
Kantor polisi adalah tempat yang baru sekali ini diinjaknya. Dari kecil Rania memang selalu ditanamkan untuk jangan pernah berurusan dengan polisi. Bahkan selalu ada rasa enggan untuk mendekati mereka. Di mata Rania semua orang yang berurusan dengan polisi atau kantornya adalah pelanggar hukum.
Mereka berjalan beriringan memasuki pintu ruang tunggu. Diah bersama pak Fandi dan pak Mansur juga sudah sampai, segera menyusul masuk ke dalam ruang tunggu. Rania mengedarkan pandangannya menyapu ruangan. Tidak begitu luas dengan beberapa kursi kayu panjang, tapi cukup untuk duduk beberapa orang. Jendela lebar berjajar tiga menghadap jalan raya dengan beberapa ventilasi di bagian atasnya.
Mereka semua masuk dan duduk di sana, menunggu, tak tahu harus melakukan apa. Pak Fandi dan pak Mansur duduk berdampingan, sedangkan Rania dan Diah di kursi yang lain. Rania menyandarkan badannya di kursi panjang, Diah duduk di sebelah kirinya sambil terus memegangi tangannya.
"Tadi aku menelepon kak Dandy Ran."
"Maaf jadi merepotkanmu dan kak Dandy. Tapi aku benar-benar takut Diah."
"Sudah mengabari orang tuamu?."
"Sudah, mungkin mereka sudah dalam perjalanan ke sini sekarang."
"Syukurlah. Kak Dandy juga akan datang sebentar lagi."
"Kita berdoa semoga nyawa Reza bisa tertolong. Jangan takut, meskipun hal paling buruk terjadi, kau melakukannya tanpa sengaja karena membela diri."
Rania sudah tidak menangis lagi. Ia memandang ke arah pak Fandy dan pak Mansur bergantian.
"Mbak Rania tidak perlu khawatir. Tadi mas Wira menelepon saya. Minta tolong untuk menemani mbak Rania di sini sebelum mereka datang."
Rania mengerutkan keningnya. Bagaimana Wira bisa tahu nomor telepon pak Fandi?.
"Pak Fandi ditelepon mas Wira?". Tanya Rania tanpa sadar. Diah yang tak tahu siapa Wira ikut-ikutan melihat ke arah pak Fandi, dia pasti juga bertanya-tanya.
"Ya mbak. Mereka akan sampai secepatnya."
Mungkin saja polisi tadi memberikan nomor pak Fandi pada Mas Wira.
__ADS_1
"Mbak, boleh saya tahu darimana mbak Rania dapat palu itu?."
"Kemarin saya baru memasang gantungan baju di kamar pak. Kebetulan saya lupa mengembalikannya ke dapur karena hujan dan harus mengangkat jemuran."
"Jadi palu itu sudah dari kemarin di sana?." Rania mengangguk. Kalau saja saat ini Rania tidak terlibat kasus ini, pasti ia tertawa. Pak RT itu persis polisi yang sedang menginterogasi tersangka.
"Nanti polisi pasti menanyakan itu mbak." Kata pak Fandi seolah tahu yang Rania pikirkan.
"Apakah saya harus tidur di sini malam ini pak?."
"Kita tunggu saja, bapak juga tidak tahu mbak."
Seseorang membuka pintu bagian dalam, ternyata polisi yang berkulit hitam tadi. Rania baru tahu namanya Rudi dari tulisan timbul diatas saku kanannya.
"Nona Rania, mari ikut saya."
Rania menatap ketiga orang yang duduk di ruang tunggu bergantian. Pak Fandi Mengangguk. Diah ikut berdiri hendak mengikuti Rania tapi buru-buru dicegah oleh pak Rudi.
Diah duduk kembali, menatap ke arah Rania yang ragu-ragu untuk beranjak.
"Jawab sejujurnya seperti apa yang kamu tahu Ran."
Gadis itu mengangguk lalu melangkah melewati pak Rudi yang menahan pintu supaya tetap terbuka.
