
*Mohon Maaf Telat banget Updatenya, karena author banyak sekali kejar tayangnya 🙏🥺*
...****************...
[ Leon menyatakan ingin mengajakmu berkencan. Jika kamu bisa memanfaatkan dan menghancurkannya, maka kesempatanmu untuk kembali akan semakin besar. ]
[ Namun, jika kamu gagal, kamu akan merasakan hukuman seperti sebelumnya. ]
Vena menutup hidung dan mulutnya. Ia masih jelas mengingat dar*ah yang muncul setelah menolak misi yang diberikan oleh Sistem. Dan rasanya sungguh sangat tidak menyenangkan.
"Apa maksudmu?" tanya Vena pura-pura tidak paham.
"Apa kah aku boleh mengenalmu lebih dari ini?"
"Ha ha ha ... apa kamu serius mengajakku pacaran?" Venna terkekeh dan suara tawanya terdengar sedikit brutal
Leon menarik tangan Vena dan hendak diciumnya persis seperti malam itu. Vena refleks menarik tangan dan menyimpan tangan itu dalam pelukannya sendiri.
"Kamu terlalu cepat memutuskan."
[ Ingat! Jika kamu berhasil menjatuhkannya, kamu akan semakin dekat mengakhiri cerita ini. ]
[ Atau kamu menginginkan kejadian yang persis sama dengan cerita sebenarnya? ]
Vena menggelengkan kepalanya dengan cepat.
__ADS_1
"Apakah kamu sudah memiliki pria yang kamu suka?" tanya Leon.
Vena masih sibuk mendengar pengarahan dari Sistem yang mengontrolnya dari dalam benak. Ia tidak mendengar apa yang diucapkan oleh Leon.
"Nona Vena? Apa kamu mendengar ucapanku?"
Vena masih tidak mengubris Leon. Hal ini membuat Leon memegang bahu Vena dan gadis itu tersentak hebat menepis tangan yang dirasa sedikit kurang sopan.
Leon hampir terjatuh mendapat serangan yang sangat tiba-tiba itu dan ia pun tertawa sembari bertepuk tangan.
"Maaf, aku tidak mendengar ..." ucap Vena menangkupkan kedua tangannya.
"Kamu sungguh ajaib, dan wanita pertama yang membuatku penasaran."
Vena menatap Leon tanpa ekspresi. "Dari pernyataanmu barusan, aku menyangka kamu telah memiliki banyak wanita yang singgah dalam kehidupanmu."
Vena berjalan menuju jendela kantor yang memamerkan pemandangan langit biru dan hamparan bangunan-bangunan sekeliling yang terlihat kecil.
"Lucu sekali memang, tadi malam kita berjumpa, siang ini berjumpa kembali dengan alasan bisnis dan kerja sama."
Leon tak bergeming dalam beberapa waktu. Ia memilih berjalan turut mengambil posisi berdiri pada jendela lebar itu, memandang pemandangan yang persis sama dilihat oleh Vena. Kedua jempol pada tangannya, dijepit pada kantong celana.
"Aku tahu, kamu pasti akan mencurigaiku karena hal ini."
Vena mengedikkan bahu. "Aku tidak menahamimu dengan kata 'mencurigai.' Yang aku tahu, ini adalah sebuah kejutan, bertemu orang yang sama, dengan kondisi berbeda."
__ADS_1
Leon mengusap dagunya, masih memandangi alam bebas di luar gedung. "Jadi, bagaimana? Apakah kita bisa melanjutkan hubungan ke arah yang lebih serius?"
Vena terlihat masih dalam keadaan diam. Lalu, tak lama kemudian akhirnya ia mengulurkan tangan, untuk mematuhi perintah Sistem.
"Deal, kita bisa mencoba." Tangan Vena mengambang menunggu disambut oleh Leon.
Leon terlihat heran dengan tangan itu. "Apa kamu pikir ini bagai kerja sama bisnis? Hubungan kita tidak ada sangkut pautnya dengan bisnis yang akan kita garap."
Vena tersenyum kecut. "Jika tangan ini belum kamu sambut, maka aku menganggap pernyataan cintamu barusan hanya lah omong kosong belaka." Vena hendak menurunkan uluran tangannya.
Namun, Leon dengan cepat menahan dan menyambutnya. "Oke, anggap saja percintaan kita telah resmi. Saat ini kita adalah sepasang kekasih."
*
*
*
Seperti rencana, Vena dan Leon bertugas untuk mengobservasi lokasi rumah yang akan mereka jadikan sebagai latar dalam film horor yang akan mereka garap.
"Ayo kita cek ke dalam!" Ajak Leon.
Mata Vena liar melirik ke kiri dan ke kanan. Kakinya terasa berat tak sanggup melangkah. Tubuhnya menjadi panas dingin.
__ADS_1
Leon menangkap reaksi wanita yang telah menjadi kekasihnya ini. Senyum tipis menghiasi bibirnya.