
Tangan Rania dingin dan gemetar dalam genggaman Diah. Beberapa orang polisi yang baru datang langsung masuk memeriksa keadaan Reza.
"Korban masih hidup." Kata salah seorang dari mereka. Seorang polisi lainnya tengah menggoreskan kapur atau entah apa di lantai mengelilingi tubuh Reza.
"Ambulance sudah dalam perjalanan, mungkin orang ini bisa tertolong."
Sekilas harapan menyeruak di hati Rania. Setakut apapun ia pada Reza, ia lebih takut kalau orang itu mati sekarang. Urusannya akan panjang. Hidupnya bisa berantakan karena entah berapa tahun harus mendekam di penjara. Darah gadis itu berdesir membayangkan hal terakhir yang dipikirkannya. Ruangan berjeruji yang bau, kotor dan dingin. Apakah itu setimpal untuknya? Tanpa sadar kembali ia menggeleng. Diah menepuk pundaknya perlahan tanpa mengucapkan apapun.
Pak Fandi, ketua RT datang tak lama kemudian bersama pak Mansur, pemilik rumah kost. Keduanya tampak bingung dan bertanya-tanya apa sebenarnya yang terjadi.
"Bantu minum dulu mbak." Bu Sari mengulurkan segelas air hangat pada Diah.
Susah payah Rania berusaha menelan air yang ada dalam mulutnya dengan bantuan Diah. Tangannya kebas, tak mampu sekedar memegang gelas.
Ambulance datang beberapa saat kemudian tapi tetap berada di jalan raya karena tak cukup masuk gang sempit itu. Dua orang perawat berseragam biru yang membawa tandu langsung masuk ke dalam rumah dan memeriksa keadaan Reza. Tak ada luka selain di kepalanya, sehingga mereka segera memindahkan tubuh Reza ke atas tandu dibantu seorang polisi.
Dua orang polisi mengikuti perawat yang membawa Reza ke rumah sakit. Sementara tiga orang lainnya tetap di lokasi kejadian.
Diah menuntun Rania ke dalam kamar untuk mengganti bajunya. Beberapa barang termasuk baju dan ponsel Rania dimasukkan ke dalam plastik untuk dijadikan barang bukti.
"Apakah anda mengenal orang itu?." Salah satu polisi duduk di kursi di depan Rania dan mulai mengajukan pertanyaan.
"Iya pak."
"Apa yang terjadi?." Salah seorang polisi lainnya mengeluarkan buku catatan dan mulai menulis.
"Saya hendak tidur sebentar karena semalam tidak bisa tidur dan siang nanti ada kuliah." Rania menarik napas dalam dalam sebelum melanjutkan. "Tiba-tiba dia masuk kamar saya dan mengunci pintunya dari dalam."
Rania berhenti lagi, tampak wajahnya pucat dan menjadi ketakutan lagi ketika mengingat bagaimana Reza masuk ke kamarnya. Ia menceritakan kejadiannya dengan terbata-bata dan sesekali terisak. Semua orang mendengarkan tanpa berani menyela.
__ADS_1
"Bolehkah saya menghubungi keluarga saya pak?." Tanyanya setelah selesai bercerita.
"Silakan mbak."
Ponsel yang tadi dimasukkan ke dalam plastik berisi barang bukti dikeluarkan lagi karena hanya di sana ada nomor telepon keluarga Rania.
Rania menekan nomor bapaknya, beberapa kali suara panggilan terdengar tapi tidak dijawab, biasanya jam segini bapak sudah ada di sawah, tak mungkin pegang ponsel. Beberapa kali mencoba tetap tidak ada jawaban. Rania menghubungi ibunya. Tapi sama saja. ibu pasti sedang sibuk di pasar.
Rania mulai cemas karena wajah polisi itu mulai tidak sabaran. Tapi mau bagaimana lagi. Tinggal Wira, satu-satunya harapan yang bisa dihubungi. Semoga saja ia tidak sedang sibuk dan melihat atau mendengar panggilannya. Dengan jari-jari yang gemetar Rania mencari nomor Wira di kontak. Untung saja meskipun tidak pernah berhubungan ia menyimpan nomornya. Beberapa kali berdering, Rania hampir bersorak ketika terdengar jawaban dari seberang.
