Sisi Gelap Mentari

Sisi Gelap Mentari
Pernikahan


__ADS_3

Sikap Rania yang seperlunya saja terhadap ayahnya sebenarnya tidak murni karena ibu tirinya. Ada kejadian yang sebenarnya sangat tidak mengenakkan terjadi ketika awal kuliah. Usianya bahkan baru menginjak sembilan belas tahun. ketika Rania pulang kampung untuk menjenguk sang ayah. Tanpa persetujuan atau sekedar pemberitahuan padanya terlebih dahulu, ia dinikahkan dengan seorang anak teman ayahnya waktu SMP. Tepatnya anak mantan pacar ayahnya.


Sejak awal perasaan gadis itu sudah tidak enak. Tiba-tiba ayahnya menelepon untuk pertama kalinya selama mereka tinggal berjauhan, biasanya ibu tirinya yang menelepon atau sekadar mengirim pesan, menyuruhnya pulang karena ada sesuatu yang penting hendak dibicarakan. Sebenarnya ia menolak untuk pulang saat itu juga karena ada beberapa tugas kuliah yang harus dikumpulkan minggu depan, dan sama sekali belum dikerjakan. Tetapi sang ayah mendesak dengan alasan hal ini tidak bisa ditunda lagi. Dengan terpaksa Rania pulang siang itu juga, dengan hanya meninggalkan pesan pada mas Dery, teman sekostnya, kalau ada orang mengambil pesanan snack, semua sudah disiapkan.


Sampai di rumah menjelang maghrib, Ia bertanya-tanya dalam hati karena ada beberapa motor diparkir di halaman rumahnya. Tapi sepi, tidak satu orang pun tampak di ruang tamu.


Jangan-jangan nenek, ayah atau ibu sakit. Batinnya sambil melangkah melintasi halaman.


"Assalamualaikum" Rania mengucap salam sambil melepas sepatunya, kemudian masuk tanpa menunggu salamnya di jawab. Kenyataannya tak seorangpun mendengar atau menjawab salamnya barusan. Penasaran ia melihat kamar orang tuanya, tetapi kosong, tampak pintunya yang terbuka lebar. Masih penasaran ia melangkah menuju dapur yang tempatnya di belakang rumah, di bangunan yang terpisah. Pantas saja tidak ada yang menjawab salamnya, semua orang ada di dapur. Ayah, ibu, nenek dan beberapa orang tetangga.


"Assalamualaikum." Kembali ia mengucap salam sambil memamerkan senyumya pada semua orang yang ada di situ.


"Wah, gadis ibu sudah sampai rupanya." Ibunya langsung berhambur memeluknya begitu melihat Rania di depan pintu.


Basa basi, teruskan saja, tunjukkan sikap manismu itu di depan semua orang. Aku sudah kebal dan tidak mempan di rayu. Rania mendengus.


"Sudah pulang nduk?." Gantian neneknya yang memeluk rindu, dibalas sepenuh hati oleh cucunya itu. Ayah dan semua orang menyalaminya bergantian.

__ADS_1


"Kok masak banyak bu, ada acara apa?."


"Nanti ayahmu yang akan menjelaskan." Jawab ibunya sambil berlalu membawa nampan kotor ke tempat cuci piring. Jawaban ibu itu justru membuat Rania penasaran, perasaannya tidak enak.


Adzan maghrib dari mushola dekat rumah berkumandang, tanpa bertanya lagi Rania meminta izin pada semua orang untuk mandi. Air dingin menyiram tubuhnya, menghilangkan keringat dan penat selama lebih dari tiga jam perjalanan. Sambil menggosok badannya dengan sabun ia masih menduga-duga kira-kira akan ada acara apa di rumah. Tidak biasanya masak banyak sekali, sampai mengundang tetangga untuk membantu. Pasti ada sesuatu yang besar akan terjadi. Tapi apa? Tak satupun kemungkinan yang muncul di kepalanya. Ah, masa bodoh, ayah menyuruhku pulang. Dan aku sudah di rumah sekarang. Gugur kewajibanku menuruti perintah ayah.


Selesai mandi dan shalat maghrib Rania hendak menuju dapur untuk sekadar membantu. Tapi ia mengurungkan niatnya ketika ayahnya berdiri di depan pintu kamarnya.


