
Gadis itu hampir menangis ketika orang ltu mulai melepaskan kancing baju atasnya, teringat kalau ia tidak mengenakan br* sama sekali. Sialnya tangannya yang tadi dia gunakan untuk mencakar sekarang di satukan diatas kepalanya dan dipegang erat dengan tangan kiri oleh orang itu. Membuatnya tidak bisa melawan. Badannya terus meronta, beberapa kali lututnya yang berusaha menendang orang itu malah menendang sisi tempat tidur, membuatnya mengerang kesakitan berkali-kali.
Wajah Wira yang teduh melintas, Seolah menatapnya dengan sinis, mengejek karena bahkan suaminya itu belum pernah melihatnya memakai celana pendek.
Apa yang harus dikatakannya pada Wira nanti? Rania menjadi takut sekali. Seburuk apapun hubungan mereka selama ini Rania tetap tak bisa membayangkan bagaimana caranya menjelaskan pada Wira. Tak ada saksi, hanya dia dan penjahat itu yang tahu kejadian ini.
Dua kancing bajunya sudah terlepas. Orang itu menatap dadanya seperti melihat makanan lezat yang membuat liurnya menetes. Tangan kanannya menyisir permukaan kulitnya yang bersih. Ingin sekali Rania menyingkirkan tangan itu dan menc*ncang lelaki yang sedang menindih tubuhnya. Tapi badannya sudah tak bertenaga karena terus meronta dari tadi. Sekuat tenaga ia berusaha melepaskan kedua tangannya. Terdengar suara seperti kerupuk dipatahkan, sakit luar biasa. Mungkin keseleo karena berusaha melepaskan cekalan lelaki bed*bah itu. Air matanya tak tertahan karena merasakan sakit yang teramat sangat di pergelangan tangan kirinya.
"Tolong lepaskan tanganku." Suara gadis itu memelas, menyerupai rintihan. Wajahnya pucat pasi menahan sakit.
"Sudah menyerah?." Kembali mata bed*bah itu tampak menyeringai sekaligus mengejek. Rania mengunci mulutnya rapar-rapat.
"Seharusnya dari tadi kau mau bekerja sama, hingga tanganmu tak perlu terluka."
"Lepaskan aku." Gigi Rania bergemeletuk menahan amarah.
"Kalau kulepaskan, apakah kau akan melayaniku dengan senang hati, heh?."
"Jangan harap." Rania meludahi wajah yang tertutup ciet itu dengan marah. Kata-kata orang itu membuatnya jijik setengah mati.
"Kalau begitu diamlah. Nikmati saja, jangan berusaha melawanku lagi kalau tak mau tanganmu yang satunya lagi bernasib sama."
__ADS_1
karena disulut kemarahan setelah diludahi Rania, tangan lelaki itu semakin cepat membuka kancing yang tersisa. Menyingkirkannya hingga sekarang dada gadis itu terkekspos sempurna.
Rania menciut seketika. Rasanya ingin mati saja daripada melayani orang gila ini. Umpatan demi umpatan dan sumpah serapah keluar dari mulutnya.
Tamat sudah, tak ada pertolongan dan tak bisa membebaskan dirinya sendiri.
Semua orang pasti sudah berangkat bekerja. Cris anak pak Purnomo pasti sudah pergi ke sekolah, dan Serra yang masih balita sudah diantar ke day care karena orang tuanya bekerja. Rumah bu Sari terlalu jauh, ada di ujung gang.
Tak akan ada lagi yang bisa dibanggakannya, dipersembahkannya untuk orang yang kelak akan mendampingi hidupnya, entah itu Wira atau orang lain. Kalau saja ia lebih waspada, pasti ini semua tidak terjadi. Jelas-jelas beberapa hari yang lalu pintu rumah kostnya itu dirusak orang, tapi ia tetap teledor. Pasti tadi orang itu masuk lewat pintu belakang karena ia lupa menutupnya setelah menjemur pakaian tadi. Sekali lagi Rania merutuki kebodohannya, keteledorannya.
