
Rania menggosok seluruh badannya menggunakan spon mandi dan sabun banyak-banyak. Mencoba menghilangkan jejak Reza di tubuh dan pikirannya. Bekas tangan kurang ajar Reza serasa menggelitik di permukaan kulitnya. Rania jijik teringat perlakuan pemuda itu, berusaha menghilangkannya dari pikiran tapi gagal setiap kali mencoba. Sebesar apa ia mencoba melupakannya, ingatan itu justru semakin mengganggu pikirannya.
Belum lagi Rania selesai mandi, seseorang terdengar mengucap salam di luar. Sepertinya bu Sari yang datang. Dalam hati Rania bersorak senang. Ada bu Sari yang akan bisa membantu, akan lebih mudah memakai baju.
Terdengar orang bercakap-cakap di ruang tamu. Suara Wira dan bu Sari, tapi tidak jelas apa yang mereka bicarakan. Cepat-cepat Rania menyelesaikan mandinya. Takut bu Sari keburu pulang. Meskipun sama sekali tidak bisa lupa, badannya terasa segar dan bersih setelah seharian berusaha menghilangkan pikiran bahwa badannya kotor karena ulah Reza.
"Bu Sari." Teriaknya dari dalam kamar mandi.
Mendengar namanya dipanggil Bu Sari langsung bergegas menyusulnya ke kamar mandi.
"Sudah selesai mbak?."
Rania membuka pintu, memberi jalan Bu Sari untuk masuk.
"Bantu saya memakai baju ya bu."
"Memang ibu ke sini mau membantu mbak Rania."
"Kok tahu saya kesulitan pakai baju?."
"Tadi mas Wira menelpon, katanya mbak Rania kesulitan menggerakkan tangan. Ini bajunya juga sudah saya bawakan"
"???." Rania baru ingat, ia lupa membawa baju ganti. Bahkan ia tidak berani masuk ke kamarnya sendiri untuk mengambil baju karena teringat darah Reza yang menggenang pagi tadi.
__ADS_1
Jadi Wira yang memanggil bu Sari? Cerdas juga otaknya. Kok dia tahu aku tidak membawa baju?.
Ya tahulah, tadi dia membantuku sebelum masuk kamar mandi.
Rania tersenyum simpul, menyadari kenyataan bahwa sebenarnya Wira juga menghormatinya. Buktinya dia tidak sembarangan memperlakukan Rania meskipun mereka sudah terikat hubungan suami istri.
Kedatangan bu Sari benar-benar membantu. Tak hanya membantu memakai baju, bahkan bu Sari juga membersihkan rumah, membuatkan minuman untuk mereka bertiga, juga merapikan pakaian Rania yang dijemur tadi pagi. Wira melarangnya untuk masak karena hari sudah malam.
"Kita pesan makanan online saja ya. Kasihan bu Sari kalau harus masak malam malam begini."
Rania hanya mengangguk. Apa daya, ia juga tak bisa melakukan apapun karena belum terbiasa dengan tangan kirinya yang cidera.
Diah datang bersama kakak dan orang tuanya tak lama kemudian, tepat saat bapak kembali dari masjid. Rupanya bapak langsung pulang begitu shalat berjamaah usai. Keluarga Diah memang baik, seperti bu Sari, mereka sudah menganggap Rania seperti anak sendiri. Mereka membawa beberapa rantang susun yang berisi makan malam, hingga Wira membatalkan niatnya memesan makanan di aplikasi online.
Setelah mereka pulang ke rumah masing-masing, Tiba-tiba Rania teringat kamarnya yang belum dibersihkan. Ditatapnya pintu yang tertutup, tadi ia tidak melihat bu Sari masuk ke sana. Terbayang lagi darah Reza yang menggenang di lantai. Bau anyir darah melintas di otaknya, seolah-olah memenuhi rongga hidung, membuatnya mual dan ingin muntah.
Wira melihat gerak gerik Rania yang menatap pintu kamarnya dengan linglung.
