
Damian terbelalak, menyaksikan tubuh Luceila lenyap dilahap Deimheim. Seketika otakknya seperti berhenti bekerja. Darahnya mendidih hingga ke ubun-ubun. Rasa marah, frustrasi dan putus asa menelannya hingga nyaris kehilangan kesadaran diri. Damian mengerang keras, marah pada makhluk buas yang telah merenggut tunangannya di depan matanya sendiri.
Pemuda itu lantas bangkit berdiri, menhunuskan pedangnya tinggi-tinggi dan mengarahkannya pada monster pemangsa manusia yang sudah terbang ke arahnya. Seketika, langit malam tersibak, memunculkan bulan purnama yang sebelumnya tertutup awan gelap.
Bulan tersebut seolah mengalirkan energi pada Damian. Bilah pedangnya yang semula hanya berwujud besi biasa, mendadak berkilau dan berpendar kebiruan tertimpa cahaya bulan. Tepat saat ia menyabetkan pedangnya, kilatan cahaya biru melesat lurus, membelah sosok Deimheim raksasa yang menyerangnya. Roh jahat tersebut pun buyar, hilang seperti asap yang berwarna hitam pekat.
Damian terengah-engah, tanpa menyadari apa yang barusan terjadi padanya. Perasaannya begitu kacau dan marah. Seorang gadis telah mati di depannya. Dan itu adalah tunangannya sendiri. Damian masih ingin bertarung, menghancurkan lebih banyak roh jahat yang telah memangsa manusia. Namun, ketika ia berbalik, ia menyadari bahwa di tepi balkon, sudah berkerumun orang-orang yang menyaksikannya menumpas roh jahat. Para tamu pesta itu tampak terkesiap dan ketakutan. Bahkan keluarga Brutus juga tampak lemas, tersungkur di lantai sambil menangisi putri mereka yang telah pergi.
Kutzo menyeruak dari balik kerumunan, lantas menghampiri Damian dengan ekspresi yang sulit ditebak. “Turunkan pedangmu, dan kendalikan kekuatan,” gumam sang pemuda Giyatsa sembari menurunkan lengan Damian yang terangkat menghunus pedang.
__ADS_1
Kemarahan Damian mereda, seiring cahaya di pedangnya yang juga menjadi redup. Samar-samar Damian juga menyadari bahwa yang bercahaya bukan hanya bilah pedangnya saja, tetapi juga kedua matanya yang menyorotkan pendar biru terang ketika ia menggunakan kekuatan asing tersebut.
“Apa yang terjadi?” tanya Damian setelah cukup sadar dengan keadaan.
“Sekarang, ayo kita masuk dulu,” kata Kutzo lantas menggiring Damian masuk ke kediaman.
Selepas kejadian nahas tersebut, pesta dansa yang seharusnya meriah telah berubah menjadi prosesi permakaman tanpa tubuh. Duka cita melingkupi kediaman keluarga Brutus, dan secara otomatis Damian kehilangan tunangannya.
Tepat sepuluh hari setelah acara pemakaman, Damian akhirnya kembali ke ibu kota Ponza. Kutzo mendampinginya selama perjalanan untuk menghindari kejadian buruk terulang.
__ADS_1
“Sepertinya kau cukup terpukul atas kematian tunanganmu,” ujar Kutzo membuka percakapan. Keduanya duduk di dalam kereta kuda. Kutzo melepas kudanya untuk dikendarai oleh salah satu pengawal Damian yang lain.
Damian menghela napas panjang. “Itu terlalu … mengerikan. Aku tidak pernah melihat seseorang mati dengan cara yang begitu mengenaskan. Aku tidak akan pernah bisa melupakan kejadian itu,” ungkap Damian sembari melihat nanar ke luar jendela.
“Dan seharusnya … aku yang mati saat itu. Luceila mendorongku. Dia menyelamatkanku dengan mangorbankan dirinya,” imbuh Damian terdengar pilu.
“Dia gadis yang baik,” komentar Kutzo.
“Belum pernah ada orang yang bersedia mengorbankan dirinya untukku. Selama ini orang-orang hanya memanfaatkanku, mendekatiku hanya untuk tujuan tertentu. Tapi sekarang, saat sudah ada orang yang begitu tulus mencintaiku … aku justru harus kehilangan dia dengan cara seperti ini,” ratap Damian panjang.
__ADS_1
Kutzo hanya bisa menarik napas panjang. Menghibur seseorang bukanlah bakatnya. Meski begitu, ia tetap mencoba untuk membuat Damian merasa lebih baik, terutama karena ia masih sangat penasaran dengan kemampuan Damian beberapa waktu yang lalu. “Orang datang dan pergi dalam hidup kita, Castor. Yang terpenting bukanlah memikirkan bagaimana orang lain memperlakukan kita, tapi fokuslah agar kau tidak terpengaruh akan apa pun dan menjadi lebih kuat,” ujarnya kemudian.