Sincerity Of Love

Sincerity Of Love
Bab 2


__ADS_3

"Masuk,,," Daiyan mempersilahkan Aira untuk masuk ke apartemenya.


Aira megikuti langkah Daiyan, ia mengedarkan pandanganya ke semua penjuru.


" ini kamarmu, kamu bebas menggunakanya"


Aira mengerutkan kening.


"kamarmu" batinya.


Aira masuk kekamar itu sedangkan Daiyan hanya berdiri di pintu.


" aku tunggu di depan,,"


titah daiyan.


Aira melihat lihat kamar itu, terlihat tidak pernah di pakai hanya ada lemari baju meja rias dan beberapa rak disana.


Setelah selesai memasukan bajunya ke dalam lemari Aira bergegas keluar menemui Daiyan.


Terlihat daiyan sudah menunggunya duduk di sofa, ia mempersilakan Aira untuk duduk.


" Apa dokter sudah mau pergi untuk oprasi,,?"


Aira memberanikan diri untuk bertanya.


" tidak,," jawabnya singkat, sembari menikmati minuman bersoda.


" sebenarnya itu hanya alasan agar saya bisa secepatnya pulang kesini,,"


Aira masih terdiam , mencoba mencerna maksud perkataan Daiyan.


" Seperti yg kamu tau kita menikah karna di jodohkan, kita tidak saling mengenal sebelumnya, dan saya yakin kamu jga terpaksa,,"

__ADS_1


deg,,,,


Aira masih mencoba untuk tenang.


" maka dari itu aku ingin secepatnya pulang kesini, disini kita bisa menjalani kehidupan kita masing", tanpa mengecewakan orang tua kita, kamu bebas melakukan apapun yg kamu mau , bgitu jga saya, jadi kita tidak merasa terbebani dengan pernikahan ini,,," ucap Daiyan panjang lebar.


Aira merasakan sesak pada dadanya , ia menahan sekuat tenaga agar tetap terlihat kuat, ia tidak habis pikir Daiyan menganggap pernikahan ini bgitu enteng tak ada maknanya sama sekali.


" satu lgi saya merahasiakan pernikahan kita dari teman" saya, saya harap kamu bisa memposisikan diri, kamu pahamkan,,"


Aira hanya mengangguk tanpa bersuara, ia menundukan wajah bgtu dlm.


" sudah sana kamu istirahat, tidak baik untuk kesehatan jika tidur terlalu malam,,,"


Daiyan pergi ke kamarnya mendahului Aira yg masih tertunduk.


Daiyan bahkan tidak menghiraukan perasaan Aira sama sekali.


ia justru merasa lega setelah mengatakan semuanya pada Aira, ia tidak perduli sama sekali dengan gadis itu.


"umi,,,,," pekiknya dalam isakan.


pernikahan yg ia yakini adalah sebuah ibadah terlamanya , yg ia pikir akan menambah keberkahan dlm hidupnya justru diawali dengan hal yg tak terduga.


Tengah malm Aira bangun seperti yg biasa ia lakukan untuk bermunajat pada sang pemilik kehidupan, mengadukan apa yg ia rasakan .


Pagi sekali ia sudah bersiap membereskan apartemen daiyan menyapu mengepel dan sebagainya, ia sudah terbiasa melakoninya di asrama sehingga tak memberatkanya.


Aira melirik pintu kamar daiyan yg masih tertutup rapat. sepertinya Daiyan belum bangun.


ia melanjutkan aktifitasnya, menuju dapur untuk membuat sarapan.


Kebetulan memasak adalah hobinya, gadis ini memang serba bisa di segala hal, bisa di bilang multi talent.

__ADS_1


Daiyan menggeliat ia menghirup aroma yg menurutnya membuat perut lapar.


ia berfikir sejenak kemudian bangun dan mandi.


Sarapan pagi telah siap berjajar rapi di meja makan , Nasi goreng dengan toping udang dan sosis serta beberapa telur mata sapi tertenteng disana.


Setelah selesai ia kembali ke kamarnya.


Daiyan keluar ,melihat meja makanya sudah tertenteng makanan.


apa gadis itu yg menyiapkanya


Tak mau ambil pusing ia segera melahap makanan tersebut.


enak


tak butuh waktu lama Daiyan telah menghabiskan sepiring nasi goreng.


Aira keluar dari kamar membawa baju kotor.


" apa dokter punya baju kotor biar saya cuci sekalian,,,"


bukanya menjawab Daiyan justru mengambil sesuatu dari dompetnya


" ini untuk mu nafkah dariku, beli semua yg kamu mau, dan tidak usah peduli denganku , seperti yg tdi mlm saya katakan, jalani hidup kita masing"..


Aira mematung mendengar jawaban Daiyan.


" sebaiknya kita jangan sering" berbicara.."


kemudian Daiyan pergi .


Aira bergetar hatinya perih bahkan sekedar untuk berinteraksi Daiyan menolaknya.

__ADS_1


namun ia meyakinkan dirinya ia harus kuat, demi kedua orang tuanya dan Kiyai Abdillah guru tercintanya.


__ADS_2