Sign Of Zodiac: Cancer

Sign Of Zodiac: Cancer
Pulang


__ADS_3

Tidak ada kendala berarti selama perjalanan pulang ke Ponza. Damian berasumsi bahwa hal itu terjadi berkat keberadaan Kutzo yang bisa mengusir kedatangan Roh Jahat dengan ramuan rahasia sukunya. Tentu saja Damian bersyukur karena tidak perlu mengalami pertarungan berbahaya lagi. Meski begitu, sejak kejadian penyerangan Deimheim yang menewaskan Luceila, Damian terus bermimpi buruk.


Mimpi yang sama terus berulang setiap malam, tentang dirinya yang terjebak di Forum Ponza. Ia dikelilingi oleh Roh Jahat dan seseorang memanggilnya Karkata. Kini bahkan mimpinya berkembang dengan gambaran kematian Luceila yang terus berulang-ulang seperti kaset rusak. Kualitas tidurnya menjadi benar-benar terganggu karenanya. Damian pun berubah banyak setelah mengalami kejadian aneh tersebut. Entah kenapa perasaan gelisah terus menghantuinya.


“Kita berpisah di sini, Damian Castor,” kata Kutzo membuyarkan lamunan Damian.


Damian lantas melihat keluar jendela kereta kudanya. Rombongan mereka rupanya sudah sampai di perbatasan Ponza. Kereta kudanya berhenti karena Kutzo sudah menyuruh sang kusir dengan ketukan dari dalam ruang penumpang. Tanpa menunggu jawaban, Kutzo sudah langsung membuka pintu. Hari masih terang, meski begitu, Damian baru akan sampai di kediaman Castor saat senja nanti.


“Hubungi aku kalau kau butuh bantuan. Kau bisa menemukanku di kediaman Marquess Erald Aku akan mengawasimu,” lanjut Kutzo setelah berdiri di luar kereta kuda.


Damian hanya memandanginya dengan nanar. Ia terlalu lelah untuk melakukan percakapan dengan siapa pun. Pikirannya dipenuhi mimpi buruk serta kematian tunangannya. Karena itu Damian hanya mengangguk singkat menanggapi kata-kata Kutzo.

__ADS_1


“Jaga dirimu, Castor,” pungkas Kutzo kemudian. Sang pemuda Giyatsa itu lantas menutup pintu kereta kuda, lalu beranjak mengambil kudanya sendiri.


Setelah kepergian Kutzo, kereta kuda yang ditumpangi Damian pun segera membawanya kembali ke kediaman Castor. Tidak ada sambutan yang hangat di rumah itu ketika Damian datang. Hanya ibunya yang menyongsongnya di di depan pintu. Beliau tampak lebih kurus dan sedih dari biasanya. Damian menduga kalau ibunya sudah terlampau mengkhawatirkannya selama ia pergi.


“Oh, Putraku. Syukurlah kau kembali dengan selamat. Aku mendengar kabar di selatan. Kau pasti sangat menderita. Lihat betapa kurusnya kau sekarang. Masuk dan beristirahatlah,” ujar sang ibu dengan air mata berlinang. Ducches Castor membimbing Damian masuk dan menyuruh para pelayan untuk segera menyiapkan hidangan makan malam terbaik.


Melewati atrium, mereka berpapasan dengan Titus yang sepertinya juga baru pulang bekerja. Kakak pertama Damian itu menatap sinis ke arah adiknya. Ekspresinya penuh cela dan tampak sangat tidak bersahabat.


“Kau masih punya muka untuk kembali ke sini setelah membunuh tunanganmu sendiri rupanya? Apa kau tidak mau terjebak di wilayah terpencil itu dan memilih melakukan hal keji tersebut? Hidupmu hanya dipenuhi keserakahan, Damian. Aku malu menyebutmu sebagai anggota keluarga Castor,” tukas Titus dingin.


Dengan cepat Damian berjalan ke arah Titus, lantas mencengkeram kerah bajunya sambil melotot tajam. “Tarik ucapanmu,” geram pemuda itu dengan ekspresi murka.

__ADS_1


Titus mendengkus pendek. Kedua matanya masih mengesankan sikap dingin tak peduli. “Kabar tersiar dengan cepat, Damian. Seluruh negeri tahu bagaimana kau sengaja menggunakan tubuh nona muda yang malang itu untuk melindungi diri dari serangan Deimheim. Orang-orang di pesta itu menyaksikan kematian tunanganmu yang mengenaskan,” ujarnya dengan seringai menyebalkan.


“Kau sama sekali tidak tahu apa-apa. Bukan itu yang terjadi saat itu. Luceila … dia ….”


“Tidak ada yang peduli bagaimana kejadian aslinya. Yang jelas, tunanganmu mati di depan matamu, dan kau justru selamat sendirian. Fakta itu saja sudah bisa membuat asumsi orang-orang memperburuk reputasimu,” sahut Titus ringan. Ia lantas menepis tangan Damian yang cengkeramannya di kerah baju mengendor.


“Anggap saja ini karmamu. Sebagian besar hidupmu kau habiskan untuk menfitnah orang lain hingga mereka dijatuhi hukuman yang tidak wajar. Sekarang kau tahu bagaimana rasanya,” lanjut Titus sinis.


Damian, sementara itu, terpaku kehilangan kata-kata. Pikirannya terlalu rumit untuk diurai.


“Titus! Cukup! Tragedi ini juga telah membuat adikmu menderita! Bisa-bisanya kau bicara seperti itu!” serga Ducchess Castor marah. Sang ibu lantas memeluk Damian dengan protektif.

__ADS_1


Titus mendengkus pendek. “Kasih sayang ibu yang timpang itulah yang membuatnya menjadi anak manja. Terserah. Aku tidak peduli lagi. Aku tidak akan mengganggunya,” jawab Titus lantas berlalu pergi meninggalkan mereka.


Damian mengepalkan tangannya erat-erat. Kalimat kakaknya bagai sembilu yang menusuk jantungnya berkali-kali. Semuanya terasa menyakitkan. Rasanya ia nyaris kehilangan dirinya sendiri.


__ADS_2