
Adzan subuh membangunkan Rania dari tidurnya yang gelisah. Sepanjang malam ia tidak tidur dengan nyenyak karena ketakutannya akan orang yang menyelinap masuk rumah sampai terbawa mimpi.
Hari ini skripsinya harus selesai, jangan sampai revisi lagi. Ia sudah mengecek semuanya sejak selesai shalat subuh. Hanya air putih dan sepotong kue dari rumah Diah semalam yang mengganjal perutnya. Sepanjang jalan ke kampus Rania tak berhenti mengucapkan doa supaya jalannya dimudahkan. Bahkan ia sampai bernadzar kalau tidak ada revisi lagi, ia akan memberi sedekah pada tukang becak yang biasanya mangkal di depan kampus atau di pinggir jalan. Ia selalu meyakini bahwa biasanya doa orang yang teraniaya itu selalu dikabulkan. Dan apakah seorang tukang becak itu teraniaya? Belum tentu.
Belum lagi memasuki gerbang kampus motornya dihentikan oleh Diah yang baru saja turun dari mobil diantar Dandy. Gadis berjilbab itu langsung naik ke boncengan motornya dengan gaya tomboynya.
"Kamu tidak apa-apa kan Ran?."
Rania mengangkat bahunya. "Seperti yang kamu lihat."
"Sebaiknya kamu tidur di rumahku sampai ada orang yang menyewa kamar kostmu itu."
"Tapi aku sungkan sama keluargamu Diah."
"Kamu kan sudah akrab sama ibu dan kak Dandy. Ayah juga jarang pulang kok."
"Iya, tapi aku sungkan merepotkan terus. Lagipula, belum tentu orang jahat yang memaksa membuka pintu itu."
Diah mencibir,
"Mana ada orang berniat baik mencongkel pintu rumah orang Ran??."
Sesampainya di parkiran Diah segera turun. Rania Sengaja memarkir motornya di pinggir supaya nanti lebih mudah untuk keluar. Mereka berencana untuk pergi bersama Dandy selepas kuliah.
"Ran, kapan kamu mau pulang kampung?."
"Belum tahu, kenapa?."
"Ikut dong, pengin tahu rasanya punya kampung."
__ADS_1
Diah tergelak, menertawakan ucapannya sendiri.
"Kamu ini, ada-ada saja. Nanti kalau mau pulkam aku kabari ya. Tapi kalau dikampungku sepi, jangankan mall, minimarket saja nggak ada."
"Beneran?. Jadi makin penasaran."
"Namanya juga kampung Diah, kalau ada mall paling pengunjungnya cuma beberapa. Bisa bangkrut mereka." Keduanya tertawa.
Suasana kampus mulai ramai. Mereka berdua berjalan beriringan menuju kelas melewati deretan kamar mandi, bau pesing menyeruak memenuhi hidung. Refleks keduanya menahan napas, menutup mulut rapat-rapat supaya tidak muntah. Kebiasaan, masih saja ada orang yang belum sadar untuk menjaga kebersihan. Dia yang kencing, semua orang yang lewat disuruh mencium baunya. Apa sih susahnya menyiram bekas pipis itu sampai bersih?.
"Huek...huek...." Diah berlari mendahului Rania karena sudah tidak tahan lagi.
"Aku masuk kelas duluan ya." Tanpa menunggu jawaban Diah berlari kecil menuju kelasnya.
Hari yang sempurna, semua berjalan lancar seperti yang diharapkan. Lega, itu yang dirasakan Rania begitu selesai menyodorkan lagi skripsinya. Tak ada revisi lagi. Ia bersenandung kecil menuju tempat parkir di mana Diah sudah menunggunya, duduk bertopang dagu di atas motor.
"Tapi tadi kak Dandy mengirim pesan katanya menunggu kita di kostan." Jawab Rania sambil menepikan motornya, menghampiri tukang becak yyang mangkal di pinggir jalan dekat perempatan.
Rania turun dari motor, meraih uang yang sudah disiapkannya di dalam saku. Tidak banyak, tapi ia yakin cukup untuk membeli makan siang empat atau lima orang.
