
Perjalanan selanjutnya menjadi lebih aman setelah Kutzo ikut bersama rombongan. Pemuda Giyatsa itu berkuda sendiri dengan kuda abu-abu miliknya. Sisa rombongan tersebut berhasil sampai di wilayah Baron Brutus dengan selamat. Desa kecil itu kondisinya sangat jauh berbeda dengan ibu kota. Rumah penduduknya begitu sederhana dengan banyak orang berpakaian seadanya.
Alih-alih mansion megah, kediaman sang Baron hanya berupa satu bangunan dua lantai dengan taman kecil tanpa air mancur. Meski begitu, sang Baron beserta istri dan dua anaknya menyambut kedatangan Damian dengan ramah. Baron Brutus memiliki dua anak, Luceila sang putri sulung dan adiknya Lucius yang masih remaja. Jumlah pelayan di rumah itu pun tidak sampai seperempat pelayan kediaman Damian. Pastinya sebuah kebanggaan besar putri keluarga bangsawan sederhana itu bisa bertunangan dengan Damian yang adalah putra seorang Duke penguasa Ponza.
“Selamat datang di kediaman kami yang sederhana, Lord Damian. Perjalanan Anda pasti sangat melelahkan dan berbahaya. Syukurlah Anda bisa sampai dengan selamat. Ksatria pengawal Duke memang sangat kuat, sesuai dengan reputasinya,” sambut sang Baron begitu Damian turun dari kereta kuda.
Damian hanya tersenyum tipis memandangi rumah bangsawan yang tak ubahnya rumah penduduk biasa di ibu kota itu. “Terima kasih atas sambutannya, Baron Brutus. Ini pertama kalinya saya bepergian jauh. Tapi perjalanannya tidak semelelahkan itu,” sambung pemuda itu berbasa-basi.
“Anda benar-benar rendah hati. Maafkan kami karena tidak bisa memberi sambutan yang mewah. Tapi saya harap Anda bisa betah berada di sini. Istri saya sudah menyiapkan jamuan makan, tapi sebaiknya Anda beristirahat lebih dulu. Luceila, antarkan Lord Damian menuju kamar yang sudah disediakan,” kata Baron Brutus pada putrinya.
Luceila rupanya seorang gadis bangsawan sederhana dengan rambut coklat panjang bergelombang dan mata hijau zamrud yang cemerlang. Gaun putihnya tampak sudah ketinggalan zaman, tetapi Damian berusaha untuk tidak berkomentar.
Gadis itu maju dengan malu-malu. Wajahnya tertunduk dan merona merah tersipu. Secara keseluruhan, penampilan Luceila sebenarnya tidak terlalu sesuai dengan tipe Damian. Meski begitu pernikahan politik hanyalah alat untuk mempersatukan dua keluarga. Simbol yang harus dijalani semua bangsawan. Damian toh tidak perlu mencintai istrinya sepanjang dia bisa punya pasangan resmi dan menghapus reputasinya yang buruk mengenai wanita.
“Silakan, Lord,” ucap Luceila lirih.
Damian nyaris tidak bisa mendengar suara gadis itu. Akan tetapi ia memaksa diri untuk tersenyum. Beruntung kemampuan sosial Damian tidak terlalu buruk. Ia bisa berpura-pura ramah pada orang yang bahkan tidak dia sukai.
Sebelum masuk ke kediaman, Kutzo yang sudah turun dari kuda tiba-tiba menghampiri Damian.“Kalau begitu, sampai di sini saja aku mengawalmu. Jaga dirimu baik-baik, Putra Duke,” ucap pemuda Giyatsa berambut perak itu.
Sekilas Damian melihat Luceila yang menatap kagum ke arah Kutzo. Manusia berpenampilan mencolok itu memang sangat menonjol jika dibandingkan dengan orang-orang Ponza yang hanya berambut gelap. Melihat hal itu, entah kenapa Damian merasa kesal. Seharusnya tatapan penuh kekaguman itu diarahkan padanya, bukan pada pria berambut panjang seperti perempuan itu.
__ADS_1
“Tinggal dulu saja di sini selama beberapa hari. Setidaknya sampai pesta dansa. Aku tidak bisa membiarkanmu kembali begitu saja setelah kau menyelamatkanku seperti itu. Aku akan merasa berhutang budi kalau tidak membalasnya dengan baik,” tukas Damian menahan kepergian Kutzo.
“Tidak perlu merasa seperti itu. Membasmi chögörü memang sudah menjadi tugasku,” sahut Kutzo dingin.
“Jangan menolak. Ini hanya keramahan kecil dari seorang bangsawan yang merasa berterima kasih,” desak Damian.
