
Wajah Reza tampak terkejut, belum sepenuhnya menyadari apa yang terjadi. Kemudian badannya roboh menimpa Rania yang masih telentang.
Sekuat tenaga Rania mendorong tubuh Reza dengan tangan gemetar.
Kembali ia terbatuk-batuk untuk mengurangi sesak di dadanya. Rasanya benar-benar seperti mimpi, Tapi tubuh Reza yang tergolek tengkurap dan darah yang mulai menggenang di lantai kamarnya membuatnya tersadar kalau ini kenyataan. Bau anyir darah seperti besi berkarat menguar memenuhi rongga hidungnya, mengaduk perutnya dan membuat kepalanya berputar.
Perlahan gadis itu bangkit dengan tangan kanan bertumpu pada kasur. Matanya memutari setiap inci seprei berwarna bunga-bunga itu untuk mencari ponselnya. Tak mungkin tetap seperti ini, ia harus menghubungi seseorang. Diah, hanya itu nama yang terlintas di pikirannya.
"Diah, kemarilah, tolong aku. Sekarang." Rania mengirin pesan suara karena mengetik terlalu lama.
Ting.
"Ada apa? Jangan menakutiku Ran." Langsung mendapat jawaban dari Diah dalam nada terkejut.
"Cepatlah, aku membunuh orang. Lapor polisi sekalian." Begitu kalimatnya selesai, ponsel ditangannya langsung terjatuh. Jawaban dari Diah tak sempat dibukanya.
Dengan ketakutan Rania beringsut ke pintu, membukanya lebar-lebar dan merapat ke tembok dekat pintu, tubuhnya merosot di sana, kemudian menarik selumut untuk menutupi tubuhnya karena celana pendek yang dikenakannya tadi sudah tidak berbentuk. Dilihatnya nafas Reza yang naik turun satu satu, sangat perlahan. Rania tak sanggup memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Bagaimana kalau orang itu mati? Sepertinya lukanya lumayan dalam, tepat di tempurung kepala bagian belakang. Kalau menurut pelajaran Biologinya waktu SMP dulu, seharusnya didalamnya terdapat otak besar.
Kalau Reza sampai meninggal aku pasti masuk penjara. Ya Tuhan, aku harus bagaimana?
Rania menangis tanpa suara, tenggorokannya sampai sakit. Ia ingin keluar mencari pertolongan, tapi kakinya kebas dan lemas, sama sekali tak bisa bergerak.
Menunggu Diah datang terasa lama sekali, hingga akhirnya ia ingat bu Sari.
"Halo mbak." Bu Sari langsung menjawab begitu ponselnya berdering. Suaranya renyah seperti biasa.
"Halo mbak Rania. Apa ada pesanan lagi?. Tenang, saya nganggur ini."
"Tolong kesini bu, saya butuh bantuan." Rania berusaha membuat suaranya sejelas mungkin.
"Kenapa mbak?. Mbak Rania sakit?."
"Ajak pak RT bu." Rania tak menjawab pertanyaan bu Sari. Kepalanya berputar lagi, bukan, sekarang malah pandangannya gelap, banyak kunang-kunang bertebaran di depan matanya
__ADS_1
...***...
Diah kebingungan karena Rania tak menjawab teleponnya. Sambil mengeluarkan motornya dari garasi ia berusaha menghubungi Dandy tapi tetap tidak tersambung. Tidak ada orang di rumah selain mbak Mirna, ayah ibunya sudah berangkat ke pasar. Masih dalam kebingungan ia melaju menuju kantor polisi terdekat, yang berlawanan arah dari rumah Rania.
Hari masih pagi, bahkan belum lewat jam delapan, tapi jalanan ramai sekali.
Sepanjang perjalanan ia memikirkan apa yang akan disampaikan pada polisi. Ia bahkan tak tahu apa yang terjadi. Ya ampun, Rania membunuh orang. Tidak mungkin. Tanpa sadar Diah menggeleng berkali-kali. Tangannya gemetar, seiring jantungnya yang berpacu seolah ingin melompat keluar dari rongga dadanya.
Ia hampir menabrak becak yang membawa gulungan kain ketika membelok di sebuah tikungan. Sumpah serapah keluar dari mulut tukang becak itu karena becaknya hampir terguling untuk menghindari Diah. Diah segera menepi dan berhenti, lalu berteriak minta maaf, disambut dengan nasehat untuk berkendara yang benar dari si tukang becak.
