Sisi Gelap Mentari

Sisi Gelap Mentari
Kunjungan bapak


__ADS_3

Sudah hampir jam tiga ketika akhirnya ketiganya meninggalkan rumah kost yang ditempati Rania. Kedua kakak beradik itu tetap tidak mengatakan apapun tentang kepergian mereka. Sepanjang jalan mereka bercanda dan tertawa. Rania tak lagi ambil pusing dengan tujuan mereka.


Dandy menghentikan mobilnya di depan sebuah ruko berlantai dua yang tidak begitu besar. Rolling doornya berwarna kuning dengan dua garis hijau melintang di bagian tengah, tertutup rapat. Keramik lantai teras berwarna kusam karena debu yang tebal. Entah apa warna aslinya putih atau krem.


Sebenarnya Rania tidak asing dengan tempat itu. Letaknya dekat pasar, tempat biasa ia belanja bahan siomay atau camilan kering pesanan pelanggannya.


"Kamu mau buka toko ya?." Tanyanya sambil menoleh kearah Diah.


"Bagaimana menurutmu? Bagus tidak buat jualan?."


"Ya baguslah, ini tempat strategis. Banyak orang lewat, parkirnya lumayan. Memang kamu mau jualan apa?."


Diah tersenyum puas mendengar jawaban temannya.


Dandy mengeluarkan kunci dan membuka rolling door. seketika bau apek menyeruak begitu rolling door terbuka. Sepertinya sudah lama tidak ada orang yang menginjakkan kaki di tempat ini. Di dalam ada beberapa rak dan sebuah meja, semua bertutup plastik. Debunya menempel tebal sekali. Ada puluhan sarang laba-laba yang menggantung di di dinding, tapi tinggal sarangnya saja. Tak ada satupun laba-laba yang tampak. Harus pakai masker kalau mau membersihkan tempat ini.


"Ini ruko milik bibi Sonya, adiknya ibu. Kamu sudah beberapa kali bertemu dengannya. Kalau kamu mau kamu bisa menempatinya untuk usaha." Tiba-tiba Dandy berbalik dan mengatakan itu. Rania bingung, tidak tahu harus berkata apa hingga akhirnya Dandy melanjutkan. "Di atas ada dua kamar, kamu bisa sekalian tidur di sini."


"Tapi..."


"Tidak usah banyak pertimbangan Ran. Waktu itu kamu pernah bilang pengin punya kios dekat pasar kan? Aku jadi ingat tempat ini." Diah buru-buru memotong.


Diah memang benar, sudah lama sekali ia ingin punya ruko dekat pasar. Selain lebih luas jika ia tinggal sendiri ia juga bisa membesarkan usahanya berjualan snack. Pasar adalah tempat yang paling strategis karena banyak orang. Tidak hanya bisa berjualan online, Ia bisa membuka toko di sela waktu kuliah.

__ADS_1


Bahkan kalau memungkinkan ia bisa menjadi agen, melayani pedagang-pedagang kecil karena tempat ini bisa menyimpan lebih banyak barang.


"Iya juga sih, tapi sewanya pasti mahal. Kamu tahu kan kenapa aku memilih tempat kos yang kutempati sekarang?."


"Masalah itu tidak perlu kamu pikirkan. Bibi Sonya cuma mau ada orang yang merawat rukonya."


Bibi Sonya orangnya memang baik, ramah, sudah beberapa kali Rania ngobrol dengan beliau. Tapi ini berlebihan. Masak meminjamkan rukonya begitu saja?


"Mana bisa begitu kak? Kalau disewakan tempat ini pasti mahal sewanya."


Ketiganya terdiam. Rania meraih hp dalam sakunya, melihat sekilas jam digital yang tampak di layar.


"Akan aku pikirkan." Katanya kemudian.


...****...


Beberapa kali terdengar suara klakson dari mobil-mobil yang pengemudinya tidak sabar menunggu orang menyeberang jalan. Bahkan ada yang mengumpati pejalan kaki, seolah jalan milik nenek moyangnya saja.


