Sign Of Zodiac: Cancer

Sign Of Zodiac: Cancer
Masa Lalu


__ADS_3

Sekembalinya Damian dari guild, pemuda itu langsung pulang ke kediamannya. Ibunya ada di taman, sepertinya sedang menemui tamu dari kalangan bangsawan juga. Damian memanfaatkan itu untuk bertemu dengan Arabela. Menurut info para pelayan, kakak iparnya tersebut tengah menghabiskan waktu dengan putra dan putrinya di ruang perpustakaan.


Tanpa membuang waktu, Damian pun melesat ke perpustakaan dan mendapati Arabela bersama dua anakknya sedang membaca buku. Arabela tampak tidak terkejut melihat kedatangan Damian. Alih-alih dia menyuruh dua anaknya yang masih berusia tiga dan empat tahun itu untuk bermain di tempat lain bersama pengasuh mereka. Kini Damian hanya tinggal berdua bersama Arabela.


“Sepertinya kau sudah menerima surat permintaanku, Damian,” kata Arabela sembari masih duduk di meja baca.


Damian ikut duduk di hadapan wanita itu, menghela napas panjang yang berat. “Apa kau benar-benar harus melakukan sampai sejauh ini?” tanya Damian kemudian.


Arabela terdiam sejenak. Ia lantas menarik lengan gaunnya yang menutup hingga ke pergelangan tangan. Di balik gaun hijau pastelnya itu, terpampanglah luka lebam yang banyak sekali. Beberapa luka sayatan dan luka bakar juga terlihat jelas. Arabela melanjutkan dengan membuka kerah gaunnya yang tinggi hingga menutupi leher. Di leher wanita itu kini tampak memar seperti bekas cekikan.


Damian tidak bereaksi apa-apa dan hanya menunggu Arabela menjawab pertanyaannya.


“Bukankah kau sendiri yang menyulut api pertama? Aku hanya melanjutkannya sesuai keinginanmu. Kebencianku pada Titus sama besarnya dengan kebencianmu padanya, Damian,” ucap Arabela kemudian.


“Aku tidak membencinya. Aku tidak pernah membenci siapa pun,” sahut Damian cepat.


“Oh baiklah. Kalau begitu anggap saja kau senang melihat orang lain menderita. Aku sudah memberimu kesempatan untuk membuat kakak pertamamu menderita. Kau hanya perlu memakan umpannya, Damian,” lanjut Arabela tanpa ekspresi.


“Kau bertaruh pada hal yang besar,” komentar Damian.

__ADS_1


Arabela tersenyum simpul. “Aku tidak mempertaruhkan apa pun. Hanya pembalasan. Itu yang kuinginkan. Aku tidak peduli kalau setelahnya hidupku mungkin akan lebih menderita. Atau keluargaku dihancurkan oleh ayahmu. Aku ingin Titus membayar perbuatannya padaku. Aku sudah bertahan selama lima tahun. Seluruh tubuhku, bahkan harga diriku telah diinjak-injak. Rasanya aku sudah hampir kehilangan kewarasanku.”


Damian mengamati Arabela dengan dingin. Sejak awal ia tidak suka bergaul dengan istri-istri kakaknya. Mereka punya sifat aneh yang sedikit berbahaya. Entah kenapa kedua kakaknya memilih untuk menikahi perempuan semacam itu. Meski sebenarnya, Damian paling tidak ingin berurusan dengan Arabela. Mereka memiliki masa lalu yang tidak terlalu baik.


“Apa kau tidak memikirkan anak-anakmu?” tanya Damian lagi.


Arabela mendengkus pendek. “Liem akan menjadi pewaris Duke Castor. Dan Mallice juga putri resmi dari keluarga Castor. Kedua orang tuamu akan mengurus mereka sekalipun aku diusir.” Arabela menjawab tanpa berpikir, seakan ia memang sudah membulatkan niat untuk menghancurkan suaminya.


Damian hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. “Dasar gila,” gumamnya sembari berdecak.


“Apa kau takut kalau keluargamu akan hancur? Kau tidak mungkin benar-benar peduli pada anak-anakku. Orang yang tidak punya hati sepertimu, jangan bertingkah seolah-olah kau memiliki rasa simpati,” kecam Arabela sarkastik.


Arabela mendengkus pendek. “Justru aku tahu lebih banyak tenangmu dari pada siapa pun. Kau harus mengakuinya, Damian.”


