Sistem: Antagonis Kejam

Sistem: Antagonis Kejam
21. Kencan Buta


__ADS_3

Mulai hari ini, tokoh Laura, kita fokuskan pada nama Vena, kecuali tokoh utama kembali kepada keadaannya menjadi Laura, yah?


...****************...


"Apa? Kenapa harus dengan orang yang Papa kenalkan?" Vena tersentak dengan titah pria paruh baya yang masih terlihat gagah ini.


"Soalnya, Papa lebih mengenal dia. Papa sudah mengetahui bagaimana karakteristik dia. Tidak hanya itu, Papa pasti tahu bagaimana bibit, bebet, dan bobotnya," terang sang ayah.


"Sepertinya Papa ingin menjualku kepada laki-laki pilihan Papa itu." Vena kembali tegak, dan menghindari ayahnya yang terus menahan dirinya.


"Vena, kamu harus menikah! Papa ini ingin menimang cucu darimu! Jangan kabur dan terus kabur seperti ini!"


Vena tidak menjawab sorakan yang keluar dari mulut sang ayah. Hingga pada akhirnya, Vena keluar meninggalkan rumah tempat ia dibesarkan, kembali pada tempat ia melepaskan penat.


Vena pun telah sampai di tempat ia pulang. Ia melemparkan tas yang berlabelkan G dan C. Setelah itu ia melemparkan tubuhnya sendiri pada sofa empuk yang merupakan pilihan sang antagonis yang ia tulis.

__ADS_1


"Vena ... Vena ... Entah kenapa kamu harus kutulis menjadi antagonis?" gumam Laura, yang ada dalam diri Vena.


Wajah yang biasanya kaku pada sang pemilik tubuh, kini ia mainkan, menatap cermin yang sengaja dipasang oleh Vena berada tepat di belakang tivi.


"Entah kenapa aku menulis Vena menjadi jahat ya? Kalau tahu begini, lebih baik aku buat Vena menjadi baik, Elsa menjadi baik, Fernando Jose pun baik, mungkin semuanya akan baik-baik saja." Vena bermonolog sendiri memandangi wajahnya yang berada dalam pantulan cermin itu.


Vena terlihat merenung memikirkan sesuatu. Ia mencoba mengingat kembali adegan demi adegan yang ia tulis. Namun, hingga bagian ini, banyak cerita yang sudah lari dari semestinya.


"Pada bagian ini, seharusnya Vena sudah disidang sih ya?" gumamnya kembali.


Ponsel Vena bergetar, hingga membuyarkan segala yang ada dalam pikirannya. Pada ponselnya tertulis 'Papa' dan dengan malas ia menjawab panggilan tersebut membiarkannya mati tanpa dijawab.


"Buka pintu apartemenmu!" ucap yang di seberang panggilan.


Vena mengangkat wajahnya. "Ngapain ke sini?"

__ADS_1


"Cepat buka!" teriak seseorang yang ada di ujung panggilan membuat Vena menjauhkan ponsel dari telinganya.


Masih dengan malas, Vena melangkahkan kakinya, menekan tombol kunci otomatis dalam apartemennya ini. Setelah terdengar suara siulan, pintu pun terbuka. Tuan Adam mendorong pintu tersebut dengan kasar.


"Kamu ini, Papa belum selesai bicara sudah kabur duluan? Ayo segera ikut dengan Papa!" Tuan Adam pun menarik Vena tanpa memedulikan sikap Vena yang terus meronta.


Pria paruh baya yang terlihat tampan meski telah dimakan usia, menarik Vena turun melewati elevator, menuju baseman di mana mobil mewahnya terparkir.


Vena tidak bisa berbuat banyak karena sang ayah ini terus saja membuat ia berjalan tiada henti. Setelah memaksa Vena masuk ke dalam mobil, Tuan Adam membawa Vena menuju butik dan salon tempat langganan sang istri.


"Pa? Kenapa harus begini? Tanpa ini pun, aku paati tetap cantik," sungut Vena.


[ Sepertinya, ayahmu sedang memaksamu untuk acara kencan buta yang dia bicarakan tadi. Sepertinya kamu harus bersiap-siap untuk menemui pria yang akan dijodohkan denganmu! ] ucap Sistem.


Mendapat informasi dari Sistem barusan membuat Vena bangkit dan pergi meninggalkan salon meskipun penampilannya masih berantakan.

__ADS_1


...****************...



__ADS_2