingat peristiwa mengerikan itu.


“Itu tidak penting sekarang. Gosip yang beredar mengatakan bahwa kau sengaja memancing gadis itu keluar agar menjadi mangsa roh jahat. Kau melakukan tindakan keji itu semata-mata karena tidak ingin menikah dengan keturunan baron rendahan. Keluarga kita tidak bisa menerima tudingan buruk itu lagi. Jadi kuharap kau mengerti dan pergi saja dengan tenang menanggalkan statusmu sebagai bangsawan. Pergilah tanpa sepengetahuan ibumu. Aku akan menjelaskan padanya nanti,” kata Duke Castor tanpa emosi.


Damian benar-benar tercekat sekarang. Keputusan ayahnya sudah bulat. Ia tidak akan bisa melawannya lagi. Jadi sekarang ia dibuang dari keluarga Castor? Begitu saja? Lantas harus pergi ke mana dia setelah ini?


“Aku akan memberimu cukup uang. Kau bisa bertahan selama beberapa bulan dengan uang itu. setelah itu kau bisa hidup bebas sesuai dengan yang kau mau,” pungkas sang Duke kemudian.


***


Damian berjalan gontai keluar dari kamar ayahnya, masih terguncang dengan apa yang barusan dia dengar. Akan tetapi, ia juga tidak punya pilihan lain. Hanya dalam waktu singkat Damian sudah kehilangan segalanya. Inikah karma karena ia sudah menghancurkan hidup banyak orang sebelum ini?

__ADS_1


Pemuda itu tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Sesuai dengan permintaan ayahnya, Damian pun pergi meninggalkan kediaman keluarga Castor diam-diam, tanpa sepengetahuan ibunya. Sebelum hari gelap, ia menjelajahi kota Ponza dengan pikiran kosong. Tubuhnya seperti disetel otomatis, hanya bergerak berdasarkan insting tanpa rencana apa pun. Saat itulah ia berpapasan dengan Altan yang tengah berbelanja di pasar.


“Ini pemandangan langka. Melihatmu berjalan kaki di tengah kerumunan orang biasa di kota sama sekali tidak pernah terpikirkan olehku, Castor,” sapa Altan dengan nada sinisnya yang biasa.


Damian menghela napas berat. “Aku bukan lagi seorang Castor,” ungkapnya terus terang.


Altan tersenyum simpul sambil mendengkus. “Akhirnya kau dibuang oleh keluargamu? Itu tidak terlalu mengejutkan,” komentar pemuda berambut perak itu.


Damian melirik malas. “Terima kasih atas kejujuranmu.”


“Kau lebih tenang dari perkiraanku. Jadi apa rencanamu selanjutnya?” tanya Altan sembari berjalan menyejajari Damian.


“Entahlah. Bersenang-senang sampai mati kelaparan, mungkin.”


Altan tertawa kecil. Ekspresi langka yang tidak pernah dia tunjukkan sebelum ini.


“Sepertinya kau menikmati penderitaanku,” sahut Damian berdecih.


“Apa maksudmu?”


“Ikutlah denganku,” ajak Altan kemudian.


Damian tidak benar-benar mengerti maksud ucapan pemuda Giyatsa itu. Namun, karena tidak memiliki tempat tujuan lain, ia pun akhirnya menurut.


Altan rupanya membawa Damian menuju kediaman Marquess Erald, tempat tinggalnya selama di Ponza. Sang pemilik rumah tampaknya tidak ada di tempat. Hanya beberapa pelayan yang menyambut mereka.


“Kenapa kau membawaku ke sini?” tanya Damian kemudian.


“Aku ingin memeriksa sesuatu,” ujar Altan lantas membimbing Damian menuju kamarnya di lantai dua.

__ADS_1


Altan menyuruh tamunya untuk duduk. Beberapa pelayan menyajikan minuman dan camilan manis untuk mereka. Damian merasa Altan diperlakukan seperti tamu kehormatan di rumah ini, yang mana membuatnya iri. Tanpa status bangsawan, ia mungkin tidak bisa menerima kemewahan semacam ini lagi di masa depan.


“Coba pegang ini. Apa yang kau rasakan?” tanya Altan sembari mengulurkan batu kecil berwarna hijau yang katanya adalah batu zodiak.


Damian menerimanya dalam genggaman. Batu itu seperti berpendar samar dan terasa hangat di tangannya.


“Bagaimana?” Altan kembali bertanya.


“Bagaimana apanya?”


“Bagaimana rasanya menyentuh batu itu?”


“Rasanya … hangat,” jawab Damian tidak yakin.


“Hangat?” Altan kembali meraih batu itu dari genggaman Damian. “Batu ini terasa dingin di tanganku,” lanjut pemuda Giyatsa itu dengan alis bertaut.


Damian mengambilnya kembali. Sekali lagi ia merasakan kehangatan batu itu, yang kalau semakin digenggam terasa semakin panas.


“Tidak. Batu ini hangat, bahkan lama-lama menjadi panas. Mungkin karena panas tubuhku,” ujar Damian bersikeras.


Altan menggeleng. “Selama apa pun aku menggenggamnya batu itu tetap dingin. Benda itu tidak menyerap energi panas dari tubuh manusia. Seharusnya begitu. Kecuali ….” Pemuda itu tidak melanjutkan kalimatnya.


“Kecuali apa?” tanya Damian penasaran. Memangnya ada yang salah pada dirinya?


“Kita harus melakukan sesuatu,” kata Altan kemudian.


Tanpa penjelasan lebih lanjut, Altan membawa Damian ke lapangan tarung, tempat para ksatria kediaman Marquess biasanya berlatih. Hari itu sudah menjelang senja, dan karenanya para ksatria sudah tidak lagi beraktivitas di sana. Hanya ada mereka berdua di tempat itu.


Altan kemudian menyuruh Damian duduk bersila di tengah lapangan. Sambil menggenggam batu zodiak, Damian diminta untuk menutup mata dan mengosongkan pikiran sembari mengatur napas.

__ADS_1


“Fokus saja pada napasmu dan jangan memikirkan apa pun. Rasakan energi dari batu itu yang mengalir ke tubuhmu,” perintah Altan kemudian.


Meski tidak mengerti apa yang tengah coba dilakukan oleh Altan, Damian tetap menurut. Toh tidak ada ruginya. Siapa tahu dia juga mungkin bisa mendapat tempat bernaung malam ini, bersama seorang petarung suku Giyatsa yang handal membasmi Deimheim. Tidak ada keberuntungan seperti itu setelah ia melalui beragam masalah.


__ADS_2