"Halo." Bukan Wira yang menjawab, tapi suara seorang perempuan.
"Halo, mas Wira ada?." Sekuat tenaga Rania membuat suaranya sejelas mungkin dan tidak bergetar.
"Mas Wira sedang keluar sebentar mbak."
"Tolong nanti sampaikan ke mas Wira untuk menelepon balik ya mbak. Penting sekali."
Panggilan terputus. Sekilas Rania sempat bertanya dalam hati, siapa orang itu. Tapi rasa cemasnya mengalahkan rasa ingin tahunya. Siapapun dia, Rania berharap Wira akan segera pulang dan menelepon balik.
Setelah Rania lebih tenang kemudian mereka beranjak keluar rumah. Seorang polisi berkulit hitam gelap berjalan di samping Rania, tampak waspada. Tadi dia berpikir tangannya akan diborgol, ternyata tidak. Mungkin dia dianggap tidak berbahaya dan tidak mungkin melarikan diri. Diah mengikuti dari belakang, sedangkan bu Sari mengunci pintu lalu
pulang.
...***...
Mereka menaiki mobil polisi. Bayangan Rania tentang kendaraan tahanan berupa mobil pick up bak terbuka ternyata meleset. Ternyata polisi membawa mobil strada, ada jok penumpang di belakang.
Rania duduk di belakang barsama polisi berkulit gelap tadi, yang lainnya duduk di depan. Pak Fandi, pak Mansur dan Diah mengikuti dari belakang dengan motor masing-masing.
__ADS_1
Mobil membelah jalanan yang ramai, mobil polisi yang mereka tumpangi membaur dengan kendaraan lain. Rania melirik jam tangan di pergelangan tangan polisi di sampingnya. Belum jam sepuluh. Beberapa jam yang lalu ia adalah orang yang bebas kemana saja. Tapi tidak lagi sekarang. Entah kapan ia akan bernapas lega dan bebas berkeliaran lagi seperti biasanya.
Ponsel Rania berdering dalam plastik. Dengan sigap polisi di sebelah Rania melihatnya. Rania juga reflek melihat ke layar ponsel, berharap Wira atau bapaknya menelepon balik. Benar saja, nama Wira muncul di layar.
Polisi itu langsung menekan gambar telepon warna hijau, berbicara sebentar menanyakan siapa yang menelepon, apa hubungannya dengan Rania dan beberapa pertanyaan lainnya. Rania tak mendengar jawaban dari Wira, tapi dari suara polisi itu ia Tahu Wira akan segera ke sini.
Rania sigap meraih ponselnya ketika polisi itu mengulurkannya padanya.
"Mas, tolong." Rania tak mampu melanjutkan kata-katanya. Tangisnya tertahan di tenggorokan membuat suaranya seperti dicekik.
"Tenang dulu Ran. Tak akan terjadi apa-apa. Ceritakan pelan-pelan, ada apa?."
"Ada orang yang mau memperko*aku mas. Aku memukulnya dengan palu." Tak ada jawaban dari Wira. "Aku tak tahu dia hidup atau mati."
"Sekarang kamu tenang dulu. Aku akan segera ke sana bersama bapak."
"Iya mas."
"Ada temanmu di situ?."
"Diah ikut ke kantor polisi."
"Kami akan segera berangkat. Jangan takut." Sambungan terputus tanpa menunggu jawaban, Rania mengangguk.
Perjalanan ke kantor polisi serasa seabad lamanya. Terlebih lagi jalanan yang semakin ramai lalu lalang orang. Rania merasa setiap orang melihat ke arah mereka, meskipun dia sendiri tahu kenyataannya tidak seperti itu. Orang-orang itu bahkan tak tahu apa yang terjadi.
Tampak Diah bersama pak Fandi dan pak Mansur mengikuti di bekakang dengan motor masing-masing. Rania menghela napas dalam-dalam.
Untunglah ada Diah, dan dia ikut tanpa kuminta.. Mas Wira dan bapak akan butuh tiga jam lebih untuk sampai ke sini. Paling tidak aku tidak sendirian.
__ADS_1
Rania membuang pandangannya keluar jendela. Debu dan asap kendaraan beterbangan menjadi satu. Dihirup siapapun yang lewat.