"Boleh ayah masuk?." Sejak beliau menikah dengan ibunya yang sekarang, hubungannya dengan ayahnya semakin kaku. Seperti dua orang asing yang tidak saling mengenal, saling membatasi diri. Sebenarnya Rania rindu dipeluk ayah seperti dulu. Tapi setelah sekian lama, semua serba canggung. Apalagi dia sekarang bukan anak kecil lagi.


"Masuklah ayah, aku baru selesai shalat."


"Mungkin ini terlalu buru-buru. Tapi ayah harap kamu tidak menolak atau keberatan." Menghentikan ucapannya sebentar, ayah menghela napas panjang, seolah mengumpulkan udara di paru-parunya, menyusun kekuatan untuk mengucapkan suatu hal yang berat. Kening Rania berkerut, kedua alis tipisnya bertaut.


"Maksud ayah?." Ia mulai tidak sabar.


"Besuk kamu akan menikah nak."

__ADS_1


Rania melongo, beberapa saat tidak terdengar suara apapun dari keduanya.


"Tidak." Spontan Rania menjawab begitu menyadari apa yang diucapkan ayahnya. "Aku bahkan tidak mempunyai seorangpun lelaki yang menarik hatiku, atau paling tidak ada seorang lelaki yang menyukaiku." Kalimat itu keluar dari mulut Rania dalam sekali tarikan napas. " Apalagi kuliahku juga masih lama."


"Tapi semua sudah ditetapkan. Besuk kau akan menikah dengan Wira." Tanpa kata-kata lagi, Ayah bangkit meninggalkan Rania yang membisu, tidak tahu harus mengatakan apa. Tiba-tiba ludahnya terasa menjadi padat, sulit ditelan.


Semalaman Rania menangis tanpa suara. Mengutuk dirinya sendiri karena tidak berani menentang ayahnya. Beberapa kali terlintas pikiran untuk kabur saja. Tapi apa jadinya kalau ia kabur, ayahnya akan menanggung malu, Ibu akan semakin membencinya, dan nenek bisa kena serangan jantung. Tidak, dia tidak akan gegabah dan mengambil tindakan yang begitu beresiko.


Pasrah. Dia bahkan tidak begitu mengenal Wira. Yang ia tahu, Bibi Erna, ibu Wira adalah pacar ayah waktu masih sekolah dulu. Waktu Rania masuk SD dia sudah kelas lima atau enam. Tidak begitu akrab, tapi saling kenal karena mereka bertetangga. Yang Rania tahu Wira itu agak pendiam, tapi lumayan ramah. Itu saja.


...***...


Jam enam pagi seorang wania berusia tiga puluhan datang membawa koper kecil yang ternyata berisi make up. Senyum ramahnya memaksa Rania membalasnya. Ia marah pada ayahnya, tapi orang lain tidak pantas menendapatkna imbasnya juga. Dengan cekatan wanita itu mulai mengoleskan bedak cair yang terasa dingin di wajahnya. Terserah, tidak peduli apa yang mau dilakukan dengan wajahnya, ia menutup matanya yang pasti bengkak. Tak lama kemudian Ibu masuk, memberikan kebaya putih dan rok dari bahan jarik, menyuruhnya memakainya tanpa mengatakan apapun. Ayahnya berdiri di depan pintu kamar dengan raut wajah yang tidak bisa dibaca sambil memegang kopyah.


"Ikuti permintaan ayah, kali ini saja." Ucapnya, kemudian berlalu ke ruang tamu, tempat di mana akad nikah akan dilakukan.


Seperti kerbau dicocok hidungnya, Rania mengikuti ibunya ke ruang tamu ketika penghulu sudah datang. Beberapa orang saudara dan keluarga calon suaminya yang akan menjadi saksi sudah duduk mengelilingi meja bertaplak putih di tengah ruangan.

__ADS_1


Keringat dingin mulai menetes di dahi dan punggung Rania. Rasanya seperti sapi kurban yang digiring ke tempat penyembelihan. Seolah ia melihat ijasah, baju toga, dan mimpi-mimpinya untuk memulai karir beterbangan menjauh. Meninggalkannya mengenakan daster berwarna kuning dengan celemek yang berkibar-kibar ditiup angin.


Rania tak bisa mengucapkan satu katapun dari mulutnya Bahkan otaknya menolak untuk diajak berpikir bagaimana ia bisa lepas dari keadaan ini.


__ADS_2