Sudah hampir maghrib ketika mobil Dandy tiba di gang depan tempat kost Rania. Sebenarnya ruko itu tidak jauh, tapi tadi Diah mengajak jalan-jalan menikmati sore di jembatan. Keasyikan ngobrol menikmati senja sambil makan bakso membuat mereka lupa kalau Diah berjanji mengantar ibunya ke rumah bibi Sonya. Setelah menerima telepon dan mendapat sedikit omelan akhirnya mereka mengantar Diah pulang dulu karena jarak rumah mereka lebih dekat dibanding tempat kost Rania.


Keduanya berjalan kaki memasuki gang sempit itu, Dandy memaksa mengantarkan Rania sampai di depan pintu, padahal tadi ia sudah menolak secara halus. Sampai di depan pagar rumah kost Rania terkejut melihat sosok yang duduk di kursi teras. Seorang lelaki yang sudah berumur duduk sambil membaca koran bekas yang biasa ia letakkan di bawah meja.


Bapak.

__ADS_1


Lelaki tua itu mendongak, menurunkan koran yang dibacanya ketika menyadari ada orang mendekat.


Deg. Tiba-tiba ada perasaan tidak enak menyelinap dalam hati Rania ketika menyadari ia pulang tidak sendirian.


Ayah bisa salah paham. Bagaimanapun, tidak seharusnya ia hanya berdua dengan lelaki lain meskipun mereka tidak mempunyai hubungan yang terlarang. Apalagi ini, ia diantar pulang oleh seorang laki-laki, menjelang maghrib pula.


Selama ini Rania taka pernah melanggar batasannya. Selama kuliah ada beberapa teman lelakinya yang berusaha memdekatinya. Bukannya tidak tahu ia memang sengaja menghindar karena bagaimanapun ia tidak boleh menghianati suaminya. Meskipun hubungannya dengan Wira tidak bisa dibilang baik, setidaknya mereka masih terikat pernikahan. Itu pula yang selalu diucapkan ayah setiap Rania pulang.


Melihat hubungan anak dan menantunya tak kunjung membaik, bibi Erna pernah menawarkan perceraian. Tapi Wira menolaknya. Ia bilang tak apa hubungan mereka seperti itu, kalau memang nanti Rania sudah menemukan orang yang tepat baru ia akan melepasnya. Toh ia masih kuliah.


Ayah belum pernah sekalipun datang ke tempat kost Rania selama hampir empat tahun ia tinggal jauh dari mereka. Baru kali ini. Ibu yang pernah beberapa kali datang ke sini, katanya mampir sekalian belanja pakaian. Dan itu juga selalu tanpa pemberitahuan sebelumnya. Padahal mereka semua punya ponsel. Apa sih susahnya menelepon dulu kalau mau datang?.


Dan sekarang, pertama kalinya ayah datang kemari, saat ia diantar pulang oleh seorang lelaki. Ingin rasanya Rania masuk ke perut bumi agar ayahnya tak melihatnya. Memalukan.


Ia melirik kearah Dandy yang tetap bersikap biasa. Tentu saja, ia sama sekali tak tahu apa yang terjadi. Bahkan ia tak tahu kalau orang yang berjalan sebelahnya adalah istri orang, dan yang ada di teras itu orang tuanya.


"Ada tamu Ran."


"Itu ayahku kak."


Ayah meletakkan korannya lalu berdiri. Menatap dua orang yang turun dari mobil, memastikan kalau salah satunya adalah anak gadisnya.


Matanya menyipit ketika menyadari salah satu dari mereka laki-laki. Tampak terkejut, tapi orang tua itu segera bisa menutupinya dengan ternsenyum.

__ADS_1


"Sudah lama pak?." Sapa Rania sambil mencium tangan ayahnya.


Senyum diwajah ayahnya malah membuat nyalinya menciut. Sejak kecil ia jarang sekali melihat ayahnya itu tersenyum.


__ADS_2