
“Kau menggoda anak kecil, Castor.” Sekonyong-konyong suara Kutzo muncul dari belakang punggung Damian.
Pemuda itu menoleh dan melihat Kutzo sudah berdiri di tak jauh dari pintu kamarnya.
“Beberapa hari lagi, gadis itu sudah cukup umur untuk mengandung anakku,” tukas Damian ringan.
Kutzo hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sembari membuka pintu ruangan di sebelah kamar Damian. “Kau memang sesuai dengan reputasimu,” komentarnya kemudian.
Damian tertawa pendek. “Kuanggap itu pujian,” tanggapnya sembari berjalan mengikuti Kutzo ke sebuah kamar kecil sederhana.
“Sebenarnya itu sama sekali bukan pujian,” sahut Kutzo dingin.
“Kau benar-benar sarkastik. Ngomong-ngomong kenapa kau mendapat ruangan di sebelah kamarku?” tanya Damian kemudian.
Kutzo menghela napas pelan. “Entah kenapa mereka mengira aku pengawal pribadimu dan menempatkan kamar di sebelahmu,” ucapnya seperti mengeluh.
Damian kembali tertawa. “Itu bagus. Kau jadi bisa mendapat perlakuan yang istimewa.”
“Kau bangga sekali dengan statusmu. Sepertinya memang itu satu-satunya hal yang bisa kau banggakan.”
“Benar-benar sarkastik kau ini. Yah, terserah kau mau menilaiku seperti apa. Setiap orang punya kelemahannya sendiri-sendiri. Nikmati saja waktumu di sini, dan sampai jumpa di pesta besok,” ujar Damian kemudian. Pemuda itu pun meninggalkan Kutzo lalu kembali ke kamarnya sendiri untuk beristirahat.
__ADS_1
***
Sehari setelah kedatangan Damian, pesta penyambutan pun diadakan. Acara itu berlangsung di siang hari mengingat acara malam sangat berbahaya karena adanya Deimheim. Tidak banyak tamu undangan yang datang. Hanya kerabat dekat dan beberapa penduduk yang punya hubungan baik dengan sang Baron. Ini pertama kalinya Damian menghadiri pesta yang dihadiri oleh orang biasa, dan bukan hanya kalangan bangsawan.
Pemuda itu secara otomatis hadir sebagai pasangan sang bintang utama hari itu, Luceila Brutus. Ia mengawal sang putri Baron dengan elegan, seperti layaknya pemuda bangsawan. Keduanya membuka pesta dengan dansa pertama dan beberapa sambutan kecil. Acara tersebut akhirnya berlangsung dengan baik.
Setelah beramah tamah sekadarnya dengan beberapa kenalan Baron dan teman-teman Luceila, Damian akhirnya punya waktu sendiri. Aula tempat pesta dansa diadakan itu terletak di lantai dua dengan balkon kecil yang menhadap ke taman depan. Damian menyingkir sejenak di tempat itu sembari menikmati segelas anggur yang sepertinya baru dibuat. Alkoholnya tidak sekuat anggur-anggur pada umumnya.
Saat keluar menuju balkon, pemuda itu menemukan Kutzo sedang duduk sendirian mengamati kesibukan kota yang terlihat dari sana. Rambut peraknya cemerlang ditimpa cahaya matahari. Tubuhnya yang ramping menambah kesan feminin pada Kutzo. Kalau dilihat sekilas, orang-orang mungkin bisa salah mengira kalau pemuda Giyatsa itu adalah seorang wanita.
“Kutebak kau tidak bisa berdansa,” kata Damian lantas duduk di hadapan Kutzo. Sepasang kursi antik dengan meja bulat disediakan di balkon tersebut.
Kutzo tampak tak menghiraukan Damian dan masih sibuk menatap ke kejauhan. Satu tangannya sedang bermain-main dengan batu kecil berwarna hijau.
Pertanyaan Damian tersebut akhirnya memancing perhatian Kutzo. Ia lantas melirik ke arah batu kecil di tangannya dan tampak berpikir sejenak.
“Ini batu zodiak. Petunjuk untuk menemukan orang yang kucari. Akhir-akhir ini dia bereaksi. Tapi aku tidak bisa memastikan orang yang membuat benda ini bereaksi,” kata Kutzo menerangkan.
“Bereaksi?” Damian bertanya karena tidak mengerti. Bagaimana sebuah batu bisa bereaksi.
“Hangat. Batunya menjadi hangat. Biasanya dia dingin seperti batu pada umumnya.”
