
Dari tas ransel besar yang dibawanya, sepertinya ayahnya akan menginap beberapa hari di sini. Ada apa gerangan, Rania bertanya-tanya dalam hati. Jangan-jangan ayahnya bertengkar dengan ibunya.
Ah, nanti saja kutanyakan.
Setelah membuka pintu, menyalakan lampu ruang tamu dan mempersilakan kedua orang itu masuk Rania bergegas ke dapur, menyalakan lampu dapur lalu merebus air dalam teko aluminium untuk membuat teh dan sepanci besar air untuk mandi ayahnya. Pasti beliau capek dan penat setelah melakukan perjalanan berjam-jam. Sepertinya ini baru pertama kalinya ayahnya melakukan perjalanan jauh. Beruntung sekali beliau tidak kesasar.
Sayup terdengar Dandy dan ayahnya bercakap-cakap di ruang tamu.
"Oh ya, paman naik apa tadi?." Terdengar suara Dandy
"Tadi kebetulan Wira ada keperluan di sini, jadi sekalian paman numpang. Kalau naik bus takut kesasar."
Sekali lagi jantung Rania berkedut kencang. Ternyata ayahnya bersama Wira. Jadi Wira sudah tahu ia tinggal di sini. Sejak kapan?
"Memang kalau naik bus dari terminal harus ganti angkutan kota dua kali sebelum sampai ke sini. Agak susah kalau belum pernah."
"Makanya nak, lebih baik paman tidak kesini daripada tidak sampai tujuan." Mereka tertawa renyah. Seolah sudah akrab dan lama saling kenal.
Rania paham betul, ayahnya memang pendiam dan bukanlah orang yang mudah mengutarakan perasaan. Tapi bisa cepat akrab dengan orang lain yang juga nyambung diajak bicara.
Menunggu air di teko kecil mendidih Rania mempersiapkan teh yang akan diseduh, sekaligus menuangkan gula dalam tiga gelas. Dengan sendok kecil ia menyingkirkan semut hitam dalam toples gula.
Serasa seabad menunggu air mendidih, ia takut kalau ayahnya menyinggung pernikahannya dengan Wira di depan Dandy. Bukan apa-apa, ia cuma belum siap ada orang lain yang mengetahui hal itu. Ia pasti akan memberitahu mereka, tapi tidak sekarang.
Begitu air mendidih Rania buru-buru menuangkannya kedalam gelas kaca yang sudah berisi daun teh dan gula. Ayahnya hanya mau minum teh asli seperti yang biasa dipetik sendiri. Bukan teh celup kemasan yang tinggal tuang air panas langsung jadi. Untung persediaan yang dibawanya dari rumah beberapa bulan yang lalu masih ada.
Dengan nampan Rania membawa teh ke ruang tamu. Duduk di samping ayahnya sambil memangku nampan setelah meletakkan ketiga gelas berisi teh panas di meja.
__ADS_1
"Minum dulu pak, kak." Jelas sekali suaranya terdengar gugup.
"Ayo nak Dandy diminum tehnya." Rania melirik ayahnya yang meraih gelas teh dengan tangan kanannya.
"Iya paman. Mari." Dandy ikutan meraih gelasnya, meniup-niupnya sebentar lalu menyesapnya sedikit. Memang masih panas.
Di luar mulai gelap. Entah karena mendung atau menjelang malam. Tak ada jam di ruang tamu. Rania ingin sekali bertanya maksud kedatangan ayahnya, tapi pertanyaan yang sudah ada di ujung lidah ditelannya kembali, tidak enak karena ada Dandy. Tidak mungkin hanya sekadar ingin menjenguknya, ayahnya pasti punya maksud lain. Akan ditanyakannya nanti saja.
Dandy berpamitan tepat ketika adzan Maghrib berkumandang dari masjid besar di seberang jalan raya.
...****...
Sejak kedatangan beliau kemarin belum pernah sekalipun beliau bertanya tentang Dandy. Yang membuat Rania semakin salah tingkah, beliau juga tidak menyinggung soal Wira yang mengantarnya sampai ke sini. Orang seperti ayahnya itu susah ditebak. Tak tampak perbedaan ketika menyukai sesuatu atau sebaliknya.
Yang Rania tahu selama ini ayahnya lebih banyak diam karena tidak mau ribut dengan ibu tirinya. Apalagi sudah beberapa tahun terakhir ini ia jarang pulang, paling lama di rumah hanya satu minggu, saat libur lebaran. Waktu libur yang lain ia habiskan di rumah kost dengan alasan berjualan, takut pelanggannya pindah. Padahal di sisi lain sebenarnya ia tak ingin melihat keributan kedua orang tuanya. Nenek yang berkali-kali menasehatinya untuk sering-sering pulang cuma diangguki saja. Tapi tetap saja, hari libur yang lain tetap dihabiskan di rumah kost.