"Ini uang apa mbak?." Tukang becak yang sudah berumur itu kebingungan ketika ada seorang gadis tiba-tiba menyodorkan uang padanya.
"Ada sedikit rejeki, bisa buat beli makan siang bapak-bapak. Mari pak." Tanpa menunggu jawaban Rania berjalan menuju motornya.
Mereka singgah di toko bangunan untuk membeli slot pintu sebelum meluncur pulang. Tadi lewat pesan singkat kak Dandy bilang akan membantu memperbaiki slot pintu yang rusak semalam. Lumayan, tidak jadi memanggil tukang. Otomatis tak jadi mengeluarkan uang untuk biaya perbaikan juga.
Rania mengurangi laju motor setelah memasuki gang depan rumah kostnya. Tampak mobil kak Dandy sudah diparkir tepat di depan pintu masuk hingga Rania terpaksa memarkir motornya menempel pada pagar.
"Sudah lama kak?." Sapa Diah begitu melihat kakaknya duduk di lantai teras. Memang tak ada satupun kursi di sana. Hanya ada sebuah tikar yang sudah digelar dan beberapa pot bunga. Tak ada tempat untuk meletakkan kursi. karena sebagian besar teras rumah kost itu digunakan untuk tempat parkir motor.
__ADS_1
"Baru sepuluh menitan. Sudah beli slotnya?."
"Nih." Rania yang menjawab sambil mengeluarkan kantung plastik hitam dari dalam tasnya.
Tak lama Dandy memasang slot itu dengan bantuan sebuah obeng kembang. Cekatan juga dia, padahal dia bekerja di bank, bukan tukang servis.
"Sepertinya orang itu agak buru-buru. Jika tidak dia bisa masuk tanpa merusak slotnya." Gumamnya sambil memasang baut.
"Kok bisa?." Diah mengerutkan keningnya penasaran.
"Slot ini sudah usang. Pakai kawat kecil juga bisa lepas."
"Terimakasih kak, sudah membantuku memasangnya. Aku bisa tidur nyenyak lagi nanti malam."
Rania bergegas ke dapur tanpa menunggu jawaban,q berniat membuat teh untuk kedua tamunya. Saat memasuki dapur ia melihat perlengkapan masak siomay semalam sudah rapi berjajar di rak. Tadi pagi bahkan ia tak sempat ke dapur untuk memasak, apalagi sarapan karena buru-buru menyelesaikan revisi skripsinya. Bu Sari benar-benar mencuci semuanya sampai tak tertinggal satupun peralatan yang kotor.
Dengan satu tangan ia mengambil panci dan dengan tangan yang lain memutar kran air, lalu dinyalakannya kompor gas di atas meja setelah panci kecil itu berisi air setengahnya dan meletakkannya di atas kompor.
Dikeluarkannya tiga buah cangkir dari rak kaca, kemudian meracik gula dalam gelas dan menyiapkan teh yang akan di seduh di dalam sebuah teko kaca. Baru selesai menyiapkan gula dan teh, Rania sadar kalau ternyata air yang direbusnya tadi tak kunjung panas.
Yah, gasnya habis. Dengan cekatan ia melepaskan regulator dan menggantinya dengan tabung gas yang baru. Waktu membuat siomay pesanan ibunya Diah kemarin ia sudah menyiapkan tabung cadangan karena pasti tidak cukup karena ia sudah memasangnya hampir seminggu yang lalu.
"Masih lama ya?." Tiba-tiba Diah sudah berdiri di belakangnya, menuang air putih dari dalam teko plastik ke dalam gelas, lalu menghabiskannya sekali teguk.
"Sebentar lagi, gasnya habis batu ku ganti."
"Habis ini kita segera berangkat saja. Takutnya nanti pulang kemaleman Ran."
"Sebenarnya kita mau kemana sih?. Jangan main rahasia kenapa?." Rania mendengus setelah menyelesaikan kalimatnya. Diah hanya tersenyum tanpa memberi jawaban apapun.
__ADS_1