
Matahari sudah menyengat, padahal masih jam enam pagi. Karena tadi bangun lebih awal Rania sudah menyelesaikan semua pekerjaannya. Sarapan sudah matang, sudah menyapu dan mengepel lantai, menyapu halaman, bahkan juga sudah menjemur pakaian yang dicucinya semalam.
Semalaman memikirkan kata-kata ayahnya sebelum pulang membuat tidurnya gelisah, bahkan hampir tidak tidur sama sekali dan memutuskan bangun ketika suara adzan subuh berkumandang. Sesuatu tentang keputusannya untuk melanjutkan pernikahannya atau tidak. Tentu saja tanpa sepengetahuan Wira.
Ayahnya sudah pulang semalam setelah shalat isyak bersama Wira. Entah kebetulan atau sengaja lelaki itu bilang mengambil barang sekaligus menjemput atau memberi tumpangan untuk ayahnya pulang.
Kemarin adalah pertama kalinya ia berbicara dengan Wira lebih dari lima menit. Tidak, bahkan lebih dari satu jam karena ayahnya memaksa Wira untuk ikut makan malam bersama. Dari cara ayahnya bicara, sepertinya mereka lumayan akrab.
Tidak buruk. Rupanya lelaki itu juga suka bercanda. Ngobrol banyak hal tentang pekerjaannya. Rania sama sekali tidak menyangka kalau Wira juga sudah dua tahun tinggal di kota ini.
Tapi Rania tetap berusaha membatasi diri. Jangan sampai terhanyut dan menceritakan kehidupannya selama tinggal di sana. Ia hanya menceritakan tentang kesehariannya kuliah dan berjualan online dan ketidaktahuannya tentang mas Derry dan istrinya yang tiba-tiba pindah rumah kost. Selebihnya hanya candaan Wira dan ayahnya yang ia dengarkan sambil bermain game di ponselnya. Beberapa kali ayahnya menyikut lengannya ketika Wira bertanya dan ia tidak menjawab,memaksa Wira mengulangi pertanyaannya lagi.
Rania meraih handuk yang ada di jemuran, lalu bergegas masuk ke kamar mandi. Air dingin dari shower langsung menyiram kepalanya begitu ia memutar keran. Aktifitas pagi membuat keringatnya menetes di rambut, akan lengket kalau tidak segera dicuci. Aroma apel dari shampoo menguar ketika ia menuangkannya langsung ke rambut, bukan ke telapak tangannya karena isinya sudah hampir habis. Karena cairan shampoo tidak juga keluar gadis itu menuang sedikit air ke dalam botol dan mengocoknya agar shampoonya menjadi lebih encer. Benar saja. Cairan itu langsung mengalir dengan mudahnya.
Kuliah masuk siang, jadi ia bisa berlama-lama memanjakan dirinya di bawah guyuran air. Dan setelah itu ia akan tidur sebentar, membayar tidurnya yang gagal semalam.
Setelah mengeringkan rambutnya dengan hairdryer dan menyisirnya hingga rapi Rania langsung menjatuhkan badannya di tempat tidur, berharap bisa tidur sebentar. Akan sangat malukan kalau sampai dirinya tertidur di kelas?.
Dengan tangan kiri ia meraih ponsel yang tergeletak di atas meja di samping tempat tidurnya. Seperti biasa ia bermain ponsel supaya rasa kantuk segera datang. Ditekannya fitur belanja online di ponsel itu, tetapi tidak benar-benar berniat untuk belanja. Beberapa kali ibu jarinya menggeser layar, melihat barang-barang aksesoris yang muncul di sana. Sekilas ia berpikir apakah tidak sebaiknya ia bergabung dengan salah satu platform belanja online itu agar barang dagangannya lebih dikenal orang? Nanti saja ia akan mencari tahu bagaimana caranya.
__ADS_1
Matanya hampir terpejam ketika tiba-tiba ada yang membuka pintu kamarnya. Sesosok laki-laki kurus tinggi, berjaket tebal warna hitam dan kepalanya tertutup topi ciet rajut berwarna coklat, hanya menampakkan kedua matanya saja.
Seketika rasa kantuk gadis itu lenyap entah kemana. Rania melompat berdiri di atas ranjang dengan waspada. Orang dengan penampilan seperti itu tidak mungkin bermaksud baik kan? Dia tidak boleh terlihat lemah, apalagi ketakutan.
