
Esok paginya Damian menyuruh pelayan untuk membawakan sarapannya ke kamar. Belum ada keluarganya yang tahu kalau Damian sudah pulang ke rumah. Karena itu lebih baik ia menghindari sarapan bersama daripada harus bertemu dengan orang-orang yang akan merusak suasana hatinya.
Sera datang membawa satu troli masakan dari dapur. Gadis itu tampak baik-baik saja meskipun sudah ditinggalkan oleh Damian selama berhari-hari. Setelah selesai menata meja dan meletakkan semua masakan, Sera pun bersiap undur diri.
“Kau mau kemana?” tanya Damian sembari duduk di meja budar dekat tempat tidurnya.
“Saya akan undur diri, Tuan Muda. Silakan nikmati sarapan Anda,” sahut Sera sembari membungkuk sopan.
“Bagaimana bisa kau membiarkan aku makan sendiri setelah berhari-hari tidak makan di rumah.”
Sera berdiri kaku di tempat. Dengan canggung ia lantas mencoba menjawab permintaan Damian. “Ma, maafkan saya, Tuan Muda. Kalau begitu saya akan menunggu Anda selesai sarapan di belakang,” ujarnya lantas mendorong troli ke belakang punggun Damian.
Dengan cekatan, Damian mencengkeram troli yang dibawa oleh Sera hingga berhenti. Sera tersentak kaget lalu menatap tuan mudanya itu dengan kebingungan.
“Duduklah. Kita sarapan bersama,” ucap Damian sembari mengangguk ke arah kursi di hadapannya.
__ADS_1
“Ba, bagaimana bisa saya duduk bersama Anda, Tuan Muda,” cicit Sera semakin salah tingkah.
“Lakukan saja. Aku memberi perintah. Itu artinya kau harus patuh. Aku sudah memberimu izin untuk duduk bersamaku,” tandas Damian keras kepala.
Pada akhirnya Sera pun sama sekali tidak bisa melawan perintah Damian. Dengan gugup gadis pelayan muda itu pun akhirnya duduk di hadapan Damian bersama beragam sajian lengkap yang menggoda. Damian dengan cekatan mengambil satu piring kosong lagi yang biasanya memang dibawa oleh para pelayan sebagai cadangan. Pemuda itu lantas menata piring dan peralatan makan di hadapan Sera.
Buru-buru gadis itu mengambil piring dan peralatan makan yang dibawa Damian. “Biar saya sendiri, Tuan Muda,” desah gadis itu.
Damian membiarkan Sera kembali sibuk menata peralatan makannya. Pemuda itu lantas tersenyum hangat dan mulai menyendok sup labunya yang masih hangat.
Sera mengaduk-aduk supnya sendiri sembari melirik Damian yang kini duduk nyaman di hadapannya. “Nyonya setiap hari mencari Anda dengan khawatir. Beberapa kali Duchess memeriksa kamar Anda untuk melihat apakah Tuan Muda sudah kembali. Sementara Duke dan kakak-kakak Anda tetap seperti biasa,” jawab gadis itu.
Damian mengangguk pelan. Seperti yang diduga, di rumah ini hanya ibunya yang peduli pada Damian. Sisanya justru senang kalau Damian pergi dari rumah.
“Hari ini aku akan pergi lagi. Aku keluar setelah ayah dan kedua kakakku berangkat bekerja. Karena itu siapkan pakaian untukku,” perintah Damian kemudian.
__ADS_1
“Baik, Tuan Muda,” sahut Sera cepat. “Kalau boleh tahu, Anda mau pergi ke mana? Ah, itu agar saya bisa mencocokkan dengan pakaian yang Anda butuhkan,” tambah Sera cepat-cepat.
Damian hanya tersenyum tipis. “Carikan saja baju yang cocok untuk menemui seorang Lady. Untuk bekerja. Bukan sebagai lawan jenis.” Damian menerangkan dengan cermat.
“Baik, Tuan Muda. Saya mengerti,” jawab Sera sembari mengangguk.
Pemuda itu tersenyum puas. Sera sepertinya sudah semakin terbiasa dengan pekerjaannya. Kini ia tidak lagi kikuk dan melakukan banyak kesalahan seperti saat awal-awal ia bekerja di kediaman Castor.
Setelah menyampaikan instruksi-instruksi tersebut, Damian dan Sera pun melanjutkan sarapan mereka. Tiba-tiba pintu kamar Damian menjeblak terbuka. Kedua orang itu pun sontak menoleh dengan terkejut. Rupanya Nyonya Castor yang datang. Sang Duchess itu segera menyerbu masuk dengan air mata berderai.
Melihat hal itu, Sera pun segera bangkit dari kursinya. Ia tidak bisa duduk bersama tuan mudanya begitu saja tanpa menimbulkan masalah. Nyonya rumah itu mungkin akan mengutuknya kalau mengetahui hal itu.
“Oh, Damian, putraku. Apa kau tahu betapa terkejutnya aku saat mendengar bahwa pelayan pribadimu membawa makanan dari dapur. Sudah kuduga kau kembali,” cecar Nyonya Castor sembari memeluk putranya.
Wanita paruh baya itu lantas menoleh ke arah Sera yang sudah membungkuk dalam-dalam di sebelah meja makan. Ia memperhatikan mangkuk sup yang masih mengepul di hadapan Damian. Dengan penuh emosi wanita itu pun menghardik Sera.
__ADS_1