
Rintik hujan masih belum berhenti, seorang gadis mematung di balkon kamarnya, entah apa yg menjadi objek pandangnya.
Gadis cantik nan manis ini bernama
Aira Putri, umurnya belum genap 19 tahun , baru lulus dari SMA beberapa bulan lalu, ia belum sempat mendaftar kuliah, Aira menunda untuk kuliah karna ingin mengabdi di pesantrenya untuk mengamalkan ilmunya.
Tentu hal ini sudah ia pikirkan matang_matang dan di setujui orang tuanya, mereka yakin apa yg menjadi pilihan Aira adalah yg terbaik.
Aira adalah anak yg cerdas, berdedikasi tinggi, dan mempunyai wawasan yg luas, bukan hanya di bidang umum, namun di bidang keagamaanpun ia unggul.
Terbukti dari beberpa piala yg ia raih, berbagai juara ia dapat, termasuk juara unggulan pembaca kitab" pesantren terbaik.
" nduk, ngapain di situ " suara umi membuyarkan lamunan Aira.
"umi,,,,"
"kenapa nduk,,,? "
" ndak ada umi, Aira cuma seneng aja liatin ujan "
Sebenarnya ia memikirkan dirinya yg akan menikah esok hari, yah besok ia akan menikah dengan seorang dokter yg ia belum kenal.
Di jodohkan tepatnya, Aira tidak dapat menolak karna Kiyai yg menjodohkan.
ia yakin Kiyai tidak salah pilih, dan Aira ikhlas lillahi ta'ala.
Di lain tempat tampak seorang pria dengan perawakan yg pas duduk santai di taman belakang rumahnya sembari menyesap sekuntum rokok di temani secangkir kopi.
Di sebelahnya duduk seorang pria paruh baya yg terlihat bugar.
" Ayah harap kamu dapat memperlakukanya dengan baik, jangan kecewakan kami. "
tak ada jawaban dari pria di sebelahnya.
"Daiyan ,,,Ayah rasa kmu sudah cukup dewasa untuk situasi ini.."
__ADS_1
" Daiyan tidak habis pikir kenapa Ayah dan bunda ngotot sekali menikahkan daiyan,," pria itu kembali menyesap rokoknya.
Ayah menghembuskan nafasnya kasar, kemudian menjawab.
"pergaulan kamu yg membuat kami khawatir,"
meminum kopi kemudian melanjutkan perkataanya.
" Ayah dan Bunda hanya ingin yg terbaik buat kamu, Aira adalah Santri Kiyai Abdillah, Ayah rasa tidak mungkin Kiyai Abdillah salah memilih,,,"
___________________
Hari yg di tunggu Ahirnya tiba , semua sudah bersiap di taman sebuah rumah bertingkat satu yg terlihat begitu asri.
dekor bertema out dor menambah keindahan rumah itu.
Daiyan duduk di kursi berhadapan dengan Abinya Aira dan pak penghulu.
"baik, sudah bisa di mulai sekarang,,?"
Setelah bermuqodimah ahirnya tiba saatnya Daiyan menjabat tangan Abi mansur.
" bagai mana saksi,,,saah"
sah,,,
sah,,,
sah,,,
Mendengar suara riuh yg mengucapkan sah, Aira berdebar, ini artinya ia sudah sah menjadi istri pria yg berumur 26 tahun itu.
umi dan bunda nya Daiyan menggandeng Aira menuju tempat akad.
_______________
__ADS_1
Malam hari Aira sudah berada di kamarnya pikiranya kosong entah apa yg akan terjadi malam itu, sedangkan Daiyan masih di bawah menemui keluarga besarnya dan Aira.
tak lama terdengar suara sepatu menuju kamarnya, ceklek, pintupun di buka.
Aira gugup ini kali pertamanya ada pria yg bukan mahromnya berada di kamarnya.
" kamu siapkan semua barangmu, malam ini jga kita pindah ke apartemen ku,,"
Aira tambah kanget
"malam ini,,? tanyanya memperjelas.
" ya, sekarang tepatnya, aku tunggu di bawah."
Daiyan melenggang meninggalkan Aira dengan santainya.
Daiyan beralasan bahwa besok ada jadwal oprasi yg tidak bisa di gantikan oleh dokter lain sehingga ia meminta izin pada para orang tua untuk pindah ke apartemennya karna lebih dekat.
Aira turun menenteng sebuah koper besar, iapun berpamitan dengan semua anggota keluarganya dengan haru biru.
"Nak Daiyan titip Aira ya,," ucap umi sambil menyalami Daiyan.
" iya umi, Daiyan akan jaga Aira.." menjawab dengan wajah tersenyum sangat manis.
" Bunda harap begitu, kami percaya padamu nak,,"
Setelah keluar dari rumah itu Daiyan merasa lega , ia menyenderkan kepala di kursi mobil sembari membuang nafas lega.
"Ahirnya,,," ia bergumam.
Aira meliriknya dengan heran.
Satu jam berlalu dan mereka sampai di sebuah apartemen mewah .
disinilah kehidupan Aira yg baru akan di mulai.
__ADS_1