Air mata meleleh keluar di sela bulu matanya yang bergetar. Tidak hanya fisiknya, hatinyapun sakit luar biasa. Tapi nasi sudah menjadi bubur, lagi-lagi Rania menyalahkan nasib yang tak berpihak padanya. Setelah ini kalau ia masih hidup, entah apa yang akan dilakukannya. Mungkin ia akan pergi jauh dan tidak pernah kembali pada orang-orang yang ia sayangi. Padahal baru kemarin ia merasakan kembali kehangatan sikap ayahnya setelah sekian tahun. Dan berdekatan dengan Wira juga tidak seburuk yang dibayangkan sebelumnya.
Lelaki yang sedang menindih tubuhnya semakin kalap saja.Rania mengeluarkan suara melenguh yang aneh sambil memejamkan mata. Lelaki itu mendongak melihat wajah gadis itu yang memerah, tersenyum sekilas kemudian melanjutkan kegiatannya yang sempat terhenti.
"Lepaskan tanganku, aku kesakitan." Kata Rania dengan nafas tersengal.
"Masih ingin melawan lagi?." Tanyanya sambil memegang pergelangan tangan kanan gadis itu.
"Aku tak akan berani, tak akan ada orang yang datang." Jawab Rania dengan putus asa.
Begitu tangan kanannya terlepas, sambil menahan sakit di pergelangan tangan kiri ia berusaha menggeser posisinya agak ke kanan, menjauhi tempat tidur.
__ADS_1
"Kakiku tidak bisa bergerak." Ucapnya lagi masih dengan nafas tersengal.
"Seharusnya begini dari tadi, tidak perlu menendang tempat tidur yang hanya membuat lututmu memar." Lelaki itu melonggarkan jepitan kakinya dan membiarkan Rania bergeser sedikit menjauhi tempat tidur.
Rania melirik kesamping.
"Sedikit lagi." Bisiknya tertahan. Tangannya yang bisa bergerak bertumpu pada tengkuk lelaki itu untuk menggeser tubuhnya semakin ke kanan menjauhi dipan. Tak ada lagi perlawanan.
Tanpa banyak berpikir lelaki itu berdiri di atas kedua lututnya lalu melepaskan ikat pinggangnya yang besar dan melemparkannya ke atas kasur menyebabkan suara berdenting seperti uang koin. Jantung Rania bertalu semakin cepat melihat orang itu menanggalkan celana panjangnya, menyisakan celana boxer saja.
Seketika Rania mengenali orang itu karena ia sengaja menaikkan cietnya sampai ke ujung hidung. Reza, Pemilik toko buku dan fotocopy di seberang jalan besar. Pantas saja ia seperti mengenal suaranya, Rania sering kesana untuk keperluan fotocopy.
"Bagaimana?. Kau ingin tahu rasanya?." Reza tersenyum sambil memandang ke bagian bawah perutnya.
Rania menahan napas, Matanya yang tadi memandangi celana boxer itu sekarang beralih memandang wajah Reza yang kembali mendekati dadanya, kali ini tidak lagi duduk diatas perut dan menjepit tubuhnya seperti tadi, tetapi menekuk kedua lututnya di samping kiri tubuh Rania yang masih telentang setengah telanj*ng.
Reza melepaskan jaket hoody tebal dan kaos yang dikenakannya sekaligus, meleparnya ke atas ranjang disamping ikat pinggangnya tadi. Tampak Tato di dada kirinya, gambar perempuan dengan rambut acak-acakan yang hanya mengenakan celana robek, sementara tubuh bagian atasnya persis seperti Rania saat ini, topless. Terdengar hembusan nafas lega dari mulut gadis itu, membuat Reza mendongak, menatapnya dengan pandangan nakal dan mengedipkan sebelah matanya. Rania mengulas senyum samar, memegang kepala lelaki seumurannya itu dan mendekatkan lagi wajah lelaki itu ke dadanya yang masih terbuka.
Merasa tidak mendapatkan perlawanan lagi Reza menyingkirkan celana yang sudah dirobeknya tadi di bagian belakang. Rania menggigit bibir, menggapi sesuatu di bawah meja dengan tangan kanannya dan memukulkannya sekuat tenaga ke kepala Raza.
"Apa kau bilang tadi? Ingin tahu rasanya? Tentu saja."
__ADS_1