Sisi Gelap Mentari

Sisi Gelap Mentari
Bukan Cinderella


__ADS_3

Adzan Isya' baru saja berkumandang ketika Diah mengetuk pintu. Suara mobilnya tidak terdengar karena rumah kos itu berada di gang sempit. Mobil sama sekali tidak bisa masuk. Jangankan mobil, motor saja tidak bisa berpapasan, harus mengalah salah satu supaya jalannya cukup.


Diah masuk tanpa menunggu salamnya dijawab. Langsung menuju dapur karena sudah biasa bermain kesini. Diah dan Rania sudah mengenal satu sama lain dua tahun yang lalu. Waktu itu di kampus sedang terjadi demo, keduanya terjebak di dalam kamar mandi ketika terjadi keributan, tidak berani keluar hingga malam menunggu mahasiswa yang sedang demo bubar. Sejak itulah mereka bersahabat. Diah mempunyai banyak kenalan karena dia asli orang sini. Sebagian besar langganan siomay Rania adalah kenalan Diah.


"Sudah siap?." Diah berhenti di depan pintu dapur sambil berkacak pinggang.


"Sudah. Mau dibawa sekarang?."


"Kamu ikut ya Ran, biar nanti bisa bantu-bantu aku."


"Iya. Tapi aku bawa motor saja, daripada kamu nganterin aku pulang."


"Ok. Bu Sari mau ikut?." Diah menoleh ke arah bu Sari yang masih mencuci peralatan.


"Nggak usah mbak, biar saya beresin dapur saja. Biar nanti waktu mbak Rania pulang nggak usah bersih-bersih."

__ADS_1


Sedikit tergesa mereka berdua berangkat setelah semua plastik besar dimasukkan ke bagasi mobil. Meninggalkan bu Sari dengan setumpuk panci dan ember yang harus dicuci.


Perjalanan dari rumah kos Rania ke rumah Diah memang agak jauh karena jalannya satu arah, jadi harus memutar karena Diah bawa mobil. Kalau naik motor bisa lewat jalan tikus. Rania mengendarai motornya di belakang mobil Diah yang melaju pelan di jalanan yang mulai ramai. Pedagang kaki lima sudah berjajar rapi di sepanjang jalan, bersiap mengais rejeki sejak hari masih terang tadi.


Setelah melewati beberapa lampu merah mobil Diah berhenti di depan rumah dengan pagar tinggi yang terbuka lebar, lalu memasuki halaman rumah yang luas diikuti Rania di belakangnya. Banyak motor dan mobil terparkir rapi di sana. Rupanya undangan sudah berdatangan. Keduanya berjalan masuk lewat pintu samping yang terhubung langsung.dengan dapur.


"Hai Ran, sudah datang?." Dandy, kakak sulung Diah mengejutkannya dari balik lemari kaca.


"Iya kak, tadi nunggu Diah mengambil pesanan kue."


"Dia sudah dicari dicari ibu dari tadi."


Rania sudah sering kesini, sudah kenal dengan semua keluarga Diah. Diah anak bungsu, dia punya dua kakak laki-laki yang keduanya belum menikah. Masing-masing cuma terpaut umur tiga tahun. Keakraban mereka bertiga tidak menunjukkan kalau usia mereka berbeda. Ketiganya suka bercanda, kadang kelewatan seperti anak kecil. Sering kali muncul rasa iri di lubuk hati Rania. Dia anak tunggal yang dibesarkan oleh nenek dan ayahnya. Ibunya meninggal ketika ia baru berusia satu tahun. Ayahnya menikah lagi ketika Rania masuk SD. Beruntung dia mendapatkan ibu tiri yang baik, tapi kedua anaknya yang beberapa tahun lebih tua sama sekali tidak menyukainya. Mereka menganggap kasih sayang ibunya lebih besar tercurah untuk Rania sehingga kadang tidak begitu memperhatikan mereka. Sering mereka mencari-cari kesalahan Rania. Hanya ibu tiri yang selalu membelanya ketika ia berdebat dengan kedua kakak tirinya itu. Karena sering disalahkan dan dipojokkan, Rania tumbuh menjadi anak yang tidak banyak bicara.


