
Kesalahpahaman antara Damian dan Kutzo pun berlanjut hingga saat pesta dansa berlangsung. Beruntung Kutzo bukanlah orang yang senang bergosip. Alih-alih, pemuda Giyatsa itu justru hanya memasang ekspresi jijik setiap kali melihat Damian.
Namun, bukannya terganggu karena hal itu, Damian justru merasa geli. Sikap permusuhan Kutzo ditunjukkan secara terang-terangan, sehingga membuat Damian justru merasa tenang. Setidaknya Kutzo bukan tipe orang yang menusuk dari belakang, berbeda dengan kebanyakan manusia yang dia kenal di sekitarnya selama ini.
Setelah beragam prosesi, mulai dari perkenalan tuan rumah, ramah tamah, hingga dansa pertama selesai, akhirnya Damian pun punya waktu untuk sendiri. Luceila berkumpul bersama teman-temannya para lady seumurannya yang hadir di pesta. Damian tidak punya banyak kenalan di wilayah itu. Karena itulah ia bisa menyelinap dengan mudah ke area balkon untuk menghirup udara segar.
“Jadi sekarang kau juga berencana bertemu dengan lady lain di tempat tersembunyi?” tuduh Kutzo yang sekonyong-konyong terdengar suaranya tanpa Damian sadari.
Damian menoleh, mendapati pemuda berambut perak itu sudah berniat pergi menghindarinya. “Aku benar-benar buruk di matamu, rupanya,” seloroh pemuda itu terkekeh.
__ADS_1
Kutzo tak peduli dan lantas berjalan pergi begitu saja meninggalkannya. Damian membiarkannya. Ia pun memilih untuk menikmati anggurnya sambil melihat langit malam yang gelap. Semilir angin terkadang berembus, membuat udara menjadi sedikit dingin.
Beberapa waktu berada di balkon, tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka. Damian menoleh, melihat Luceila muncul dengan wajah malu-malu.
“Rupanya Anda ada di sini,” ujarnya sembari berjalan mendekat.
Damian tersenyum hangat, menyambut Luceila yang menghampirinya. Ia sedikit mabuk karena minum cukup banyak anggur semalaman ini. “Kau tidak berkumpul dengan teman-temanmu?” tanya Damian.
Gadis ini sudah cukup dewasa. Pikir Damian.
__ADS_1
“Apa kau sekadar mencari angin, atau sengaja mencariku?” tanya pemuda itu kemudian.
Wajah Luceila semakin memerah. Damian tahu, gadis itu menginginkannya. Dan kebetulan ia pun berada di bawah pengaruh alkohol yang cukup kuat. Hawa menjadi semakin dingin, dan Damian pun merapatkan tubuhnya pada Luceila. Gadis itu beringsut mendekat, merespon gerakan Damian dengan gemulainya yang menggoda.
Akan tetapi, di tengah romansa yang baru dimulai itu, mendadak terdengar bunyi krak keras dari arah taman. Damian menoleh sembari menyipitkan mata karena kepalanya yang berat akibat alkohol membuatnya tidak bisa melihat dengan jelas. Meski begitu, ia masih bisa melihat kelebatan hitam yang terbang mendekat dengan cepat.
Detik berikutnya, Luceila berteriak keras sekali hinga jatuh tersungkur ke belakang. Sontak Damian pun segera berusaha menyadarkan diri. Ia berjalan mundur sambil masih mencerna keadaan. Akan tetapi, peristiwa itu terjadi begitu cepat. Saat ia sudah cukup awas, Damian baru sadar bahwa sesosok Deimheim tengah menyerang mereka. Pemuda itu pun lantas mengeluarkan pedangnya dan mencoba untuk melawan.
Luceila, sementara itu, masih berteriak-teriak histeris dan justru menarik perhatian roh jahat tersebut mendekat ke arahnya. Kedua tangan Damian gemetar ketakutan. Ia tahu, kalau ia tidak bertindak cepat, makhluk itu bisa langsung memangsa Luceila. Maka, dengan mengarahkan seluruh keberaniannya, Damian pun menghunuskan pedang dan mencoba menyelamatkan tunangannya tersebut.
__ADS_1
Perhatian Deimheim terpecah karena tusukan pedang Damian mengenai wajahnya. Pemuda itu berusaha melawan, tetapi sang roh jahat kembali terbang berputar dan bermanuver untuk menelannya bulat-bulat.
Damian tak punya waktu untuk menghindar, pemuda itu pun mengerang keras sembari berusaha melawan dengan usaha terakhirnya. Namun, di detik-detik terakhir sebelum mulut raksasa Deimheim yang penuh taring menerkamnya, Luceila muncul dan mendorong tubuh Damian menjauh. Gadis itu menangis sejadi-jadinya, lantas menghilang begitu saja ditelang sang roh jahat dalam satu terkaman.