Benar, sejak awal didalam hati ia benci pada ibu tirinya. Melihat bagaimana pertengkaran demi pertengkaran terjadi setiap hari membuatnya jadi uring-uringan. Nenek pernah bilang bahwa ibunya sudah berubah, tapi hati kecilnya selalu menolak untuk percaya. Memang beberapa kali ibu datang menjenguk ke tempat kost dengan alasan mampir, membawa banyak oleh-oleh. Dari beras, sayuran, kering tempe, sambal kacang, rempeyek, bahkan teri goreng. Halah, paling itu juga suruhan nenek.
"Kata nak Dandy kemarin pintunya dirusak orang?." Ia ingat semalam ayahnya menanyakan tentang pintu rumahnya yang dicongkel orang, dengan raut wajah biasa saja.
"Iya pak, mungkin orang iseng."
"Masa orang iseng? Itu kejahatan. Harus lapor polisi."
"Tapi tak ada benda yang hilang pak."
"Ya itu anehnya. Makanya kamu harus hati-hati." Suara lelaki tua itu biasa saja, sambil lalu, tapi dalam hati Rania bersorak gembira. Ayahnya masih perhatian padanya. Hanya saja beliau menyampaikan dengan cara yang berbeda.
__ADS_1
Nasi sudah matang dari tadi, sayur lodeh yang dimasaknya juga sudah mendidih, tinggal menggoreng telur dan ikan asin. Ayahnya juga sudah bangun dan berjalan-jalan di gang depan rumah. Hari ini ia akan mengajak ayahnya jalan-jalan.
"Sudah matang nduk?." Tiba-tiba ayah sudah bediri di depan pintu dapur.
"Eh, sudah pak. Mari sarapan dulu."
Rania begegas membuat kopi, lalu menyendokkan nasi ke piring ayahnya.
"Sini, sayur dan lauknya bapak ambil sendiri nduk."
Diulurkannya piring yang sudah berisi nasi, lalu mengambil piring untuk dirinya sendiri. Rasanya berbeda, ada rasa haru menyeruak begitu saja, membuat matanya berkabut. Entah kapan terakhir kali mereka makan bersama seperti ini. Semenjak kedatangan ibu tirinya ayahnya seperti menjauh, atau Rania yang membangun dinding pembatas yang begitu tinggi di antara mereka. Setiap pulang ia akan makan bersama nenek ketika ayahnya sudah berangkat ke kebun. Kalau makan bersama orang tuanya ia merasa tidak nyaman.
Dulu sekali, waktu masih SMP, ia pernah melakukan kesalahan yang sama sekali tak ingin diingatnya seumur hidup. Ia memakan lauk yang dibeli ibu tirinya dari pasar. Ia tak tahu kalau itu bukan untuk dirinya, tapi untuk ayahnya. Sepanjang sore ia mendapat nasehat dari sang ibu karena kesalahan itu. Ia merasa menjadi seorang pencuri karena sepotong daging yang ia makan tanpa izin. Tidak ada yang tahu selain mereka berdua. Tak ada orang lain di rumah.Ayah dan neneknya pergi ke kondangan keluarga ibunya waktu itu. Ibunya memang tidak memukulnya, tapi kata-katanya benar-benar tertoreh dalam ingatannya sampai sekarang. Menyakiti hatinya, larut dalam aliran darahnya dan berdenyut sakit ketika mengingatnya.
"Kalau bukan hakmu, bukan milikmu, jangankan memakannya, kau bahkan tak boleh menyentuhnya."
"Maaf bu, Rania tidak tahu."
"Kalau tidak tahu, harusnya kau tanya dulu. Tidak asal makan saja. Nanti kalau ayahmu pulang mau makan apa?."
Ingin rasanya ia muntahkan semua yang dimakannya sore itu. Kalau saja ia tidak buru-buru makan karena kelaparan dari siang mengikuti kegiatan pramuka di sekolah dan tidak sempat makan siang. Kalau saja ia bertanya dulu...
"Ayo makan, jangan melamun." Rania tergagap mendengar suara ayahnya dan segara mengambil kembali nasi yang tak sengaja jatuh di meja. Ia tersenyum, padahal air matanya menetes di atas piringnya.
Seperti biasa, ayahnya tidak bertanya kenapa ia menangis. Apakah beliau tidak melihat air mata yang bergulir itu?. Atau hanya pura-pura tidak melihat supaya anak gadisnya tak kebingungan menjawab?. Hanya beliau yang tahu.
"Akan ada yang ingin bapak bicarakan denganmu nduk."
__ADS_1
Deg. Rania menghentikan sendok yang hampir masuk ke mulutnya. Memandang ayahnya dengan raut bertanya-tanya.
"tapi nanti saja, kita makan dulu."