
"Yernyata, kekasihku yang terkenal tak memiliki kelemahan ini, ternyata memiliki rasa takut yang tinggi." ucap Leon, melirik Vena dari ujung matanya.
Vena memutar kepalanya melirik Leon, ada rasa kesal tiba-tiba meledak begitu saja karena ia merasa pria ini, memiliki teka-teki yang ingin ia paparkan kepada semua orang.
[ Apa kamu juga penasaran ada apa di balik ini semua? ]
Sistem di dalam otaknya kembali mengajaknya beradu argumen.
"Kamu sepertinya memang belum mengenalku, Sayang?" Vena menarik tangan Leon, berputar masuk ke dalam rangkulan Leon.
Pria itu melongo, laku beberapa waktu kemudia ia tertawa girang. Ia memasukan Vena dalam rangkulan erat.
"Ah, Sayang. Dengan begini, aku merasa lebih aman," ucap Vena menyandarkan keningnya pada pundak Leon.
"Oh, ternyata kamu suka seperti ini? Baik lah, aku akan melindungimu dalam pelukanku." Leon mencoba melangkahkan kakinya, tetapi nyatanya langkah itu terhalang.
__ADS_1
"Ternyatana kita sebagai manusia memang akan sulit melangkah dengan emoat kaki." Leon menarik tangan Vena, dan membuatnya memeluk erat lehernya.
"Apa yang kau lakukan?" Vena kaget dengan perlakuan Leon, ini.
Satu tangan memapah bagian punggung, satu lagi bagian paha. Tubuh Vena terangkat sempurna, tak lagi menginjakan kaki di atas bumi.
Vena tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya ini. "Aku tak menyangka, selain kamu jago meluluhkan hati wanita, kamu juga jago membuat wanita meleleh. Aku rasa, kamu pasti ahli dalam percintaan."
Leon tersenyum tipis, terus melangkahkan kakinya meski menahan bobot Vena yang semakin lama terasa semakin berat ketika menapaki anak tangga satu per satu.
Debaran jantung Vena terasa semakin kacau. Suasana gelap ditambah aura penuh tekanan, menbuat Vena memicingkan mata dan bersembunyi pada dada bidang pria yang jago menari India tersebut.
Vena merasakan deru napasnya begitu cepat dan denyut jantung, di mana saat ini ia bersandar, berdetak dengan sangat cepat, ritme tak beraturan.
Vena menikmati rasa lelah yang dialami oleh pria itu. Ia semakin memperkuat pegangan pada leher Leon, tak berniat untuk turun sama sekali.
__ADS_1
"Apa kamu semakin ketakutan?" tanya Leon yang semakin limpung oleh dekapan erat seorang Vena.
"Iya, Sayang. Aku takut sekali." Vena masih sibuk dengan drama ini. Dia seakan candu membuat Leon semakin kesusahan menahan bobot tubuhnya yang sudah mulai melorot dari tubuh pria perkasa itu.
Dengan perasaan sedikit putus asa, Leon mengangkat tubuh Vena. Tubuh Vena seakan mengambang beberapa detik ke atas.
Cup
Tubuh Vena kembali turun disambut oleh dekapan Leon yang semakin kuat. Netra Vena sama sekali tidak berkedip menghadapi kenyataan bahwa ia baru saja mengecup leher Leon dengan tidak sengaja.
"Ternyata, kamu menyukai hal-hal seperti ini. Apa kamu yakin, hanya akan mencium bagian itu?" Leon tanpa berpikir panjang menurunkan wajahnya mengangkat Vena dengan sekuat sisa tenaga yang ia miliki.
Cup
Bibir Leon kali ini mendarat pada bibir Vena. Hal ini membuat Vena melepaskan dekapan eratnya pada leher Leon, dengan seketika tubuh Vena turun dan kembali ditahan dengan sekuat tenaga oleh Leon. Namun, ternyata ia sudah tidak kuat lagi.
__ADS_1
Leon ambruk bersama dengan Vena.
"Aaaagghh ..." Hempasan pada tubuh Vena tak terelak, ditimpa oleh tubuh Leon yang membuat Vena jadi semakin kesakitan.