
Rania, seorang mahasiswi semester akhir di sebuah perguruan tinggi swasta di kotanya. Kesehariannya berdagang camilan secara online membawanya pada sebuah kisah yang tak pernah ia sangka sebelumnya. Tak banyak orang yang tahu bagaimana ia menjalani hari, kuliah dan berjualan di waktu yang bersamaan. Kadang-kadang, hanya sekali setiap tiga sampai empat bulan ia mengunjungi ayahnya yang tinggal di desa. Selebihnya ia menghabiskan waktu untuk kuliah dan mencari uang, dari waktu ke waktu.
Keluar dari kelas ia berjalan tergesa menuju tempat parkir. Baju kemejanya berkibar seiring langkahnya yang panjang-panjang menyusuri koridor kampus. Dia memang agak terburu-buru karena harus segera menyelesaikan pesanan siomay buat nanti sore.
Dua kali menekan tombol starter tapi tak terdengar motornya menyala. Panik, ia tekan sekali lagi, tapi tetap motor matic itu diam membisu. Menengok ke kanan ke kiri, tak seorangpun. Celaka. Ia sama sekali tak paham tentang mesin motor. Jangankan mesinnya, bannya kempes saja ia pilih ke bengkel untuk memompanya. Tiba-tiba Rania teringat sesuatu. Jangan-jangan.... ia mencabut kunci motornya dan membuka jok bensin. Huh, benar, bensinnya kosong. Keterlaluan.
Gadis berbadan tegap itu mendorong sepeda motornya keluar dari halaman kampus dengan raut muka jengkel. Bagaimana tidak, baru tiga hari yang lalu ia mengisi penuh tangki bensinnya, sekarang malah sudah kering sampai distarter pun tidak menyala. Pasti ini ulah Rendra yang meminjam motornya kemarin. Kebiasaan, tiap kali pinjam motor selalu tidak mau mengisi bensin. Memang dia pikir motor bisa jalan dengan diisi air kencing? Awas saja kalau nanti ketemu. Tetangga satu itu memang tak tahu diri. Setetah pinjam motor kemarin ia mengembalikan motor itu di depan rumah kostnya dengan kunci menancap dan cuma mengirim pesan singkat.
"Motormu di depan, kuncinya tertancap. Bawa masuk sendiri ya." Dasar somplak, boro-boro mengisi bensin, bilang terimakasih saja tidak.
Orang satu itu memang tidak punya urat malu. Jangankan disindir, ditegur saja dia sudah kebal, tidak mempan, tidak bakalan merubah sikap.
__ADS_1
Rania semakin gusar ketika mendapati kios bensin di dekat kampus tutup. Sungguh sial.
Matahari jam dua masih menyengat kulitnya yang sawo matang. Peluh bercucuran di samping telinga kanan dan kirinya. Sekali lagi gadis itu mengumpat dalam hati setelah mendorong motor lebih dari satu kilometer tapi tak menemukan satupun penjual bensin di pinggir jalan. Hari yang melelahkan, sempurna.
Sambil mendorong motor ia mengingat-ingat pesanan siomay yang harus ia antar nanti malam. Ada seorang teman yang mengadakan syukuran orang tuanya pulang dari umroh. Lumayan, jarang-jarang dapat orderan banyak. Biasanya paling banyak dapat pesanan satu orang 5 porsi. Kali ini temannya memesan sekaligus 150 porsi. kalau biasanya ia bisa menangani pesanan sendiri, kali ini ia minta tolong bu Sari tetangga yg rumahnya di ujung gang untuk membantu. Dari pagi bu Sari sudah datang, membungkus adonan siomay yang sudah Rania siapkan dari subuh, kemudian mengukusnya. Bumbu kacang sudah dibuatnya kemarin, tinggal menghangatkan dan menambahkan kecap dan cabe saja. Kalau saja tidak sidang skripsi, ingin rasanya dia bolos kuliah supaya tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk upah bu Sari. Tapi Ia ingin lulus semester ini, jadi Ia harus bekerja lebih keras, tak apalah berbagi sedikit rejeki dengan beliau.
Setelah mengisi bensin, ia harus mampir ke toko plastik untuk membeli mika kemasan siomay. Sekali jalan, daripada nanti harus keluar lagi. Selain hemat bensin, tentu saja juga akan menghemat waktu.
Rania membanting tasnya yang hanya berisi buku di atas kasur, kemudian menanggalkan semua pakaiannya dan merebahkan tubuhnya di karpet lantai kamar kosnya. Angin yang masuk lewat lubang ventilasi di atas jendela semilir menerpa tubuhnya yang hanya tertutup bra di bagian dada dan celana segitiga di daerah intimnya. Perjalanan beli bensin eceran tadi sungguh menguras tenaga dan emosi. Kurang ajar si Rendra.
Di rumah kost ini Rania tinggal sendiri. Rumah yang tidak begitu besar, tapi lengkap dengan perabotan yang boleh ia gunakan kapan saja. Dapurnya juga lumayan luas, sehingga ia bisa memasak bahan jualannya di sana. Serasa seperti di rumahnya sendiri, sudah tiga tahun lebih ia tinggal di sana. Dua orang yang kost di kamar sebelahnya pindah beberapa hari yang lalu. Sebenarnya ia takut tinggal sendirian, takut kalau-kalau ada orang jahat masuk ketika ia tidur. Daerah itu lumayan sepi karena gang buntu. Tapi mau bagaimana lagi? Entah kenapa mereka tiba-tiba pindah. Belum ada orang yang berniat menyewa kamar di sebelahnya itu lagi. Jadilah, Rania tinggal sendirian di rumah yang tidak begitu besar itu. Ia berharap dalam waktu dekat ada yang mengisi kamar sebelah. Ia bahkan sudah menawarkannya ke beberapa teman kuliahnya. Tapi tampaknya belum ada yang tertarik karena jaraknya ke kampus terlalu jauh.
__ADS_1
Masih jam dua tiga puluh. Rania sudah shalat dhuhur di kampus tadi, Ia bisa tidur sebentar sebelum mulai menyiapkan pesanan siomay.
Jam 4 sore bu Sari datang lagi untuk membantu mengemas siomay. Semua bahan sudah siap. Telur, kentang, dan sayuran sudah dikukus oleh Rania, tinggal mengangkat dari panci. Dibiarkannya tetap disana supaya tetap hangat. Bumbu kacang dan cabe juga sudah dipanaskan. Tinggal memotong-motong isian siomay dan memasukkannya kedalam kemasan.
"Mbak nanti jam berapa mau diantar?" Tanya bu Sari sambil mengeluarkan sayur dari dalam kukusan.
"Jam enam bu. Tapi Diah baru mengirim pesan kalau dia yang akan mengambil kesini sekalian mengambil pesanan kue."
"Baguslah, jadi Mbak Rania tidak perlu repot mengantar."
"Iya, lagian Diah bawa mobil katanya, jadi bisa sekali angkut."
__ADS_1
Keduanya menata siomay dengan cekatan. Menyusun setiap porsi di dalam kotak mika dengan rapi. Rania mengambil beberapa foto untuk dia upload di media sosialnya buat promosi. Jarang-jarang dapat pesanan banyak. Siapa tahu setelah ini banyak yang tertarik memesan dagangannya.