......***......
Bu Sari tergopoh-gopoh menuju rumah kost Rania, melupakan permintaan Rania untuk mengajak pak RT. Pasti terjadi sesuatu, gadis itu tidak pernah seperti itu sebelumnya. Setengah berlari wanita itu mematikan kompor, lalu bergegas pergi. Bu Sari berhenti di halaman, ragu sejenak karena pintu depan rumah kost itu tertutup rapat.
Tadi disuruh kesini, tapi kok pintunya ditutup ya.
"Mbak Rania?, Assalamualaikum." Tak terdengar jawaban.
"Mbak..."
"Mbak..." Sekali lagi iq berteriak.
"Lewat belakang bu." Sayup terdengar jawaban. Tanpa berpikir panjang bu Sari berjalan melewati samping rumah yang sempit menuju pintu belakang.
Rupanya pintu belakang terbuka sedikit. Bu Sari mendorongnya pelan supaya bisa masuk. Tanpa menutup kembali pintu kayu itu Bu Sari melangkah menuju kamar Rania yang pintunya terbuka lebar.
Suara tertahan keluar dari mulutnya yang refleks menganga begitu pandangannya menabrak sosok yang tergeletak tengkurap di lantai. Sesaat Bu Sari tidak tahu apa yang harus dilakukan. Hanya sosok itu yang tampak, tak ada Rania di sana.
"Mbak Rania, itu siapa?." Kalimat itu yang pertama keluar dari bibirnya yang tiba-tIba bergetar.
Darah yang sudah menggenang membuat wanita itu ingin muntah. Ketakutan seketika melarang kakinya melangkah masuk.
"Bu Sari, di sini." Suara lemah Rania terdengar dari dalam kamar.
__ADS_1
Dengan langkah perlahan bu Sari mendekat, melongkokkan kepalanya ke dalam, dan mendapati Rania terduduk di lantai di antara pintu dan tempat tidur.
"Ya Alloh mbak, apa yang terjadi?." Bu Sari jongkok di depan Rania, memegang tangan gadis itu yang sedingin jely.
Seolah beban di dadanya terburai Rania berteriak sambil memeluk Bu Sari yang masih kebingungan.
"Bu, Saya takut."
Rania menangis meraung-raung di pelukan bu Sari. Wanita itu mengelus punggung Rania tanpa tahu harus berkata apa.
"Tenang dulu mbak." Bu Sari berusaha menenangkan Rania dengan terus mengelus punggungnya. Dalam keadaan seperti ini Rania pasti masih shock dan tak bisa ditanyai.
Bahu gadis itu terus berguncang, tangisnya sudah tak sekencang tadi, tapi nafasnya tersendat-sendat menahan isakan.
"Bu, bagaimana kalau saya dipenjara?. Haa."
"Apa yang terjadi mbak?."
"Dia mau memperkosa saya bu, dan saya memukulnya dengan palu."
Bu Sari mengerutkan keningnya.
"Berarti mbak Rania membela diri."
Masih dalam pelukan bu Sari Rania mengangguk. Memang kenyataannya ia hanya membela diri. Tak ada niat untuk mencelakai Reza. Kalau dia tidak melawan, pasti dialah yang menjadi korban. Tapi sekarang malah ia menjadi tersangka dan Reza korbannya.
Ya Alloh, aku tak mau dipenjara. Bagaimana kalau bapak kena serangan jangtung mendengar berita ini? Apakah orang-orang akan percaya kalau aku hanya membela diri?
"Jangan takut mbak, pasti ada jalan keluar."
Di luar terdengar orang bercakap-cakap. Sepertinya Diah datang bersama polisi.
"Tolong buka pintunya bu."
__ADS_1
Bu Sari mendudukkan Rania di kursi ruang tamu, lalu bergegas membuka pintu sebelum pintu itu diketuk dari luar. Tampak Diah dan dua orang polisi begitu pintu dibuka. Diah segera masuk mendahului dua polisi itu begitu dilihatnya sahabatnya duduk dengan raut wajah yang tidak bisa dibaca. Wajahnya pucat dengan rambut acak-acakan, Di pegangnya tangan Rania yang terkulai di pangkuannya. Bu Sari membantunya merapikan selimut yang tadi dipakainya.
"Semua pasti akan baik-baik saja." Ucapnya pelan, tak yakin pada dirinya sendiri.