
Rania menepuk keningnya perlahan. Tersenyum jengah mengingat kejadian pernikahan dadakan itu. Setelah ijab kabul diucapkan, semua saksi menyatakan sah, mereka resmi menjadi suami istri. Tapi benar-benar di luar dugaannya. Sebenarnya Wira juga tak menginginkan pernikahan ini. Ia hanya menuruti keinginan orang tuanya untuk segera menikah. Meskipun wajahnya tidak terlalu tampan, info dari bik Nani, tetangga depan rumah yang sempat mengantar sarapannya ke kamar tadi pagi sebelum tukang rias datang, dia pemuda yang baik, tidak pernah satu kalipun membuat ulah. Pekerja keras yang sudah memulai usahanya sendiri sejak masih kuliah. Pemuda seperti Wira memang menjadi incaran gadis-gadis untuk menjadi suami dan idaman para orang tua untuk menjadikannya menantu. Ternyata Bibi Erna begitu risih karena setiap hari ada saja gadis yang datang ke rumah mencari anak laki-lakinya yang memang sudah pantas berumah tangga itu. Sedangkan Wira tidak pernah menanggapi mereka. Meninggalkan pekerjaan tambahan untuk ibunya, menemani gadis-gadis itu ngobrol menunggu Wira yang kabur entah kemana.
Setelah semua tamu dan penghulu pulang mereka tetap berada di ruang tamu, membahas rencana selanjutnya. Bagaikan mimpi, Rania tidak percaya ketika orang tuanya dan orang tua Wira menyerahkan keputusan untuk tinggal bersama atau tidak kepada mereka berdua. Mereka butuh waktu untuk saling mengenal lebih dekat. Itulah alasan para orang tua itu. Dan hal terbesarnya adalah, Wira tidak menuntut Rania untuk menjalani hidup sebagai istrinya saat itu juga.
Sekali terlintas di benak Rania bahwa ia cuma dijadikan alat oleh keluarga Wira. Tapi masa bodoh, yang penting ia tidak harus menjalani pernikahan gila ini. Tak terbayangkan rasanya ia tinggal satu rumah dengan pemuda yang seumur hidupnya belum pernah ngobrol lebih dari lima menit dengannya itu. Paling tidak dalam waktu dekat dia bisa mencari cara untuk lepas dari tali pernikahan itu.
Dan biginilah adanya, kenyataannya sampai sekarang ia tetap bisa melanjutkan hidupnya. Kembali pada rutinitas seperti biasanya hingga hampir menyelesaikan skripsi.Semua orang tidak pernah bertanya kapan ia akan menjalani pernikahannya dengan sunggug-sungguh. Tidak bertemu Wira lagi sejak hari akad nikah dan membuat hubungannya dengan orang tuanya semakin renggang karena semakin jarang pulang. Dia tak pernah menceritakan pernikahan itu pada siapapun. Bahkan tidak pada Diah. Biarlah ini menjadi rahasianya sendiri.
Lampu jalan masuk gang rumahnya berpendar menerangi jalan yang sempit itu. Beberapa rumah sudah menutup pintu, penghuninya mungkin sudah larut terbawa mimpi. Hanya ada satu dua yang lampunya masih menyala. Rania menghentikan motornya di depan pintu lalu turun sambil merogoh saku celana tempat ia menyimpan kunci. Sengaja tadi ia meminta bu Sari untuk membawa kunci yang satunya karena ia tahu akan pulang agak larut, kasihan kalau harus membangunkannya hanya untuk meminta kunci.
Di bawah temaram lampu teras Rania memasukkan kunci dan memutarnya. Tapi aneh, kok tidak terkunci?. Jangan-jangan bu Sari lupa mengunci pintu. Perlahan ia membuka pintu kayu itu dengan tangan kirinya. Benar, pintu memang tidak terkunci. Gelap menyambutnya begitu pintu terbuka. Tangannya meraba sisi kanan pintu untuk menekan saklar lampu. Ruang tamu langsung benderang ketika lampu enam puluh watt itu menyala.
