Sistem: Antagonis Kejam

Sistem: Antagonis Kejam
22. Dia Leon


__ADS_3

Tuan Adam yang menyadari kepergian sang putri, segera mencegatnya hingga tidak bergerak lagi. "Kamu mau ke mana?"


"Papa masih mau memaksaku untuk kencan buta itu?"


Tuan Adam menarik lengan Vena duduk kembali pada kursi di mana rambutnya sedang ditata oleh sang perias. Vena mengernyitkan wajah melipat tangan pada kedua dada.


"Maaf ya Nona, jangan beranjak dulu sebelum treatmennya selesai!"


"Brisik!" rutuk Vena memandang bayangan orang yang berdiri di belakangnya lewat pantulan cermin.


[Sistem memiliki ide untuk menghancurkan acara kencan buta itu. Jika kamu berhasil menghancurkannya, maka kamu akan mendapat reward satu nyawa untuk kembali ke duniamu.]


'Benarkah? Kenapa tidak dari dulu?'


[Kita lihat saja! Apakah kamu berhasil untuk menghancurkan acara malam ini?]


Usai berbicara dengan Sistem, Vena lebih menikmati saat hair stylist itu mengacak-acak rambutnya. Bibirnya mengulas senyum tipis, menatap wajahnya yang juga telah terias dengan cantik.


Kita lihat saja nanti.

__ADS_1


*


*


Vena merangkul tangan Tuan Adam berjalan, memasuki sebuah hotel bintang lima. Mereka langsung menuju restauran mewah yang ada di dalam sana. Tuan Adam telah mendapat informasi di mana lokasi pria yang akan melakukan kencan buta dengan Vena.


Kepala Vena telah berputar ke kiri dan ke kanan. "Di mana orangnya?"


Tuan Adam tersenyum melihat pada satu sisi. "Ayo! Sepertinya orang itu telah menunggu kedatanganmu."


Tuan Adam kembali berjalan menuju pada sebuah meja. Di sana, terlihat seorang laki-laki sedang berdiri dengan kepala tegak menatap mereka dengan lurus. Ketika Tuan Adam dan Vena telah berada dekat dengan meja tersebut, pemuda bersetelan jas hitam, senada dengan warna celana, dan sepatunya.


Pria berpotongan rambut klimis itu mendekat dan menyambut mereka. Usai menyalami Tuan Adam, ia memandangi wajah Vena yang memiliki aura yang sangat kuat. Tangannya ditengadahkan menyambut jemari ramping Vena yang masih merangkul ayahnya.


"Oh, tanganku kotor. Nanti kamu bisa sakit karena turun mencium kuman-kuman yang ada di sana," ucap Vena asal.


"Kamu jangan begitu Vena, kamu harus menghormati Leon! Dia ini anak mitra kerja Papa. Ayahnya, Roland selalu menawarkan kerja sama setiap proyek yang ditawarkan kepada perusahaannya. Setidaknya kamu bisa berkelakuan baik supaya papamu ini tidak malu di hadapan orang tuanya!" Tuan Adam terlihat gusar atas kelakuan sang putri.


"Oh, jadi namamu Leon?" ucap Vena sedikit lirikan memainkan jemari yang telah dipenuhi warna-warni cantik yang dibayar dengan harga tinggi.

__ADS_1


"Benar sekali, namaku Leon. Kamu pasti Vena? Putri kesayangan Tuan Adam yang telah tersohor di dalam layar televisi." Leon terus merendahkan hatinya, meski sebenarnya ia merasa kesal mendapat perlakuan yang tidak enak dari Vena.


"Sepertinya aku bukan orang seperti itu. Di sini aku hanyalah seorang putri dari pria yang biasa dipanggil Tuan Adam. Seorang wanita yang dipaksa untuk menemui pria random oleh Tuan A—"


"VENA?" Tuan Adam semakin panik melihat tingkah Vena yang semakin tidak terkendi. "JAGA SIKAPMU! Papa sudah memintamu untuk tidak membuatku malu!"


Vena yang terbiasa mendengar teriakan sang ayah, memilih beranjak menarik kursi yang ada pada meja itu. "Baik lah, malam ini kita mau makan malan saja, bukan?" Dagu Vena terangkat, dengan satu kakinya menyilang di atas paha.


"Kalau begitu, cukup sampai di sini dulu. Papa akan pulang, dan kamu harus baik-baik dengan Leon!" pamit Tuan Adam melambaikan tangan.


Leon menganggukkan kepala meski tubuhnya terlihat masih dalam posisi tegak. Ia melirik Vena yang telah duduk di kursi tanpa meliriknya sama sekali.


[ Bersiap lah! Dia akan memperlihatkan siapa dirinya yang sesungguhnya! ]


Mata Vena nanar melirik Leon setelah mendapat peringatan dari Sistem.


*


*

__ADS_1


*



__ADS_2