Sisi Gelap Mentari

Sisi Gelap Mentari
Punten pecel


__ADS_3

Kalau kau ingin menjadi anak yang baik, maka kau akan menuruti apa kata orang tuamu.


Itu pesan nenek yang selalu diingat Rania. Makanya selama ini ia begitu penurut. Dari kecil ia memang selalu ingin menjadi anak yang baik, yang membanggakan orang tua dan keluarga. Hingga untuk sekedar bilang tidak saja ia tak bisa.


Meskipun matahari tidak muncul karena tertutup mendung tebal, setelah sarapan tadi ayahnya mengajak keliling kota naik motor, pertama kalinya setelah sekian tahun. Tapi berbeda dengan dulu ia yang duduk di belakang, kali ini ia memboncengkan ayahnya karena beliau tidak tahu jalanan kota ini.


Momen indah masa kecilnya melintas lagi. Waktu naik sepeda ia biasa didudukkan di boncengan belakang, ayahnya akan mengikat kakinya dengan tali supaya tidak masuk ke jeruji sepeda. Atau kadang memakaikan jeket kebesaran kalau memboncengkannya naik motor, dan menalikan kedua ujung lengan jaket itu ke pinggang beliau supaya ia tidak terjatuh ketika mengantuk.


Mengapa baru sekarang aku menyadarinya?


Rania mendesah pelan, suaranya terbang di telan udara bersama laju motor.


Bapak memang tidak mengatakannya, tapi harusnya aku paham. Cinta tak harus diucapkan bukan?.


Setitik air bergulir menerobos kelopak matanya.


"Nduk beli punten pecel di depan itu ya."


Rania tersadar dari lamunannya. Memang di depan ada pedagang punten pinggir jalan. Ada banner kecil di depannya.


"Kebetulan masih buka pak, biasanya jam tujuh sudah habis."


"Berarti rejeki bapak ya." Ayahnya tertawa, disambut tawa juga oleh Rania.


Rania menepikan motornya agak jauh dari pedagang punten karena di sana tidak ada tempat parkir. Mereka turun lalu berjalan mendekati pedagang yang sudah terlewati beberapa meter.


"Mau dimakan di sini atau dibungkus saja pak"?.


"Bapak ingin makan di sini saja. Sepertinya lebih mantab."


Mereka memilih duduk di bagian belakang ibu pedagang punten, di mana ada beberapa kursi plastik pendek berwarna biru.


"Dua buk, dimakan di sini." Rania memesan begitu keduanya duduk


"Jadi ingat di rumah ya nduk. Duduk di depan tungku sambil makan pakai tangan."

__ADS_1


"Sudah lama sekali, waktu hujan sambil membakar ubi ya pak." Mereka berdua tertawa.


Seperti baru kemarin saja. Kenyataannya kejadian itu sudah berlalu lebih dari sepuluh tahun.


Tak lama menunggu dua porsi punten sudah diulurkan oleh ibu penjual itu. Sambal kacang yang dituangkan diatas punten yang di potong kotak kotak lebar dan sayur sungguh membuat air liur mereka menetes. Apalagi disajikan dengan pincuk daun pisang. Padahal baru satu jam yang lalu mereka sarapan di rumah tadi.


Suasana warung sepi, tidak ada pembeli lain selain mereka berdua. Ibu penjual sibuk mengemasi dagangan yang tinggal sedikit. Masih agak canggung Rania dan ayahnya fokus pada pincuk masing-masing. Tak ada suara selain suara kendaraan yang berseliweran di jalan.


"Nduk," Rania mendongak menatap ayahnya.


"Sebenarnya bapak kesini mau membahas hubunganmu dengan Wira."


Jedar!!!.


Benar kan? Bapak tak mungkin ke sini tanpa tujuan yang penting.


"Kalau memang kamu tidak ingin melanjutkannya, bapak tidak memaksa. Bagi bapak yang terpenting adalah kamu bahagia."


Tidak bisa mengatakan apa-apa karena masih terkejut dengan kata-kata ayahnya, Rania menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Ia mengumpulkan keberanian untuk menjawab, entah jawabannya akan membuat ayahnya senang atau sebaliknya.


Tapi yang Rania rasakan selama ini jangankan mencintainya, Wira bahkan tak peduli kalau ia punya istri.


"Saya belum tahu pak." Akhirnya Rania menyuarakan isi hatinya.


"Apakah sudah ada laki-laki yang menarik hatimu?."


Benarkan, bapak pasti salah paham dengan kak Dandy.


"Tidak pak, tidak ada."


"Pilihan ada padamu, tidak perlu takut kalau kau memang sudah menemukan seseorang yang bisa membuatmu nyaman nduk. Mungkin keputusan bapak salah, tapi bapak menikahkanmu waktu itu untuk menjagamu. Karena kamu tinggal jauh dari bapak." Jarang sekali ayahnya mengucapkan kalimat sepanjang itu.


"Maksudnya?." Rania memang benar-benar tidak mengerti dengan maksud ayahnya.


Lelaki tua itu menarik napas dalam sebelum melanjutkan.

__ADS_1


"Bapak tidak ingin kamu salah bergaul nduk. Bukannya tidak percaya padamu, tapi bapak khawatir. Makanya dengan pernikahan, bapak beranggapan kau akan membuat batasanmu sendiri. Bagaimanapun sejak kecil kamu sudah belajar banyak tentang agama, sehingga bapak yakin, kau tak akan mengambil langkah yang keliru."


Mendengar tutur kata sang ayah hati gadis itu serasa diremas. Baru kali ini ia melihat sisi lain dari ayahnya. Lelaki yang selama ini dianggapnya tidak perhatian, yang berubah tidak peduli padanya sejak menikah lagi, yang ingin dihindarinya sejauh mungkin hingga jarang sekali pulang.


Di luar hujan mulai turun. Sepertinya ibu penjual punten ingin segera pulang juga. Dagangannya yang tersisa tak seberapa sudah dimasukkan semua kedalam tas anyaman plastik besar.


Rania berdiri, merogoh sakunya mengeluarkan uang untuk membayar punten yang belum habis dimakan.


"Berapa buk?."


"Lima belas ribu dengan tehnya mbak."


Rania mengulurkan uang dua puluh ribuan.


"Tidak usah tergesa-gesa mbak, berteduhlah dulu di sini. Saya pulang dulu karena mau mengantar anak ke rumah sakit." Kata ibu itu sambil memberikan kembalian.


"Terimakasih buk." Wanita setengah baya itu berlalu dengan menjinjing tas besar di tangan kanannya.


Tempat itu memang tidak berpintu. Hanya kios kecil dengan meja-meja pendek diatur berbentuk huruf U, kursi plastik pendek sebagai tempat duduknya. Tidak ada tikar atau karpet untuk lesehan.


Rania kembali duduk menghadap ayahnya, melanjutkan menikmati punten dengan leher yang serasa dicekik.


"Jadi bagaimana?."


"Saya tidak tahu Wira menyukai saya atau tidak pak."


"Kamu pernah bicara dengannya?."


"Dua kali di telepon."


Wira memang pernah menghubunginya dua kali, dulu, beberapa minggu setelah menikah. Membicarakan hal-hal yang tidak penting.


"Tidak pernah bertemu?." Rania menggeleng.


Setelah menikah, mereka beberapa kali bertemu. Waktu lebaran, dan waktu neneknya Wira meninggal. Hanya bersalaman saja, tidak bicara satu sama lain. Entah karena Wira yang acuh dan tidak peduli, atau karena Rania yang selalu menghindar bahkan untuk sekedar bertatapan.

__ADS_1


__ADS_2