
Ketegangan siang tadi begitu menguras pikiran Rania. Apalagi sebelum ia mendengar kabar bahwa Reza sudah melewati masa kritis. Bagaimana tidak, meskipun ia baru ditetapkan sebagai saksi, hidup mati Reza tetap akan mempengaruhi nasibnya.
Dandy juga sempat ke kantor polisi, tapi karena bukan keluarga ia tak bisa melakukan apa-apa.
Kedatangan Wira dan bapaknya seketika membuatnya begitu lega. Ia tidak harus menginap dikantor polisi karena entah bapak atau Wira yang memberikan jaminan. Mereka berdua langsung menemui polisi begitu datang.
Seorang polisi wanita bergelar dokter mengajak Rania masuk ke dalam ruangan untuk memeriksa fisiknya. Rania sempat ragu-ragu ketika polisi wanita itu menyuruhnya membuka baju. Tapi dengan tegas wanita tegap itu menjelaskan bahwa pemeriksaan fisik harus dilakukan untuk mendapatkan bukti sekecil apapun, termasuk mengambil foto lutut dan pergelangan tangannya yang memar kebiruan. Tak lama kemudian ia diperbolehkan pulang.
Sepanjang perjalanan Rania memeluk lengan bapaknya seolah mencari perlindungan. Sedangkan Wira fokus mengemudi.
"Ternyata bapak benar." Gumamnya
"Tentang?."
"Kemungkinan besar kunci pintu itu dirusak oleh orang yang mau berbuat jahat."
"Tapi belum tentu juga dia yang melakukannya nduk."
"Buktinya ada kejadian ini pak." Rania meremas tangan bapak. "Untung saja malam itu saya membantu Diah di rumahnya. Waktu pulang pintunya sudah rusak."
Bapak menghela napas panjang.
"Untungnya lagi kamu tadi bisa membela diri nduk."
"Tapi saya takut sekali pak. bagaimana kalau dia meninggal?."
"Jangan khawatir Ran, kamu adalah korban." Kali ini Wira yang menyahut.
"Ingat kasus pengusaha yang menembak mati perampok yang menyatroni rumahnya dan hampir memperkosa anaknya waktu itu?." Sambungnya.
"Tapi dia juga hampir mati kehabisan darah kalau tidak segera tertolong."
"Apa bedanya? Posisimu kurang lebih sama dengannya. Kamu atau dia yang akan mati kalau bantuan tidak segera datang."
Rania kembali mengingat-ingat kejadian yang sempat menjadi trending topik selama beberapa minggu hampir dua tahun yang lalu. Ketika rumah seorang pengusaha didatangi kawanan perampok. Memang akhirnya pengusaha itu bebas. Entah karena ia menyewa pengacara yang handal atau karena memang benar-benar hukum berpihak padanya.
"Apakah kita juga perlu menyewa pengacara?."
"Ku rasa tidak. Tapi kalau memang dibutuhkan kita bisa menyewa satu atau dua orang. Aku kenal salah satu dari mereka." Wira menjawab enteng.
"Biayanya pasti mahal mas, masak kita juga harus kehilangan banyak uang juga?." Jiwa pelit karena terlalu lama hidup mandiri membuat Rania berpikir berkali-kali untuk menyewa seorang pengacara. Apalagi dua.
"Jangan dipikirkan sekarang. Kita berdoa saja semoga orang itu segera sadar dan bisa membuat pernyataan."
"Benar nduk, jangan memikirkan yang tidak tidak."
__ADS_1
Dari kaca spion Wira melihat Rania meringis ketika tidak sengaja menggerakkan tangannya yang terkilir. Pergelangannya yang membiru sudah bengkak.
"Tanganmu harus di urut Ran."
"Sakit sekali mas, seharusnya tadi langsung diurut." Gumam Rania tak tahu harus menyalahkan siapa.
"Sebaiknya kita ke tukang urut dulu." Kata bapak, lalu melanjutkan. "Kamu sudah makan?."
"Sudah, tadi dibawakan kakaknya Diah."
"Bapak yang belum makan dari pagi. Tadi tidak mau makan saking tegangnya." Wira menyela.
Rania menatap bapaknya sedih. Kasih sayang bapak memang tidak pernah ditunjukkan, tapi bukan berarti tidak ada. Buktinya bahkan beliau tidak bisa menelan makanan begitu tahu anaknya dalam masalah.
"Gara-gara Rania, ya pak. Maaf." Mata Rania berkaca-kaca.
"Melihatmu baik-baik saja sekarang bapak baru merasa lapar." Bapak tertawa di akhir kalimatnya.
"Kalau begitu kita makan dulu." Wira membelokkan mobilnya kearah rumah makan prasmanan di tepi japan raya.
"Makan disini seperti makan masakan nenek di rumah." Gumam Rania, tapi kedua orang di sampingnya mendengarnya dengan jelas.