“Be, benar, Sir. Anda bisa bermalam di sini sementara waktu. Kami sudah menyiapkan pesta penyambutan untuk rombongan Duke, dan Anda termasuk tamu istimewa kami.” Mendadak Luceila ikut bicara. Damian kembali melirik gadis itu dengan perasaan yang sulit digambarkan. Luceila tampaknya ingin Kutzo tetap berada di sana, entah dengan alasan apa pun. Meski begitu, Damian tidak boleh menunjukkan ketidaksukaannya. Terutama hanya gara-gara sikap seorang gadis yang baru dia temui.
“Luceila benar. Mereka sudah menyiapkan banyak hal untuk menyambut kita,” tambah Damian kemudian.
“Sejak awal aku bukan rombongan kalian,” tolak Kutzo keras kepala.
Akhirnya, karena desakan banyak orang serta tatapan penuh harap dari seluruh keluarga Baron Brutus, Kutzo pun mengalah. Pemuda Giyatsa itu akhirnya mengangguk setuju dan membawa kudanya untuk ditambatkan di istal kecil milik keluarga Baron.
Damian dan Luceila pun berjalan menyusuri kediaman Baron yang sederhana menuju sebuah kamar kecil yang disediakan untuknya. Entah kenapa pemuda itu merasa bahwa kamar itu mungkin adalah yang paling luas di antara kamar-kamar lain di rumah itu. Meski ukurannya mungkin tidak sampai separuh kamar Damian di kediaman Duke, Damian tetap berterima kasih. Sekadar untuk berbasa-basi, tentu saja.
“Terima kasih sudah menyambutku dan mengantar sampai ke kamar. Kau pasti lelah menyiapkan pesta Debutantemu sendiri dan masih harus melayani kedatangan rombongan kami,” ucap Damian setelah keduanya sampai di depan kamar.
Luceila tersipu malu, tak berani menatap wajah Damian. “A, anda pasti lebih lelah setelah melakukan perjalanan jauh, Lord. Seharusnya saya yang berterima kasih karena Anda bersedia datang kemari untuk merayakan pesta Debutante saya,” ucap gadis itu pelan.
Damian tersenyum ramah. “Panggil saja namaku dengan nyaman. Kita sudah cukup lama bertunangan, meski sejauh ini hanya bisa berkirim surat.”
__ADS_1
Wajah Luceila semakin memerah. “Ma, mana berani saya melakukannya, Lord,” tukasnya malu, sikap yang jarang ditemui Damian dari wanita-wanita di ibu kota.
Damian mendengkus geli melihat Luceila yang meringkuk kecil seperti anak ayam itu. “Cepat atau lambat kita harus melakukannya. Aku juga ingin memanggil namamu dengan akrab, Lady Luceila. Apakah tidak boleh?” godanya kemudian.
Pemuda itu tampaknya menikmati reaksi Luceila yang wajahnya sudah semerah kepiting rebus. Ia tidak bermaksud menyelesaikan percakapan itu sampai di sana. Setidaknya hingga ia bisa mendengar Luceila menyebut namanya tanpa embel-embel ‘Lord’.
“Ten, tentu saja Anda boleh memanggil saya dengan nyaman … Lord,” cicit gadis itu.
“Baiklah, Luceila, aku akan memanggilmu seperti itu. Bukankah di surat-surat kita, kau sudah bisa menuliskan namaku dengan mudah. Sekarang aku ingin mendengarmu memanggilku dengan nyaman,” ucap Damian sembari mendekatkan wajahnya pada wajah Luceila yang sejengkal lebih pendek dari tubuhnya.
Luceila semakin tertunduk malu. Tubuhnya gemetaran dan sepertinya Damian bisa mendengar suara detak jantung gadis itu yang berdegup kencang.
“Da … Dami … Damian … ,” ucap gadis itu dengan suara bergetar.
Damian tersenyum puas. Ingin sekali rasanya ia mengusap kepala gadis kecil itu, semata-mata untuk memujinya. Akan tetapi Damian khawatir tidakan kecil itu bisa membuat Luceila pingsan seketika. Tidak baik membuat calon istrinya pingsan di hari pertama mereka bertemu. Karena itu Damian akhirnya hanya mengucapkan terima kasih dengan tulus.
“Aku senang mendengarnya, Luceila. Terima kasih,” kata Damian kemudian.
“Ka, kalau begitu selamat beristirahat, Lor … maksud saya Da … Damian,” sahut Luceila lantas berbalik pergi dengan buru-buru.
Damian cukup terhibur melihat tingkah gadis itu. Ia tersenyum senang dan sejenak melupakan fakta tentang betapa sederhananya tempat yang harus dia tinggali selama beberapa waktu.
__ADS_1