"Siapa kamu.?" Rania mendengus, suaranya sama sekali tidak terdengar garang.
"Tidak penting cantik." Tidak tampak orang itu menyeringai atau tidak, tetapi matanya tampak mengintimidasi berusaha membuat gadis didepannya kehilangan nyali. "Sudah lama kutunggu moment seperti ini." Dari matanya tampak orang itu tersenyum licik. Ia berbalik, mengunci pintu dan mencabut kuncinya untuk dimasukkan kedalam saku. Otak Rania langsung memberi alarm bahaya, tetapi ia ragu harus melakukan apa. Waktu kelas satu SMA ia memang pernah belajar bela diri, tapi sudah lama sekali dan tidak pernah berlatih sama sekali.
"Kau mau apa?." Bentaknya dengan suara yang dibuat selantang mungkin. Berharap pak Purnomo tetangga sebelah belum berangkat ke pabrik.
Lelaki itu terkekeh.
"Tidak akan ada yang mendengar, cantik. Kau lupa jam segini semua orang sudah berangkat bekerja?. Tak ada satu orangpun yang masih tinggal di rumah." Lelaki itu terkekeh lagi.
Rania seperti pernah mendengar suara itu, tapi milik siapa?. Topi ciet yang menutup rapat mulut orang itu ternyata juga menyamarkan suaranya. Sial.
"Keluar dari sini!."Bentaknya lagi.
Orang itu melangkah maju, semakin dekat dengan bibir ranjang tempat Rania berdiri.
__ADS_1
"Ayolah, jangan jual mahal." Kembali suara tawanya terdengar mengejek dan penuh nafsu. Jantung Rania semakin bertalu ketika orang itu semakin mendekat. Ia mundur sampai punggugnya membentur tembok. Tapi ia harus tampak berani. Jangan beri kesempatan orang itu untuk membuatnya gentar.
Beberapa detik kemudian lelaki itu sudah berdiri tepat di bibir ranjang, bahkan lututnya tampak menempel di kayu pinggiran tempat tidur. Secepat kilat Rania maju dan menendang kepala orang itu. Sayang sekali tendangannya tidak cukup kuat untuk merobohkannya. Bahkan lelaki itu berhasil menyambar kaki kirinya hingga badannya terpelanting di atas kasur sebelum akhirnya terpental ke lantai. Hampir saja kepalanya menabrak kaki tempat tidur, hidungnya hanya beberapa mili saja dari kayu sebesar lengan itu.
Orang itu mengumpat berkali-kali karena kepalanya berdenyut meskipun hanya ditendang dengan kaki telanjang.
Belum sampai Rania bangkit orang itu sudah menindih pinggangnya, kedua kaki menguncinya supaya gadis itu tidak bisa melawan. Rania meronta sekuat tenaga ketika tangan bajingan itu menggerayangi bo*kongnya. Tapi tenaganya kalah jauh. Orang itu dengan leluasa mengoyak bagian belakang celana pendeknya yang hanya terbuat dari bahan kaos.
Tidak, dia tidak boleh berakhir seperti ini. Tak ada orang lain, maka ia harus menyelamatkan dirinya sendiri. Gadis itu terus meronta, tapi semakin ia berusaha lepas, bajingan itu juga semakin beringas.
Ia membalikkan tubuh Rania dengan sekali tarik. Tetapi begitu tubuh gadis tu telentang ia kembali menduduki perutnya. Kedua bahunya ditekan kuat kelantai.
Rania meringis menahan tulang punggungnya yang beradu dengan lantai terasa seperti mau patah. Sekarang ia memilih diam karena suara jeritannya tidak membantu sama sekali karena tak seorangpun mendengar. Kakinya yang ramping menendang-nendang punggung lelaki itu, sama sekali tidak membuatnya bergeser dari perutnya yang mulai sakit. Meskipun kurus, bobot tubuhnya seperti babi, berat sekali. Perut bagian bawahnya seperti mau pecah.
Aku tidak boleh menyerah.
Rania meronta, mencakar apa saja yang bisa diraih tangannya. Tapi ia sungguh menyesal karena kemarin memotong kuku dan mengikirnya sampai rata.
Ya Tuhan, tolong aku. Setidaknya aku pasti pernah melakukan kebaikan meskipun hanya satu kali saja.
__ADS_1