Setelah memasukkan motornya ke ruang tamu ia menyalakan semua lampu, lalu menarik kunci hendak mengunci pintu dari dalam. Tapi kuncinya tidak bisa di lepas. Ini aneh, tidak biasanya seperti ini. Tidak mungkin bu Sari ceroboh mengunci pintu sampai kuncinya rusak. Penasaran gadis itu mendekatkan wajahnya ke lubang kunci. Benar saja. Besi lubang kuncinya agak miring, tidak lagi melekat tepat di tempatnya semula. Seperti baru dibuka paksa. Batinnya bergidik. Tapi siapa yang ingin memaksa masuk? Tak mungkin pencuri, tak ada barang berharga yang bisa dicuri di sini. Yang ada cuma meja, kursi, lemari dan peralatan dapur. Di sini bhakan tak ada dipan, kasur spon hanya di taruh begitu saja di lantai.
Dengan cemas dan takut diperiksanya semua kamar sambil membawa palu kecil yang tergeletak diatas meja. Untung tadi ia lupa menyimpan kembali palu itu setelah membendel buku. Hanya ada tiga kamar, termasuk kamarnya sendiri dan kamar yang tadinya di sewa mbak Siska dan mas Anang suaminya. Tak lupa ia juga mengecek semua kamar mandi, dapur dan pintu belakang sebelum kembali ke ruang tamu. Khawatir jangan-jangan ada yang bersembunyi di dalam rumah. Rania tak berani membayangkan kalau ada yang bersembunyi dan berbuat jahat nantinya. Mana ada orang baik yang masuk rumah orang tanpa permisi? Mencongkel pintu lagi.
__ADS_1
Yakin tak ada orang lain di dalam rumah, Rania mengunci pintu depan dengan kunci grendel karena slotnya sudah rusak, tapi tidak mematikan semua lampu. Bukannya paranoid, sejak ia tinggal sendirian, ia menjadi lebih waspada. Gadis itu takut ada orang menyelinap masuk waktu ia keluar. Jangan-jangan ada orang jahat yang akan melakukan sesuatu ketika ia tertidur.
Sebelum tidur ia memang selalu memastikan semua pintu dan jendela terkunci. Tapi kali ini, dengan adanya kejadian pintu rumahnya dicongkel orang, ia jadi takut gelap. Membayangkan tiba-tiba ada orang muncul dari balik kegelapan menyergapnya. Berbagai adegan penculikan dalam film melintas di kepalanya. Mulai dari penculilan anak mafia, anak pejabat yang menghina teman sekolahnya, sampai perampok yang tidak segan membunuh pemilik rumah yang dirampoknya.
Rania bergidik ngeri, tapi tak ada alasan orang ingin menculiknya kan? Ia bukan anak pejabat, atau anak mafia, bahkan ia tak punya barang berharga yang pantas untuk dirampok.
"Diah, sudah tidur?." Rania mengirim pesan singkat pada Diah, orang pertama yang melintas dipikirannya sambil membaringkan badannya di kasur.
"Belum. masih membantu bik Jum membereskan piring kotor. Ada apa?."
"Ada apa?."
"Pintu rumahku dicongkel orang."
"Hah?. Siapa?." Diah baru menyadari pertanyaannya itu tak akan terjawab ketika Rania langsung menjawab.
__ADS_1
"Mana ku tahu. Aku baru pulang dari rumahmu."
"Jangan-jangan orang jahat Ran. Biar kak Dandy menjemputmu ya. Menginap di rumahku saja malam ini."
"Gimana ya, sudah malam. Tidak usah, aku berani kok."
"Tapi kamu tidak apa-apa kan?. Jangan lupa mengunci semua pintu dan jendela."
"Sudah."
"Kalau ada apa-apa segera telepon aku ya Ran."
Rania mengangguk tapi buru-buru menjawab ketika menyadari Diah tak bisa melihatnya. "Iya, pasti."
Tak menunggu lama setelah telepon ditutup, rasa letih karena aktifitasnya seharian tadi membuat gadis itu terlelap hanyut ke alam mimpi.
__ADS_1