Damian menghela napas panjang lalu menengadah untuk menjernihkan pikiran. Kenangan-kenangan masa lalu tiba-tiba membanjiri benaknya. Akan tetapi Damian segera menyingkirkan pikiran-pikiran tersebut dan kembali menguasai diri.


“Semua orang berubah. Termasuk aku. Aku bukan lagi Damian yang kau kenal delapan tahun yang lalu. Aku bukan anak polos yang bisa kau bodohi dengan mudah, Arabela,” ujar Damian tajam.


“Tentu saja kau sudah berubah. Tapi rasa sakit hatimu pada kakak-kakakmu itu tidak berubah. Mungkin justru semakin menyakitkan.” Arabela terus berusaha menekan Damian dengan menyentuh luka-luka di hatinya.

__ADS_1


Damian bangkit berdiri. Ia tidak ingin bicara lebih jauh dengan Arabela. Topik yang dibawa-bawa perempuan itu sudah terlalu jauh dan membuatnya mengingat kenangan buruk yang memuakkan. Saat hendak melangkah pergi, Arabela memanggilnya sekali lagi.


“Titus telah merebutku darimu, Damian. Dan sekarang dia justru memperlakukanku seperti ini. Kau pikir aku bisa hidup dengan bahagia? Apa kau senang melihatku terluka?” ucap Arabela menahan langkah Damian.


Damian menggeretakkan giginya dengan marah. “Jangan berpikir kalau kau bisa mencoba memanfaatkan perasaanku, Arabela. Hatiku sudah mati sejak kau memutuskan menerima lamaran kakakku,” geramnya sembari melepaskan diri dari pelukan Arabela.


Damian kembali ke kamarnya sendiri. Mengutuk dengan marah perbuatannya yang bodoh. Sejak awal ia tidak perlu menemui Arabela. Dan kasus tidak masuk akal itu, seharusnya dia buang tanpa perlu dipertimbangkan. Apa Damian marah?


Dia merasa terganggu. Arabela dan Damian adalah teman kecil. Mereka berkenalan saat acara debutante Arabela delapan tahun yang lalu. Damian dua tahun lebih muda dari Arabela. Saat itu Damian baru berusia tiga belas tahun, masih begitu naïf dan polos.


Damian remaja jatuh cinta pada pandangan pertama pada Arabela. Keduanya lantas bersahabat dan mulai dekat. Dari hari ke hari, Damian banyak menghabiskan waktunya bersama Arabela. Pergi ke perpustakaan, minum teh bersama hingga mengunjungi toko makanan penutup. Perasaan cinta yang masih lugu itu terus berkembang dan nampaknya Arabela pun merasakan hal yang sama. Damian sudah menetapkan hati untuk melamar Arabela setelah dia cukup dewasa.


Akan tetapi, tiga tahun kemudian, ia mendapat kabar bahwa kakak pertamanya, Titus, mengirimkan surat lamaran kepada pujaan hatinya. Damian mencoba bertemu dengan Arabela dan meminta gadis itu menolaknya. Namun alih-alih bisa bertemu, Damian justru mendapat kabar bahwa Arabela akan menikah dengan Titus.


Sejak saat itu, Damian yang patah hati tidak lagi percaya pada cinta. Ia membunuh hatinya hingga tidak perlu merasakan emosi apa pun lagi dengan terlalu dalam. Damian berubah menjadi seorang delator kejam dengan mulut berbisa. Kata-katanya bisa mengeksekusi siapa pun yang menurut Damian bersalah.


Kini di hadapan pemuda itu, Arabela seolah sedang mengujinya. Setelah lima tahun pernikahan mereka, kenapa baru sekarang Arabela mencoba menghancurkan Titus? Lebih dari itu, kenapa sejak awal ia bersedia menikahi kakak Damian tersebut?


Rasa kesal Damian terus berlanjut karena ia merasa Arabela telah memandang rendah dirinya. Wanita itu berpikir bahwa Damian adalah pemuda yang gampangan. Ia benar-benar tidak ingin mengambil kasus itu jika memikirkan rasa sakit hatinya pada Arabela. Namun di sisi lain, itu adalah kesempatannya untuk menghancurkan Titus dan segala kesombongannya. Ia mungkin tidak akan bisa menjadi pewaris Duke sekalipun kakak pertamanya itu dihukum, tetapi setidaknya ia juga ingin melihat Titus menderita akibat perbuatannya sendiri. Damian ingin menghukum kakaknya itu.

__ADS_1


__ADS_2