Sistem: Antagonis Kejam

Sistem: Antagonis Kejam
25. (Author ngantuk berat)


__ADS_3

[ Ingat! Perananmu menjadi antagonis di dalam cerita ini! Setidaknya kamu harus bisa memainkan peranmu dengan baik! ]


Vena mulai menanggalkan perhiasan baru yang diberikan oleh Tuan Adam tadi. Semua benda itu dipakai demi memberikan kesan yang baik terhadap pria yang ia temui malam ini. Meskipun Vena telah menolak mentah-mentah, Tuan Adam tetap tidak bisa dikalahkan olehnya dalam hal ini.


"Lalu kamu menginginkan seorang Rivena Claudya m*ti seperti apa yang aku tuliskan di dalam cerita sebenarnya?" ucap Vena menatapi dirinya yang masih penuh dalam riasan dalam pantulan cermin.


"Jika Rivena Claudya m*ti, aku akan ikut m*ti. Jadi itu yang kamu inginkan, Sistem?"


[ Jika kamu berhasil menjadi Antagonis, maka kamu akan aku kembalikan ke dunia asalmu! ]


"Bohong! Kamu hanya akan memperpendek umurku di dalam cerita ini kan?" Vena hanya memandangi dirinya melawan Sistem yang hanya bisa didengar dalam kepalanya.


[ Jika kamu tidak berada sini, mungkin Laura Marrie hanyalah sebuah kenangan, menjadi penulis gagal yang tew*s dalam sebuah kecelakaan. ]


"Cih! Terserah apa yang kamu katakan! Yang penting, aku sudah menikmati hidup menjadi seorang Vena. Kamu jangan kaget jika alur cerita ini entah lari ke mana-mana. Apa pun akan aku lakukan, asal aku tidak mati di dunia yang aku ciptakan ini."

__ADS_1


[ Jadi kamu lebih senang menjadi seorang antagonis bernama Vena dibanding menjadi diri sendiri Laura Marrie? ]


Vena tidak mengubris pertanyaan Sistem. Ia membersihkan riasan yang telah penuh menghiasi wajahnya.


[ Kamu mengabaikan ku? ]


Vena benar-benar diam. Di dalam benaknya kembali teringat pada masa di mana ia hanyalah penulis yang selalu dikejar-kejar dateline. Sementara di dalam dunia ciptaannya ini, meskipun ia hanya terletak pada tubuh seorang antagonis, setidaknya ia bisa menikmati semua fasilitas hidup yang tidak pernah ia dapatkan pada dunia Laura Marrie.


Pada suatu tempat Fernando Jose sedang memeriksa lemari pendingin makanan di dalam dapur. Tak ada lagi yang tersisa di dalamnya. Hanya ruang kosong tak memiliki benda yang bisa dikonsumsi atau pun diolah.


"Jika aku menggunakan sisa perang ini, maka tidak akan ada lagi yang bisa membantu kehidupanku setelah ini." Fernando Jose memilih menahan rasa laparnya malam ini. Kehidupannya bertolak belakang seratus delapan puluh derajat, dibanding sebelumnya.


tok


Tok

__ADS_1


Tok


Dari luar kos yang kini ia sewa, terdengar ketukan pada pintu yang menjadi tempatnya berteduh, saat ini. Fernando Jose pun berjalan membuka pintu melihat siapa yang baru saja hadir.


Wajahnya yang tadi meringis menahan lapar, kini berubah terlihat lebih ceria. Netranya terfokus pada benda yang dibawakan oleh gadis manis yang kini telah berada di hadapannya.


"Kamu pasti sangat kesulitan," ucap Elsa mengembangkan senyum di bibirnya.


"Kamu terlihat semakin cantik saja, setelah sekian lama kita tidak berjumpa." Fernando Jose menarik Elsa masuk ke ruang sempit tempat ia berteduh itu.


"Bagaimana keadaanmu? Sepertinya dia sudah membuatmu menjadi orang yang sukses." ucap Fernando Jose memperhatikan gadis yang dulu dipuja karena kesederhanaannya, kini terlihat mewah bagai selebriti di tanah air.


"Ambil lah! Aku tahu, saat ini adalah masa yang sulit bagimu." Elsa menyerahkan bungkusan yang berisi makanan yang sengaja ia belikan di luar sana.


"Apa kamu mengasihaniku?" tanyanya keberatan.

__ADS_1


"Dibilang mengasihani mah iya, ..."


__ADS_2