"Kamu sering ke sini?." Wira menoleh kearah Rania di kursi belakang.
Sekilas ada rasa sedih menyelinap. Karena malas bertemu orang tuanya Rania jadi enggan pulang. Sekuat tenaga menahan rindu pada neneknya sampai berbulan-bulan.
Setelah ini, apakah aku masih berkesempatan bertemu nenek?.
...****...
Sepanjang perjalanan pulang setelah mencari tukang urut tadi mereka kembali terdiam. Kendaraan ramai sekali karena hari hampir gelap dan sepertinya akan turun hujan. Jalanan penuh dengan lalu lalang orang pulang bekerja atau sekolah. Angin bertiup lebih kencang dari biasanya, menerbangkan debu dan beberapa sampah plastik yang dibuang orang sembarangan.
Jarak tempat praktek tukang urut dengan rumah kos Rania memang agak jauh. Mereka mendapatkan alamatnya setelah beberapa kali mencari alamat tukang urut terdekat di internet. Untungnya ada tukang pijat khusus keseleo beberapa kilometer dari rumah makan tadi meskipun arahnya berlawanan dengan arah rumah.
Setelah melewati beberapa kali perempatan berlampu merah mobil yang mereka kendarai sampai di depan gang rumah kost Rania. Ketiganya berjalan kaki memasuki gang setelah Wira memarkirkan mobilnya di tanah kosong pinggir jalan.
Rania bergegas mandi begitu sampai di rumah. Tapi masalah pertama dimulai. Tangannya yang bengkak dan diperban membuatnya sedikit kesulitan melepas baju. Beberapa kali ia memaksa melepas bajunya sendiri, tapi gagal karena satu tangannya benar-benar tidak bisa membantu. Sial, seharusnya tadi ia memakai baju berkancing depan, bukannya blouse dengan resliting di belakang. Mungking Diah juga tidak kepikiran dengan tangannya yang terkilir waktu membantunya berpakaian tadi. Dengan frustasi ia keluar dari kamar mandi mencari bantuan.
Matanya celingukan mencari bapak. Tapi sepi, tak terdengar ada suara di dalam rumah.
"Pak, Bapak." Rania mulai memanggil, tapi tak ada jawaban. Kebingungan tak tahu mereka berdua kemana Rania mendudukkan badannya di kursi dapur, tepat ketika Wira keluar dari Kamar. Kopyah hitam masih bertengger di kepalanya.
"Ada apa Ran?."
"Bapak kemana mas?."
__ADS_1
"Ke masjid. Katanya shalat di sini sempit."
"Ada apa?."
Rania bingung menyampaikan kesulitannya melepas baju. Jangan-jangan Wira mengira ia pura-pura supaya diperhatikan. Kan malu.
"Nunggu bapak saja."
"Bapak tadi bilang sekalian mau shalat isya' di sana. Apalagi ini malam Jumat, biasanya bapak lama di masjid."
Waduh, bisa-bisa nggak mandi kalau menunggu bapak pulang.
Rania terdiam. Tak tahu harus bilang apa.
"Kamu butuh bantuan?. Bilang saja."
"Aku tidak bisa mandi. Maksudnya tidak bisa membuka baju." Rania menggigit bibir bawahnya begitu kalimatnya selesai.
"Oooh, sini ku bantu."
Tanpa sadar Rania menarik kepalanya ke belakang. Wira tertawa.
"Memangnya kenapa?. Cuma melepas baju kan?."
Iya, cuma melepas baju. Masalahnya, bagaimana bisa kamu membantuku melepas baju. Mentang-mentang kita sudah mulai bicara, bukan berarti aku bisa menjalani rumah tangga secepatnya.
"Tapi.."
"Tidak usah malu, aku tidak akan melihat."
"Caranya?."
"Kau boleh ambil kain, tutup mataku." Sekali lagi tawanya terdengar. "Ayo Ran, aku serius."
Tak berpikir dua kali Rania mengambil lap yang ada di lemari. Menyuruh Wira menutup matanya dengan kain itu sambil menahan senyum. Wira tampak terkejut, tapi menerima kain lap itu dan mengikatkannya ke kepalanya sendiri.
"Untung kainnya bersih." Rania tertawa mendengar Wira menggerutu pelan.
Wira membantu Rania melepas blousenya dengan hati-hati. Dari membuka resliting belakang, melepaskannya dari bagian kepala lalu sebelah tangannya. Tinggal bagian tangan yang diperban, Rania melepasnya sendiri dengan hati-hati.
"Jangan buka tutupnya dulu sebelum aku masuk kamar mandi." Rania berjalan ke arah kamar mandi dengan blousenya tersampir di bahu. Dadanya hanya tertutup bra warna hitam.
"Oke." Sekilas senyum tampak di bibir Wira.
Memang harus sabar menghadapinya.
__ADS_1