Sign Of Zodiac: Cancer

Sign Of Zodiac: Cancer
Bantuan


__ADS_3

“Terima kasih,” kata Damian setelah berjalan ke dekat api unggun.


Kutzo mengangguk singkat dan menjawab tanpa ekspresi. “Kebetulan aku sedang berada di tempat ini.”


“Begitukah? Apa kau juga akan pergi ke kota sebelah?” tanya Damian lagi, mulai mencoba membujuk Kutzo agar bisa membawa Kutzo dalam perjalanannya menuju wilayah Baron Brutus.


Akan tetapi Kutzo menggeleng. “Tidak juga. Aku biasa berada di sini untuk mengikuti chögörü,” jawabnya pendek.


“Chögörü? Ah, maksudmu Deimheim, roh jahat,” sahut Damian kemudian. “Kenapa kau selalu mengejar-ngejar roh jahat?” lanjut pemuda itu bertanya.


“Mereka mungkin akan membawaku ke tempat orang yang sedang kucari. Chögörü-chögörü itu akan mengikuti orang yang kekuatannya akan dibangkitkan. Para pejuang zodiak,” ujar Kutzo terus terang.

__ADS_1


Damian mengerutkan kening. Ia masih tidak terlalu mempercayai tentang keberadaan pejuang zodiak tersebut. Meski begitu ia tidak berkomentar lebih lanjut, demi agar bisa membujuk Kutzo mengikuti perjalanannya. Kalau orang Giyatsa ini bisa ikut, tentu saja keamanannya akan terjamin. Para ksatria itu jelas tidak terlalu berguna jika dihadapkan dengan roh jahat raksasa yang keji.


“Sudah berapa lama kau berada di ibu kota Ponza?” pancing Damian kemudian.


“Dua bulan,” jawab Kutzo tanpa ragu.


“Sudah selama itu dan kau belum menemukan orang itu? apa kau tidak merasa sedang membuang-buang waktu? Wilayah suku kami sanga luas. Meski tidak ada banyak akses menuju ke desa-desa pinggiran gara-gara para Deimheim yang berkeliaran itu. Tapi tentunya itu bukan masalah besar untukmu. Seharusnya kau juga mencoba untuk mencari di seluruh pelosok Ponza.” Damian terus mencoba mempengaruhi.


Damian menyeringai tipis. Misinya sepertinya sukses. “Kebetulan aku akan pergi ke salah satu desa pinggiran. Kalau kau bersedia, aku akan mengajakmu berkeliling di desa itu dan mencoba mencari orang yang kau butuhkan. Bagaimana?” tawar Damian kemudian.


Kutzo menatap Damian dengan tajam. Pemuda itu lantas mendengkus kecil. “Kau pikir aku tidak tahu kalau kau sedang berusaha memanfaatkan kekuatanku untuk melindungi perjalananmu sendiri?” timpalnya tajam.

__ADS_1


Damian membuang muka sembari menghela napas panjang. “Kau bisa melihatnya sebagai hal yang saling menguntungkan. Kau bisa mendapat pemandu yang kompeten sepertiku, dan aku juga bisa melalui perjalanan ini dengan aman,” tukasnya cerdik.


“Aku sama sekali tidak butuh bantuanmu untuk mengelilingi wilayah ini,” potong Kutzo datar.


“Tentu saja. Aku tidak akan menyanggahnya. Tapi bukankah lebih cepat kalau kau pergi bersama orang yang mengenal lokasi-lokasi itu dengan baik? Semua orang di Ponza mengenalku. Aku bisa memanggil semua penduduk di desa-desa itu untukmu kalau kau mau.” Damian tak menyerah memberi penawaran.


Kutzo menarik napas panjang, tampak menyerah. “Baiklah-baiklah. Berhenti membujukku seperti orang putus asa. Kalau kau memang sangat ingin aku menjaga perjalananmu, seharusnya kau meminta saja baik-baik. Aku juga tidak akan menolak,” sahutnya kemudian.


Damian mengangkat kedua alisnya. Mana dia tahu kalau memang semudah itu meminta tolong pada orang asing. “Bagus kau mengerti. Jadi bagaimana? Kau mau ikut bersamaku ke Brutus?” tanya pemuda itu langsung ke pokok masalah.


“Ya, ya. Aku akan menjagamu dengan seksama, wahai putra Duke penguasa Ponza,” jawab Kutzo sarkastik.

__ADS_1


Damian tertawa kecil. “Rupanya kau tahu siapa aku,” ujarnya bangga.


__ADS_2