"Sudah aku bersihkan sewaktu kamu mandi tadi Ran." Katanya seolah bisa membaca isi kepala Rania. "Kalau kamu mau tidur, seprainya juga sudah aku ganti."
Baru sekarang seolah mata Rania terbuka lebar. Wira tak hanya baik, dia juga tulus.
"Aku masih takut masuk ke sana mas. Aku tak mau mengingat kejadian tadi." Suara Rania kembali seperti dicekik karena menahan tangis yang sudah sampai di tenggorokan.
__ADS_1
"Tak apa-apa. Kita bisa tidur bertiga di ruang tamu."
Karena tak berani tidur sendirian, Rania menuruti ajakan Wira untuk tidur bertiga di ruang tamu. Awalnya bapak menolak, tapi Wira berhasil membujuk bapak. Ada satu kamar kosong, tapi tidak mungkin juga bapak memaksa Rania tidur bersama Wira. Meskipun sudah terikat pernikahan, hubungan mereka berdua tidak sedekat itu.
...***...
Sudah beberapa hari Bapak dan Wira menginap, menunggu kelanjutan kasus Reza. Mereka tidak tega meninggalkan Rania sendiri menghadapi masalahnya. Beberapa hari menunggu pemuda itu benar benar sadar seperti menunggu kapan gunung merapi akan meletus. Tak tahu kapan hal itu terjadi. Kondisinya tidak kunjung stabil karena luka di kepalanya cukup parah. Dan kalaupun sudah sadar, tak ada yang bisa menjamin ia bisa mengingat semua kejadian dalam waktu singkat.
Selama itu Rania wajib lapor setiap hari ke kantor polsek.
Karena beberapa pekerjaan yang tidak bisa ditunda lagi, Wira memutuskan untuk pulang beberapa hari ke depan. Bapak juga. Ibu tidak tahu menahu urusan sawah, jadi terpaksa beliau juga akan ikut pulang bersama Wira.
Keadaan sudah hampir kembali seperti sebelumnya. Setiap hari Diah datang berkunjung walau hanya sebentar. Hanya sekali waktu saja tiba-tiba kejadian itu melintas lagi dalam pikiran Rania. Membuatnya seperti kembali merasakan ketakutan yang sama.
Sebenarnya orang tua Diah menyarankan Rania untuk tinggal sementara bersama mereka. Tapi Rania menolak karena alasan tidak mau merepotkan. Apalagi Diah memiliki dua orang saudara laki-laki yang belum menikah. Bukan tanpa alasan, selama ini Diah begitu getol menjodoh jodohkan dirinya dengan Dandy, kakaknya. Rania takut tidak bisa mengendalikan perasaannya sendiri, sedangkan jelas dia sudah menjadi istri orang meskipun sampai saat inipun hubungan mereka jauh dari itu. Untung saja Bu Sari tidak keberatan menemaninya waktu malam hari.
Lima hari sepeninggal bapak dan Wira pulang ke kampung, kondisi Reza semakin membaik. Polisi sidah bisa menginterogasinya meskipun masih berada di ruang rawat rumah sakit.
Rupanya kasus Reza tak serumit yang mereka bayangkan. Tak perlu menyewa pengacara, Rania sama sekali tidak ditetapkan sebagai tersangka. Begitu kondisinya sudah benar-benar stabil, pemuda itu langsung mengakui semua perbuatannya, melepaskan Rania dari segala jerat hukum meskipun menyebabkannya cidera cukup parah. Keluarganya yang awalnya berniat menyewa pengacara akhirnya membatalkannya atas permintaan Reza sendiri.
Tapi dengan kejadian waktu itu Rania menjadi was was. Bu Sari memang bersedia menemaninya, tapi sampai kapan?. Ia merasa tidak enak kalau terus-terusan meminta bu Sari menginap sedangkan suami bu Sari sedang kurang sehat.
Jika saja memungkinkan ia akan memilih untuk pulang kampung sementara waktu, tapi skripsinya tidak bisa menunggu.
__ADS_1
Pertama kali dalam beberapa tahun terakhir, tiba tiba Rania merasa sendiri dan merindukan Bapak.