Sign Of Zodiac: Cancer

Sign Of Zodiac: Cancer
Hubungan Ayah dan Anak


__ADS_3

Setelah insiden pertengkaran dengan kakaknya, Damian kini mulai menghindari Titus. Begitu juga dengan kakaknya yang tidak pernah ikut makan bersama keluarga lagi. Rasa canggung itu membuat Damian akhirnya memutuskan untuk bermalam di luar selama beberapa hari. Ia tinggal di penginapan yang ada di ibu kota. Sesekali ia memanggil Cassie untuk menemaninya di sana.


Pelayan keluarga Castor beberapa kali datang dan mengirimkan surat dari ibu Damian. Isi surat itu meminta agar Damian segera kembali ke rumah. Namun pemuda itu tidak menghiraukannya. Ia selalu mengusir para pelayan yang datang dari kediaman keluarganya tanpa memberikan jawaban apa apa untuk ibunya.


Tepat lima hari setelah bersitegang dengan Titus, persidangan atas kasus yang ditangani Damian pun dilaksanakan. Pada momen ini, Damian mau tidak mau harus bertemu dengan ayahnya yang bekerja di kantor kejaksaan. Duke Castor saat ini menjabat sebagai Hakim Ketua.


Kantor kejaksaan itu di bangun tepat di pusat kota. Bangunannya megah dengan langit-langit tinggi yang disangga oleh barisan pilar batu pualam yang indah. Di atrium bangunan itu, sebuah patung Dewi Themis, sang dewi keadilan, menjulang setinggi lima meter. Patung tersebut berwujud seorang wanita yang membawa timbangan id tangan kirinya dan pedang di tangan kanannya. Matanya tertutup kain bebat yang membuatnya tidak bisa melihat. Patung itu juga diukir dari batu pualam putih dan menjadi dekorasi arsitektur yang mempercantik bangunan tersebut.


Damian masuk melalui atrium tersebut. Baru beberapa langkah berjalan, seorang pemuda dengan toga hitam menghampirinya. Damian mengenal pemuda tersebut sebagai Seamus, salah seorang bawahan ayahnya yang bekerja sebagai jaksa muda yang sedang magang.


“Kau sudah tiba, Damian,” ujar pemuda itu sembari berjalan di sebelah Damian.


“Kulihat kau juga baru datang,” sahut Damian sembari menyapukan pandangannya ke seluruh atrium. Beberapa orang tampak memadati tempat itu. Sebagian besar adalah para penduduk yang ingin menonton jalannya persidangan hari itu. Sebagian lainnya, yang mengenakan toga hitam, merupakan para dewan pengawas persidangan.


“Tidak. Aku sudah ada datang sejak pagi. Aku ada di sini karena menunggumu,” sahut Seamus.


Damian mengernyit bingung lantas menoleh ke arah Seamus yang bermata hitam cemerlang dengan rambut ikal yang dipotong cepak. “Menungguku? Kenapa? Setahuku kita tidak punya jadwal persidangan yang sama. Apa kau menjadi dewan pengawas di kasusku hari ini?” tanya Damian memastikan.

__ADS_1


Seamus menggeleng pelan. “Tidak. Aku baru saja menyelesaikan persidangan lain. Aku di sini karena ayahmu memintaku membawamu ke ruangannya begitu sampai di sini. Jadi maaf, aku terpaksa menyeretmu dulu ke sana. Kau tahu sendiri betapa mengerikannya Duke Castor itu kalau sedang kesal,” ujar pemuda itu sembari mencengkeram lengan Damian dan membawanya ke arah yang berlawanan.


Damian mencoba memberontak melepaskan diri. “Jangan coba-coba … .”


“Aku tahu kau akan menolak, karena itu aku juga mempersiapkan beberapa teman untuk membujukmu,” potong Seamus sembari memberi kode pada beberapa ksatria yang berjaga di dekat sana.


Dua orang kesatria berbaju zirah mendekat. Mereka mengapit Damian sedemikian rupa sehingga pemuda itu tidak bisa kabur lagi.


“Persidanganku akan dimulai sebentar lagi, Seamus. Tolong lepaskan aku. Aku berjanji akan menemui ayah setelah selesai persidangan,” pinta Damian memutar strategi agar bisa bebas. Ia bersikap memelas, berharap Seamus muda itu bisa mengasihaninya.