Kemudian mereka berdua berjalan beriringan menuju sebuah pintu kayu bercat cokelat tua di samping kanan lorong. Rania bernapas lega. Ia mengira tadi akan langsung dimasukkan ruang tahanan, tapi ternyata tidak. Setelah pintu terbuka ia melihat beberapa meja berjajar di dinding. Setiap meja dipasangkan dengan kursi masing-masing di depan dan belakang. Penataannya mirip deretan meja-meja perawat di halaman puskesmas ketika pelaksanaan vaksinasi covid. Sudah ada seorang polisi di sana. Dari nametagnya Rania tahu namanya Purnomo H. Pria berkulit terang, Perawakannya tinggi besar dengan kumis tebal seperti suami artis dangdut yang pernah dilihatnya diiklan TV. Sepertinya usianya tidak terpaut jauh dari bapaknya. Mungkin jabatannya Kepala Unit. Tampak dari pak Rudi yang memberi hormat ketika mereka masuk.
"Silakan duduk." Rania hampir tertawa begitu mendengar suara lelaki itu,tapi buru-buru menelannya sebelum benar-benar terdengar. Suaranya mirip suara guru keseniannya waktu SMP. Tidak cempreng, tapi sama sekali tidak cocok dengan badan dan seragamnya.
Dengan tangan kanan ia menarik kursi, lalu duduk seperti seorang pesakitan. Ia teringat dulu sekali, pernah dipanggil guru BP karena beberapa kali bolos sekolah karena bandel belum mengerjakan tugas.
__ADS_1
"Tidak perlu tegang begitu." Pak Purnomo tersenyum, Rania juga tersenyum kikuk. "Saya hanya mau bertanya beberapa hal. Jawab saja dengan jujur."
Rania mengangguk.
"Silakan diminum dulu." Pak Purnomo mengulurkan sebuah botol air mineral kecil. Rania menerimanya dan langsung membuka tutupnya setelah berterima kasih. Meneguknya beberapa teguk, berharap ketegangannya berkurang.
Benar saja. Pertanyaan yang harus dijawabnya hanya seputar kejadian tadi. Beberapa sama dengan yang tadi sudah ditanyakan sewaktu masih di rumah. Juga tentang asal muasal palu yang ia gunakan untuk memukul kepala Reza, persis yang sudah ditanyakan pak Fandi. Suara mirip guru keseniannya itu benar-benar membantu mengurai ketegangan. Seolah-olah ia tidak sedang diinterogasi polisi.
Mendadak Rania bersyukur karena lupa. Pertama kalinya kebiasaannya lupa berguna. Kalau saja ia tidak lupa menyimpan kembali palu itu, bisa jadi dia yang saat ini berada di IGD atau bahkan di kamar jenazah. Tidak sedikitkan penjahat yang berusaha menghilangkan jejak dengan membunuh korban?. Apalagi ia mengenal Reza dengan baik.
"Apakah ada kejadian mencurigakan sebelumnya?."
"Iya pak, kunci rumah kost saya dirusak orang beberapa hari yang lalu."
"Sekarang?."
"Sudah dibenahi pak, saya minta tolong teman untuk mengganti slotnya."
"Apakah ada pintu yg tidak dikunci sewaktu orang itu masuk?."
"Mungkin pintu belakang, saya lupa menutupnya setelah menjemur handuk."
Tanya jawab berjalan lancar. Beberapa pertanyaan lain mengalir dan dijawab tanpa berpikir oleh Rania. Dari kesehariannya kuliah, jualan online, dan asal usulnya. Bahkan Rania menuturkan tentang statusnya yang sudah menikah tanpa beban sedikitpun. Sepertinya selain sebagai polisi pak Purnomo ini juga seorang psikolog. Tak ada pertanyaan menyudutkan sama sekali. Rania menjawab dengan jujur. Bahkan mungkin saja ia akan menjawab dengan kalimat yang sama persis jika diberi pertanyaaan serupa.
Ketiga orang yang masih duduk diruang tunggu serentak bernapas lega ketika Rania muncul dari balik pintu yang dibuka pak Rudi. Keduanya tersenyum ke arah ketiga orang itu.
"Tunggu di sini dulu." Kata pak Rudi kemudian berlalu kembali ke dalam.
"Bagaimana mbak?." Pak Fandi tidak sabar menunggu Rania duduk.
__ADS_1
"Saya baru ditetapkan sebagai saksi. Jadi tidak ditahan asalkan ada keluarga yang bisa menjamin pak." Seketika Diah memeluk Rania. Giliran dia yang menangis haru.
"Berarti kamu tidak perlu khawatir lagi. Temanku di rumah sakit baru memberi kabar kalau Reza sudah melewati masa kritisnya."