Sayang, ibu tiri yang baik itu akhirnya memilih bercerai dengan ayahnya karena tidak mampu menahan malu karena sikap kedua anaknya terhadap Rania. Rania menangis sejadi-jadinya ketika mereka berkemas lalu pergi meninggalkan rumah orang tuanya. Waktu itu Rania menginjak kelas empat SD.

__ADS_1


Karena dorongan sang nenek ayahnya menikah lagi ketika Rania masuk SMP. Dan saat itulah petaka dimulai. Istri ayahnya yang baru adalah seorang pedagang pakaian yang berjualan di pasar di pagi hari dan berjualan keliling di sore hari. Karena sibuknya bekerja jarang sekali ibu tirinya itu tampak di rumah saat siang hari. Sepulangnya berjualan keliling dari rumah ke rumah pasti dia sudah kelelahan dan tak ada waktu lagi untuk sekedar bercanda atau berbagi cerita. Tidak hanya dengan Rania, dengan ayahnya juga begitu.


Waktu dia pulang belum ada masakan buat makan malam, pasti rumah akan jadi neraka. Ayahnya yang dulunya pendiam jadi tukang marah-marah karena jengkel dengan kelakuan istrinya. kalau sudah begitu Rania pasti akan merindukan ibunya yang bahkan tak bisa ia ingat wajahnya. Atau ibu tirinya dulu yang sangat menyayanginya, menganggapnya seperti anaknya sendiri.


"Kok malah ngelamun Ran," Suara Dandy menyadarkan Rania Dari lamunannya tentang masa lalunya.


"Nggak mas, cuma lagi ingat ayah di kampung."


"Sudah berapa bulan kamu tidak pulang?." Dandy menggeser duduknya yang tadi menghadap meja.


"Empat, atau lima bulan ya. Aku lupa lupa ingat." Gadis itu tersenyum, tapi ada gurat kesedihan di matanya. Dia memang begitu menahan diri untuk tidak pulang. Bukan tidak merindukan sang ayah, tapi setiap kali kepulangannya pasti memicu pertengkaran ayah dan ibu tirinya. Rania sudah lelah, memilih bertahan jauh dari rumah. Kalau kangen dia hanya akan menelepon. Untuk apa jauh-jauh datang kalau sampai di rumah malah membuat sang ayah kumat penyakit darah tingginya. Belum lagi keluhan ibu tirinya yang tidak ada habisnya tentang penyakit ayahnya, dagangan yang sepi pembeli, rumah besar yang harus dibersihkan setiap hari, atau biaya mengurus sawah yang tidak sesuai dengan hasil panennya. Dasar kurang bersyukur. Apapun akan menjadi bahan untuk membuatnya mengeluh. Padahal kalau dipikir-pikir, dia bisa saja tidak perlu berjualan karena suaminya bukan pengangguran yang harus diberi makan. Hasil panen padi, jagung dan palawija di kebun mereka cukup untuk sekedar makan dan memuaskan keinginannya untuk belanja baju setiap bulan, sekaligus membayar biaya kuliah Rania. Tapi tentu saja dia akan kekurangan bahan untuk mengomel. Meskipun bukan Cinderella, kenyataannya, Rania harus banting tulang sendiri untuk membayar kuliah dan mencukupi kebutuhannya sehari-hari.


"Malah melamun lagi." Rania terkejut ketika wajahnya terkena percikan air dari tangan Dandy yang baru saja mencuci gelas bekas minumnya.


"Sebaiknya kamu makan dulu Ran, pasti tadi kamu belum sempat makan. "

__ADS_1


"Nanti saja mas. Tadi sudah makan siomay waktu mencicipi rasanya sudah pas atau belum."


Malam yang semakin larut, acara syukuran sudah selesai. Rania pulang memacu motornya di jalanan yang mulai sepi. Ia menolak dengan alasan naik motor sendiri ketika Dandy menawarkan diri mengantarnya pulang. Aku bukan Cinderella, tidak meninggalkan apapun di pesta. Tidak ada yang akan membuatku sedih atau putus asa.. Gadis itu tersenyum sekilas melihat beberapa pedagang yang mulai berkemas hendak pulang.


__ADS_2