Sayang strategi tersebut sama sekali tidak mempan. Seamus tetap mencengkeram Damian yang sudah lengkap mengenakan toga hitam dan membawa barang bukti berharga yang dia dapat dari rumah bordil. Cassie juga mungkin akan datang sebentar lagi. Ia harus berada di tempat yang tepat untuk menemui gadis itu.


Setelah menyusuri lorong demi lorong, akhirnya mereka pun tiba di sebuah ruang kerja elegan yang dipenuhi oleh rak-rak buku berisi dokumen-dokumen kasus yang pernah ditangani di kantor kejaksaan tersebut. sebuah meja kerja besar tersemat di ujung ruangan, dekat dengan perapian. Duke Castor, ayah Damian, duduk di balik meja kerja itu sembari mempelajari sebuah dokumen tebal di hadapannya.


Setelah Seamus masuk ke ruangan tersebut dengan membawa Damian, sang Duke pun beranjak dari meja kerjanya lalu duduk di sofa yang ada di tengah ruangan. Damian juga diseret untuk duduk di hadapan ayahnya. Seamus serta dua ksatria pengawal itu pun pergi setelah menunaikan tugas mereka dengan sukses. Sementara itu, Damian hanya bisa melirik mereka dengan kesal, berpikir untuk membalas Seamus dalam persidangan berikutnya.


“Kau sudah datang, Damian,” ucap ayahnya sembari menuang sebotol brandy di sloki kecil. Duke Castor lantas mengulurkan sloki itu kepada Damian.

__ADS_1


Ia menerima uluran minuman di gelas kecil tersebut. “Iya, ayah,” jawabnya lantas meletakkan minuman keras berwarna coklat muda itu di meja.


Sang ayah kembali menuangkan minuman untuk dirinya sendiri, lantas mulai berbicara lagi. “Aku mungkin tidak seharusnya mengatakan ini padamu karena kau adalah anak bungsuku, tapi kau tahu sendiri betapa keras kepalanya kakak pertamamu itu. Apa pun masalah kalian, sebaiknya segera berbaikan. Kakakmu hampir tidak pernah muncul lagi di ruang makan setelah kalian bertengkar,” ucap Duke Castor lalu menegak minuman kerasnya.


Damian menghela napas lelah. Ayahnya memang selalu membela Titus. Kakak pertamanya itu adalah penerus keluarga Duke, yang nantinya akan menggantikan ayahnya menjadi kepala keluarga. Mungkin atas alasan tersebutlah sang ayah selalu berada di pihak Titus.


Damian membenci itu. Duke Castor tidak pernah mempedulikan anak-anaknya yang lain selain kakak pertamanya. Bahkan dalam hal ini, ketika Tituslah yang menyerobot masuk ke dalam kamar Damian serta melayangkan pukulan pertama, Duke Castor tetap meminta Damian yang meminta maaf.


“Aku hanya membela diri saat itu, Ayah. Kakak yang menyerbu masuk ke dalam kamarku,” bantah Damian enggan menuruti permintaan ayahnya.


Duke Castor menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Napasnya berat seolah lelah menghadapi dunia. Ia menatap Damian dengan lekat seperti sedang memberi peringatan.


“Titus bukan orang yang bisa sembarangan membuat masalah. Berhentilah memprovokasi kakakmu dan minta maaf saja. Kau selalu saja membuat suasana keluarga menjadi rumit,” kata ayahnya tajam.


Hati Damian mencelos. Kata-kata ayahnya begitu menusuk dan membuatnya sakit hati. Di mata ayahnya, Damian hanyalah anak bungsu yang tidak berguna.


“Aku akan memikirkannya, Ayah. Terima kasih atas nasehatnya,” gumam Damian kemudian. Pemuda itu lantas menenggak sloki brandynya lalu beranjak dari sofa. “Selamat siang,” lanjutnya sebelum akhirnya berbalik pergi meninggalkan ruang kerja sang Hakim Ketua.

__ADS_1


Duke Castor mengamati kepergian putranya dengan pandangan tajam. Damian sama sekali tidak mau mempedulikannya lagi. Ia punya kasus yang harus ditangani hari ini.


__ADS_2