__ADS_1
Damian mengerutkan keningnya dengan bingung. “Bukankah benda itu menjadi hangat karena panas tubuhmu. Kau menyentuhnya begitu tentu saja dia menjadi hangat,” komentar pemuda itu secara logis.
Kutzo hanya menarik napas panjang, tampak prihatin dengan ketidaktahuan orang di hadapannya. “Kau akan mengerti kalau selalu membawanya bersamamu selama berhari-hari. Aku jelas bisa membedakan bagaimana batu ini hangat karena panas tubuhku atau karena bereaksi dengan energi pemiliknya,” tukasnya tajam.
Damian tentu saja masih tidak percaya dan merasa Kutzo hanya mengada-ada. Meski begitu, entah mengapa rasa penasaran Damian terus tertuju pada batu itu. Damian seperti ingin menyentuhnya.
“Boleh kupinjam?” tanya pemuda itu tanpa sadar.
Kutzo mendengkus kecil. “Padahal kelihatannya kau tidak percaya pada hal-hal semacam ini. tapi rupanya kau cukup tertarik juga,” tukasnya. Meski begitu Kutzo tetap mengulurkan batu itu untuk disentuh Damian.
Hangat. Itu kesan pertama Damian saat memegang batu kecil tersebut. Damian sedikit mengerti yang dimaksud oleh Kutzo tentang rasa hangat yang berbeda. Ada semacam energi yang menggelitik jari-jari Damian saat menyentuhnya. Jelas itu bukan kehangatan yang didapat dari sekedar sentuhan dengan panas tubuh manusia. Damian tidak bisa menjelaskannya dengan kata-kata, tetapi memang ada kesan yang sekilas membuat Damian berpikir bahwa batu itu hidup.
Buru-buru Damian mengenyahkan pikiran tidak lazim itu. Bagaimana mungkin sebuah batu bisa hidup. Mungkin itu semua hanya khayalannya belaka. Damian lantas mengembalikan batu itu kepada Kutzo.
“Kenapa kalian harus repot-repot mencari orang dengan petunjuk aneh itu?” tanya Damian kemudian.
“Ini satu-satunya cara untuk mengusir kegelapan di benua ini. Kesempatan bagi kita agar bisa hidup bebas tanpa bayang-bayang kematian. Jika melewatkan peluang ini, Luteria mungkin akan hancur. Para pejuang zodiak hidup dari generasi ke generasi. Waktu untuk mereka kembali ke dunia sudah ditentukan. Dan kalau kita tidak berhasil sekarang, maka dibutuhkan waktu hingga ke generasi selanjutnya sampai pejuang-pejuang itu terlahir kembali. Mungkin puluhan tahun, atau bahkan ratusan. Sebelum itu terjadi, kita mungkin sudah terlanjur punah,” terang Kutzo panjang lebar.
Damian terkekeh. “Kenapa pesimis begitu. Selama ini kita bisa bertahan hidup meski di bawah ancaman Deimheim. Yah, tentu aku juga bersyukur kalau roh-roh jahat itu bisa diusir kembali ke dunia bawah. Tapi bukan berarti umat manusia akan punah gara-gara mereka,” tukasnya.
Kutzo menatap tajam pada Damian. “Jangan meremehkan masalah ini. Pernahkah kau melihat pembantaian besar-besaran oleh para chögörü? Aku pernah. Tidak semua orang Giyatsa sekuat kami, kaum Têmir. Dari ratusan anak yang dilatih untuk melawan chögörü, tidak semuanya selamat. Hanya sebagian kecil dari kami yang bisa melalui masa-masa sulit itu. Sisanya mati dengan sia-sia.
__ADS_1
“Bagaimana dengan orang-orang biasa yang hidup tanpa punya kemampuan seperti Têmir? Mereka juga hanya menjadi mangsa roh-roh jahat. Akhir-akhir ini kekuatan roh jahat itu juga meningkat. Jumlah chögörü yang berkeliaran semakin besar dan mendesak kehidupan manusia. Kau mungkin bisa hidup nyaman karena kekayaan keluargamu. Tapi bagaimana dengan rakyat biasa? Mereka bahkan kesulitan mencari makan karena kekuatan gelap roh jahat yang busuk mencemari tanah dan air. Kita mati secara perlahan. Dan lambat laun populasi manusia akan semakin berkurang,” kata Kutzo tajam.
Damian hanya bisa tercekat mendengarnya. Apa benar sudah separah itu?