
Pagi sekali orang tua mereka bersiap pulang, jadwal terbangnya pagi.
" kenapa gak nginep semalem lagi umi, bunda, Aira kan masih kangen,,,"
rengek Aira ia bergelayut di tangan uminya.
" bulan depan kami datang lagi sayang , insyaAlloh satu minggu di sini,,,"
" serius bun,,,"
"iya ndok, tapi ndak nginep disini lo ya,,,"
"kenapa umi,,,"
" karna itu perjalanan bisnis..."
sambung bunda.
Setelah mereka pergi Aira merasa kehilangan separuh semangatnya.
" sudah jangan di lihat terus , ,,,"
Aira menoleh,,,
" tumben sekali dia ,,,"
gumamnya.
Aira melanjutkan aktifitasnyaseperti biasa, sudah dua bulan ia menikah namun ia merasa seperti jomblo fi sabilillah.
Kegiatan pesantren saat ini tidak terlalu banyak, Aira berjalan menuju ruanganya dengan ngontai.
" Aira,,,,"
husna menghentikan langkah Aira.
" iya, ada apa,,"
" hari ini ada waktu gk ,,,"
" ada,,, kenapa,,,"
"makan siang bareng yuk, kbetulan mata pelajaran cuma satu, jadi waktu luang banyak,,"
Aira mengiyakan tentu ia sangat senang, karna jarang makam di luar.
Daiyan duduk termenung di ruanganya sembari melihat ke jendela luar.
__ADS_1
ia memikirkan nasib pernikahannya dengan Aira.
Tidak mungkin ia bercerai dengan Aira, orang tuanya pasti akan kecewa, namun ia tidak suka dengan Aira yg menurutnya terlalu kampungan dan wawasanya tidak luas.
ia meremas rambutnya sembari menenggelamkan wajahnya.
tok,,,tok,,,
" lo kenapa bro,,,"
tanya johan.
" gk papa,,,"
"soal pernikahan ??"
Daiyan tak menjawab.
"gue penasaran deh sama istri lo, seperti apa si dia, sampai lo gk mau mengenalnya..."
"bro,,, kalau saran gue sih, mending kenal dia lebih deket, siapa tau kalian bisa jadi temen,,,"
" dia itu santri, cara pemikiranya pasti sempit, males gue,,"
"itu beda,,, santri disini memang berwawasan luas,,,"
johan geleng" kepala...
"oh iya bro tadi gue papasan sama cewek, bening bgt, kayak udah pernah ketemu tpi dimana gtu, dia ngajar di sebelah jga, suaranya bahus banget..."
"pasti lo langsung modusin dia,,,"
"enggak lah bro, mana berani gue,, tapi gue kagum sama dia,,,"
fawailullilmusollin~
tiba-tiba johan merebut pena yg diketukketukan Daiyan.
" diem,,, dengerin,,, itu suara gadis itu yan,,,"
ucap johan serius.
Daiyan ikut mendengarkan, karna memang antara rumah sakit dan pesantren sangatlah dekat.
adem,,,,,
" lo denger kan yan,,,, gak salah lagi itu suara gadis itu,,,,"
"gue harus gercep nih,,,"
Tak lama rendi masuk.
__ADS_1
" ngapain tu bocah,,,"
heran melihat johan diam menghadap jendela.
" lagi kesemsem ,,," jawab Daiyan.
"ooh pantes songongnya kambuh,,,"
" diem lo, doain gue supaya dapet jodoh seorang santri,,,"
" jo...jo... solat aja lo masih bolong-bolong, gak usah ngarep,,,"
" ok,,,gue mau berubah detik ini juga, biar jodoh gue jga baik ,,"
ucap johan bersungguh sungguh.
"yan bukanya istri lo jga santri ya,,,"
Daiyan tak menjawab.
" iya, tapi di anggurin" timpal johan.
Setelah makan siang tadi Aira tidak langsung pulang, hari ini ada jadwal, melatih hadroh santri putri, kbetulan Aira jga memiliki suara yg bagus.
Beberapa bulan berlalu, namun belum ada tanda-tanda perkembangan hubungan mereka.
Seperti biasa seminggu sekali Aira melatih hadroh , dan ia akan pulang malam, karna kondisinya seperti itu pihak pesantren memberi fasilitas kendaraan untuk Aira, sebuah sepeda motor.
Kini saatnya Aira pulang, baru keluar dari gerbang pesantren ,ia di panggil oleh seseorang,,
" Aira,,,,"
" monik,,,"
"hei,,, kamu udah mau pulang,,,ra,,"
"iya nih,,,"
"emmm, temani aku ngopi bentar yuk ,,,"
Aira tampak berfikir sejenak.
" gak jauh kok di kafe sebrang, tuuh,,"
Monik menunjuk sebuah kafe yg tak jauh dari situ.
Ahirnya mereka berdua pergi menuju kafe itu.
Monik adalah anak dari direktur rumah sakit tempat Daiyan bekerja.
__ADS_1